Safe Haven Diburu! Harga Emas Melonjak Usai AS Tangkap Presiden Venezuela
Harga emas kembali menjadi sorotan pasar global pada awal 2026. Di tengah dinamika ekonomi dunia yang belum sepenuhnya stabil, logam mulia ini menunjukkan daya tahannya sebagai instrumen lindung nilai yang diandalkan investor.
Selain itu, pergerakan harga emas kali ini juga tidak lepas dari meningkatnya tensi geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Venezuela.
Sentimen geopolitik membuktikan perannya sebagai katalis utama pasar emas. Ketika risiko global meningkat, investor cenderung mengalihkan dana ke aset safe haven, termasuk emas. Situasi ini tercermin jelas dari lonjakan harga emas pada perdagangan awal pekan, seiring respons pasar terhadap perkembangan terbaru di Amerika Latin.
Melansir dari Mining, Selasa, 6 Januari 2026, harga emas mencatat kenaikan hampir 3 persen pada Senin. Hal ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Harga emas spot menyentuh level tertinggi dalam satu pekan di US$4.455,42 per ons atau setara Rp74,41 juta per ons, sekitar US$100 atau setara Rp1,67 juta di bawah rekor tertinggi yang tercatat pada akhir 2025. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS melonjak hingga US$4.480 per ons atau setara Rp74,82 juta per ons di New York.
Ilustrasi Emas.
Permintaan terhadap aset safe haven meningkat signifikan selama akhir pekan setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Venezuela dan menggulingkan Maduro. Aksi ini disebut sebagai intervensi paling langsung Washington di Amerika Latin sejak 1989.
Christopher Wong, analis di Oversea-Chinese Banking Corp. Singapura, menilai peristiwa tersebut memperkuat sentimen ketidakpastian global. Ia mengatakan, situasi ini memperkuat latar belakang ketidakpastian geopolitik.
Namun demikian, Wong menambahkan bahwa risiko jangka pendek masih relatif terbatas karena perkembangan di Venezuela mengarah pada penyelesaian yang relatif cepat, bukan konflik militer yang berkepanjangan.
Meski lonjakan harga emas cukup signifikan, sejumlah analis menilai dampak jangka panjang dari peristiwa geopolitik terhadap harga emas cenderung terbatas. Bernard Dahdah, analis di Natixis, menyampaikan bahwa analisis terhadap dampak jangka panjang peristiwa geopolitik menunjukkan dampak harga yang jauh lebih terbatas dari waktu ke waktu terhadap harga emas dibandingkan minyak.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun emas sensitif terhadap risiko global, reli yang dipicu geopolitik belum tentu bertahan lama tanpa dukungan faktor fundamental lainnya.
Sepanjang tahun lalu, harga emas mencatat kenaikan sebesar 64 persen. Kenaikan ini didorong oleh berbagai titik panas geopolitik serta siklus pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve AS. Ekspektasi penurunan suku bunga lebih lanjut, ditambah dengan pembelian emas oleh bank sentral dan aliran dana ke produk ETF berbasis emas, turut menopang tren kenaikan harga.
“Situasi di sekitar Venezuela jelas telah mengaktifkan kembali permintaan safe haven, tetapi hal ini terjadi di atas kekhawatiran yang sudah ada mengenai geopolitik, pasokan energi, dan kebijakan moneter,” ungkap Alexander Zumpfe, trader logam mulia di Heraeus Metals Jerman.
Sejumlah bank global bahkan memproyeksikan harga emas masih berpotensi naik sepanjang tahun ini. Goldman Sachs Group bulan lalu menyatakan skenario dasarnya adalah reli emas menuju US$4.900 per ons atau setara Rp81,83 juta per ons, dengan risiko kenaikan lebih lanjut.
“Pergerakan lain menuju rekor tertinggi baru kemungkinan akan dipicu jika ketegangan geopolitik meluas lebih jauh atau jika data ekonomi AS yang masuk memperkuat ekspektasi bahwa The Fed harus melonggarkan kebijakan secara lebih agresif dibandingkan yang saat ini diperhitungkan pasar,” papar Zumpfe menambahkan.
Selain Venezuela, Presiden AS Donald Trump juga memanfaatkan akhir pekan untuk kembali menyatakan ambisinya terhadap Greenland serta mengisyaratkan kemungkinan tindakan terhadap Kolombia dan Meksiko terkait aliran obat-obatan terlarang. Kombinasi faktor-faktor ini memperkuat persepsi risiko global dan menjaga daya tarik emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian.