Harga Emas Dunia Menguat di Tengah Ketegangan Iran, Investor Berburu Safe Haven
Harga emas dunia kembali bergerak naik di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat investor semakin berhati-hati sehingga permintaan terhadap aset safe haven seperti emas meningkat.
Di saat yang sama, pelaku pasar juga tengah menunggu data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam waktu dekat. Data tersebut dianggap penting karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral serta kondisi ekonomi global.
Melansir dari Investing, Rabu, 11 Maret 2026, harga emas tercatat naik tipis dalam perdagangan Asia, seiring pasar mencerna berbagai sinyal yang saling bertentangan terkait konflik di Timur Tengah. Perhatian investor juga tertuju pada potensi gangguan di pasar energi serta kemungkinan berakhirnya konflik tersebut.
Harga emas spot naik sekitar 0,2 persen menjadi US$5.204,29 per ons atau setara sekitar Rp87,43 juta per ons (kurs Rp16.800). Sementara itu, kontrak berjangka emas justru turun sekitar 0,5 persen menjadi US$5.213,11 per ons atau setara sekitar Rp87,58 juta per ons.
Kenaikan harga pada Rabu membuat emas menembus kisaran perdagangan US$5.000 hingga US$5.200 per ons yang terjadi selama sepekan terakhir. Namun, pelaku pasar masih menilai apakah kenaikan tersebut dapat bertahan dalam jangka pendek.
Dalam beberapa minggu terakhir, harga emas memang mengalami volatilitas yang cukup tinggi. Logam mulia ini sempat turun tajam setelah sebelumnya menyentuh rekor mendekati US$5.600 per ons atau sekitar Rp94,08 juta per ons pada akhir Januari.
Kondisi geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang memicu fluktuasi harga tersebut. Sinyal yang saling bertentangan terkait perang Iran juga membuat pergerakan pasar menjadi tidak stabil.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyatakan bahwa konflik tersebut hampir berakhir. Namun hingga Rabu dini hari, serangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran masih terus berlangsung. Konflik tersebut bahkan telah memasuki hari ke-12 tanpa tanda-tanda mereda.
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, pasar juga khawatir bahwa lonjakan harga energi dapat memicu inflasi global yang lebih tinggi. Kondisi tersebut berpotensi mendorong bank sentral di berbagai negara mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat.
Kekhawatiran tersebut sempat menahan kenaikan harga emas meskipun permintaan terhadap aset aman meningkat cukup tajam. Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, emas biasanya menjadi pilihan utama investor karena dianggap mampu menjaga nilai aset.
Namun jika bank sentral menaikkan suku bunga lebih agresif, emas bisa kehilangan daya tarik karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya.
Fokus investor kini juga tertuju pada rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk Februari yang dijadwalkan keluar pada Rabu. Data tersebut diharapkan memberikan gambaran lebih jelas mengenai perkembangan inflasi di ekonomi terbesar dunia sekaligus arah kebijakan suku bunga ke depan.
Inflasi utama CPI diperkirakan tetap berada di level 2,4 persen secara tahunan, sementara inflasi inti diperkirakan bertahan di 2,5 persen. Meski demikian, angka tersebut kemungkinan belum sepenuhnya mencerminkan lonjakan harga energi yang dipicu konflik Iran.
Data CPI ini juga dirilis setelah laporan pasar tenaga kerja Amerika Serikat untuk Februari menunjukkan hasil yang jauh lebih lemah dari perkiraan. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa ekonomi AS mulai mengalami perlambatan.
Selain emas, logam mulia lainnya menunjukkan pergerakan yang lebih terbatas. Harga perak spot turun sekitar 0,1 persen menjadi US$88,22 per ons atau sekitar Rp1,48 juta per ons, sedangkan platinum spot naik sekitar 0,3 persen menjadi US$2.208,89 per ons atau setara Rp37,11 juta per ons.