Harga Emas Dunia Rebound! Bangkit dari Level Terendah dalam Sebulan
Harga emas dunia bangkit setelah menyetuh level terendah selama lebih dari satu bulan. Kenaikan harga ditopang penurunan nilai tukar dolar AS serta memudarnya optimisme pasar bahwa Federal Reserve AS (The Fed) akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
Harga emas di pasar spot tercatat naik 0,8 persen menjadi US$4.856,82 atau sekitar Rp 82,2 juta (estimasi kurs Rp 16.930 per dolar AS) per ons pada penutupan perdagangan Kamis, 19 Februari 2026. Pada sesi perdagangan di hari sebelumnya, harga logam mulia berwarna kuning ini anjlok 3,7 persen.
Analis KCM Trade, Tim Waterer, menjelaskan pelemahan dolar AS menjadi faktor utama mendorong pemulihan harga emas. Dengan dolar AS melemah maka membuat emas dianggap menjadi lebih aset yang murah bagi investor global.
“Momentum dolar sedang tertahan hari ini, sehingga memberi ruang bagi emas untuk mulai pulih, meski masih terbatas,” ujar Waterer dikutip dari CNBC Internasional, Jumat, 20 Maret 2026.
Ilustrasi dolar AS
Selain emas, harga logam mulia lainnya juga mencatat kenaikan signifikan. Perak naik 1,5 persen menjadi US$76,52 per ons, platinum menguat 0,6 persen ke US$2.035,25, dan paladium bertambah 1,2 persen ke level US$1.492,25 per ons.
Meski sempat menguat, harga emas masih mencatat tekanan dalam beberapa pekan terakhir. Sejak serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari, harga emas telah turun lebih dari 9 persen, tertekan oleh penguatan dolar yang kini menjadi aset safe haven utama.
Waterer meminta pelaku pasar waspada terhadap kenaikan harga emas masih dibayangi oleh ekspektasi kebijakan suku bunga AS di tengah konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Menurutnya, ketegangan geopolitik yang menyebabkan harga minyak meledak berpotensi menekan harga emas.
“Momentum dolar AS telah melambat hari ini, yang secara efektif memungkinkan emas untuk mulai pulih, meskipun dengan kecepatan yang moderat," lanjut Waterer.
Harga minyak global sempat terbang di atas level US$110 per barel setelah Iran menyerang sejumlah fasilitas energi di Timur Tengah, menyusul serangan terhadap ladang gas South Pars. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi.
Selain itu, penutupan Selat Hormuz turut mempertahankan harga minyak tetap tinggi karena jalur laut ini merupakan rute vital distribusi energi dunia. Kenaikan biaya energi berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan produksi secara global.
Secara teori, inflasi yang tinggi biasanya meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Namun di sisi lain, suku bunga tinggi justru menekan permintaan emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil.
Sikap hati-hati (hawkish) tidak hanya ditunjukkan oleh The Fed, tetapi juga oleh Bank of Canada. Kedua bank sentral ini sama-sama menahan suku bunga sambil menunggu (wait and see) risiko lonjakan inflasi akibat harga energi yang terus naik.