Disebut Kalah Total dari Iran, AS Bakal Hadapi Keruntuhan Permanen
Analis neokonservatif paling berpengaruh di Amerika Serikat, Robert Kagan membuat pengakuan yang cukup mengejutkan. Kagan menyebut AS kalah telak dalam perang yang sedang berlangsung melawan Iran. Dia juga menilai bahwa konflik tersebut telah merusak posisi global AS secara permanen.
“AS mengalami kekalahan total,” kata dia dikutip dari laman presstv.ir, Selasa 12 Mei 2026.
Kagan juga menggambarkan kekalahan tersebut sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah Amerika dan tidak bisa diperbaiki ataupun diabaikan.
Meski mengakui militer AS sebelumnya juga menimbulkan kerugian besar, namun Kagan melihat perang dengan Iran kali ini memiliki karakter yang jauh berbeda.
“Kekalahan di Vietnam dan Afghanistan memang mahal, tetapi tidak memberikan kerusakan permanen terhadap posisi keseluruhan Amerika di dunia. Namun kekalahan dalam konfrontasi saat ini dengan Iran akan memiliki dampak yang benar-benar berbeda,” tulis dia.
Menurut Kagan, inti dari bencana ini adalah kemampuan baru Iran dalam mengendalikan Selat Hormuz, jalur laut paling strategis di dunia, tanpa bisa ditantang pihak lain.
“Iran tidak hanya akan mampu memungut biaya bagi kapal yang melintas, tetapi juga membatasi akses hanya untuk negara-negara yang memiliki hubungan baik dengannya,” tulisnya.
Kagan menilai Iran tidak memiliki kepentingan untuk kembali pada situasi sebelum perang. Ia juga meyakini negara-negara Teluk Persia pada akhirnya tidak punya banyak pilihan selain menyesuaikan diri dengan Teheran, yang akan menjadikan negara tersebut sebagai kekuatan dominan baru di kawasan.
“Amerika Serikat akan terbukti hanya macan kertas, memaksa negara-negara Teluk dan negara Arab lainnya untuk menyesuaikan diri dengan Iran,” tulis Kagan.
Ia juga menepis anggapan bahwa koalisi sekutu AS bisa memperbaiki situasi tersebut.
“Jika Amerika Serikat dengan angkatan lautnya yang sangat kuat saja tidak mampu atau tidak mau membuka selat itu, maka koalisi mana pun yang hanya memiliki sebagian kecil kemampuan AS juga tidak akan mampu melakukannya,” katanya.
Kagan memandang kemunduran ini bukan sekadar kekalahan regional, melainkan kegagalan strategis global yang mengubah posisi Amerika di dunia.
“Dominasi Amerika di kawasan Teluk hanyalah korban pertama dari banyak konsekuensi lainnya. Sekutu-sekutu Amerika di Asia Timur dan Eropa kini pasti mempertanyakan daya tahan AS jika konflik besar kembali terjadi di masa depan,” ujarnya.
Situasi itu diperparah oleh menipisnya persediaan militer Amerika selama perang berlangsung, sesuatu yang menurutnya juga telah banyak diberitakan media AS.
“Hanya dalam beberapa pekan perang melawan negara kekuatan tingkat kedua, stok senjata Amerika sudah turun ke level yang berbahaya, tanpa solusi cepat yang terlihat,” tulisnya.
Ia menambahkan bahwa saat ini Amerika tidak lagi mampu mengendalikan dampak dari perang yang mereka mulai sendiri , perang yang menurutnya sudah kalah.
“Sekutu-sekutu Amerika pasti mempertanyakan kemampuan AS untuk bertahan dalam konflik-konflik berikutnya,” katanya.