Harga Emas Global Terbang di Atas US$5.100, Aset Safe Haven Jadi Primadona
Harga emas dunia terus mencatatkan kenaikan pesat dan kembali menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all high time/ATH) pada perdagangan Selasa, 27 Januari 2026. Sentimen meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global yang mendorong investor memburu aset lindung nilai (safe haven) masih menjadi faktor pendorong reli logam mulia ini.
Harga emas spot melonjak 2,4 persen ke level US$5.136,47 atau sekitar Rp 85,6 juta (estimasi kurs Rp 16.680 per dolar AS) per ons troi. Lonjakan ini menandai pertama kalinya harga emas menembus level psikologis US$5.000 per ons yang sebelumnya telah dilewati pada perdagangan Senin, 26 Januari 2026.
Kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Februari ditutup relatif stabil di level US$5.082,60 per ons.
Sepanjang tahun berjalan, harga emas telah melesat lebih dari 18 persen sekaligus melanjutkan reli kuat pada tahun 2025. Kombinasi dari berbagai faktor menjadi pendorong harga emas kian melesat, mulai dari meningkatnya risiko geopolitik dan ekonomi global, ekspektasi pemangkasan suku bunga AS, hingga pembelian agresif oleh bank sentral di tengah tren de-dolarisasi global.
Ilustrasi Logam Mulia (Emas)
Seiring penguatan sentimen bullish, sejumlah lembaga keuangan global menaikkan proyeksi harga emas. Deutsche Bank dan Societe Generale memperkirakan harga emas berpotensi menembus US$6.000 atau Rp 100 juta per ons pada akhir tahun ini.
Aktivitas perdagangan di pasar derivatif juga mencetak rekor baru. Pada perdagangan Senin, 26 Januari 2026, CME Group mencatat kompleks logam mulia mencatatkan rekor transaksi harian sebanyak 3.338.528 kontrak atau melampaui rekor sebelumnya sebesar 2.829.666 kontrak yang tercipta pada bulan Oktober 2025.
Tak hanya emas, harga perak juga mencuri perhatian pasar. Harga perak spot melonjak 6,9 persen ke level US$111,11 per ons setelah sehari sebelumnya menyentuh rekor tertinggi di US$117,69 per ons.
Selama tahun 2026, harga perak meroket lebih dari 55 persen dan membukukan lonjakan 146 persen sepanjang tahun 2025.
“Akan ada volatilitas yang cukup tinggi ke depan, dengan risiko koreksi tajam pada harga perak,” ujar Perwakilan Bank of America, Widmer, dikutip dari CNBC Internasional pada Rabu, 28 Januari 2026.
Meski demikian, ia menilai perak berpotensi melanjutkan kenaikan menuju level US$170 per ons. Hal ini ditopang fundamental yang kuat serta aliran dana dari exchange-traded fund (ETF).
Sejalan dengan itu, Citigroup Inc. turut merevisi naik proyeksi harga perak jangka pendek menjadi US$150 per ons. Sebelumnya, perusahaan induk jasa keuangan ini menetapkan target harga perak di level US$100 per ons.
Di sisi lain, harga platinum justru terkoreksi 5,6 persen ke level US$2.604,38 per ons usai mencetak rekor US$2.918,80 per ons pada sesi perdagangan sebelumnya. Harga palladium juga melemah sekitar 4 persen ke posisi US$1.904,25 per ons.
Saat ini, pelaku pasar juga mencermati rapat kebijakan Federal Reserve AS (The Fed), khusunya tertuju pada konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell yang dijadwalkan pada Rabu, 28 Januari 2026, di tengah kekhawatiran independensi bank sentral AS. Pelaku pasar memprediksi bank sentral AS akan menahan suku bunga acuan.