Perang Iran Disebut Munculkan Rezim Baru yang Lebih Buruk

Ilustrasi perang Iran vs Israel
Ilustrasi perang Iran vs Israel

Perang antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari lalu menyebabkan pergantian rezim di Iran. Namun perubahan ini dinilai lebih buruk, demikian seperti laporan dari Wall Street Journal yang dirilis Rabu hari ini.

Laporan itu juga menyebut bahwa sebuah papan reklame di Tehran yang menampilkan gambar pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei menggambarkan ’mimpi buruk terbesar’ bagi penentang pemerintah yang sedang berkuasa.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

”Hal ini akan menjadi Iran yang termiliterisasi, dipimpin oleh pemimpin muda yang berhaluan keras, di mana Korps Garda Revolusi memainkan peran yang semakin dominan,” demikian bunyi laporan tersebut seperti dikutip dari laman Anadolu Agency, Rabu 15 April 2026.

Dalam laporan itu juga membahas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menyasar ibu kota Iran, Tehran. Serangan tersebut diketahui menyebabkan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei tewas. Kematian Ali Khamenei ini dapat membuka jalan bagi pergantian rezim atau setidaknya menghadirkan pemimpin yang lebih sejalan dengan kepentingan mereka.

Namun alih-alih mencapai tujuan tersebut, kekosongan kekuasaan justru diisi oleh pemimpin-pemimpin yang dinilai radikal dan tampaknya sebagian besar tidak bersedia melakukan kompromi politik baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional.

“Perang ini mengubah rezim dan bukan menjadi lebih baik. Kami menciptakan realitas yang lebih buruk daripada yang dihadapi warga Iran sebelumnya,” kata Danny Citrinowicz, yang sebelumnya memimpin desk Iran di intelijen militer Israel.

Kaum garis keras Iran kini mendominasi kepemimpinan politik dan militer negara tersebut, dipeyang rkuat oleh perang dan diyakini banyak dari mereka sebagai pertanda kembalinya seorang “mesias Muslim Syiah,” demikian laporan itu.