Iran Disebut Siap Pindahkan Uranium ke Negara Ketiga, Tapi Tolak Bongkar Fasilitas Nuklir

Ilustrasi Minyak Iran
Ilustrasi Minyak Iran

Wall Street Journal baru-baru ini melaporkan terkait balasan Iran terhadap proposal terbaru Amerika Serikat untuk mengakhiri perang. Dalam laporan itu, Iran disebut bersedia mengencerkan sebagian uranium yang telah diperkaya tingkat tinggi sementara sisanya dikirim ke negara ketiga.

Namun di satu sisi, proposal balasan yang dikirimkan Iran juga meminta jaminan bahwa uranium yang dipindahkan itu akan dikembalikan jika perundingan dengan AS gagal. Dalam proposal itu juga, diketahui Iran tetap menolak pembongkaran fasilitas nuklirnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Wall Street Journal, tanggapan Iran terdiri dari beberapa halaman dan berisi usulan penghentian perang serta pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap. Meski begitu, kedua pihak masih berbeda jauh terkait masa depan program nuklir Iran.

Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, menyebut laporan Wall Street Journal soal penanganan material nuklir itu tidak benar, meski tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Pernyataan tersebut lebih menyoroti keinginan Iran untuk segera mengakhiri perang, pencabutan sanksi AS terhadap penjualan minyak Iran, penghentian blokade Amerika di Teluk Oman, dan pada akhirnya pengelolaan Selat Hormuz oleh Iran sendiri.

Konflik ini telah menewaskan ribuan orang di kawasan Timur Tengah dan membuat harga energi melonjak tajam.

Bahkan jika kedua pihak berhasil mencapai kesepakatan, mereka masih harus melakukan negosiasi lanjutan mengenai detail penanganan program nuklir Iran, yang hingga kini tetap menjadi hambatan utama.

Trump juga memperingatkan bahwa AS bisa mengambil langkah berbeda jika semuanya tidak segera disepakati dan dirampungkan. Pernyataan itu dianggap mengarah pada kemungkinan perluasan ’Project Freedom’, operasi singkat AS untuk mematahkan blokade maritim Iran dan mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur perairan tersebut.

Pada Minggu, Trump mengatakan Iran sedang memainkan permainan dengan Amerika Serikat dan negara-negara lain.

“Selama 47 tahun Iran terus mempermainkan kami, membuat kami menunggu, membunuh rakyat kami dengan bom pinggir jalan, menghancurkan aksi protes, dan baru-baru ini membantai 42 ribu demonstran tak bersenjata yang tidak bersalah, lalu menertawakan negara kita yang kini kembali hebat. Mereka tidak akan tertawa lagi,” tulis Trump di media sosial.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga memperingatkan bahwa perang ini belum berakhir. Dalam wawancara dengan program 60 Minutes di CBS yang tayang Minggu, ia mengatakan masih banyak hal yang harus dilakukan untuk menghancurkan kemampuan nuklir Iran dan menghilangkan stok uranium yang diperkaya tingkat tinggi milik Teheran.

Meski gencatan senjata telah berlaku sejak 8 April, serangan drone pada Minggu sempat membakar sebuah kapal kargo di lepas pantai Qatar di Teluk Persia. Insiden itu menjadi serangan terbaru terhadap pelayaran di kawasan tersebut.

Uni Emirat Arab dan Kuwait, yang dalam dua bulan terakhir juga sempat menjadi sasaran serangan Iran, mengatakan pada Minggu bahwa mereka berhasil mencegat drone-drone musuh.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, juga memperingatkan Inggris dan Prancis lewat unggahan di platform X bahwa kehadiran kapal perang mereka di Selat Hormuz akan dibalas dengan respons tegas dan segera dari angkatan bersenjata Republik Islam Iran.

Konflik yang dimulai sejak serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari itu telah mengguncang pasar minyak dan gas dunia. Lonjakan harga bahan bakar kini memberi tekanan besar terhadap pemerintah dan masyarakat global, termasuk di Amerika Serikat menjelang pemilu sela November mendatang.

Perusahaan minyak terbesar dunia, Saudi Aramco, pada Minggu memperingatkan bahwa pasar energi kemungkinan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali normal meski Selat Hormuz langsung dibuka kembali.

“Jika perdagangan dan pelayaran masih terganggu lebih dari beberapa minggu dari sekarang, kami memperkirakan gangguan pasokan akan terus berlanjut dan pasar baru akan normal kembali pada 2027,” kata CEO Saudi Aramco, Amin Nasser.

Di tengah krisis yang terus berlangsung, negara-negara ekonomi terbesar di Teluk mulai beradaptasi dan mencari cara agar sebagian ekspor energi mereka tetap bisa mencapai pasar.

Data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg menunjukkan kapal tanker Al Kharaitiyat yang membawa gas alam cair Qatar berhasil melintasi Selat Hormuz akhir pekan ini.

Itu menjadi ekspor pertama Qatar dari kawasan tersebut sejak krisis dimulai. Kapal itu diketahui menuju Pakistan, negara yang menjadi salah satu mediator penting dalam pembicaraan damai AS-Iran.

Pengiriman tersebut merupakan bagian dari negosiasi Pakistan dengan Iran agar Islamabad bisa memperoleh tambahan pasokan LNG Qatar untuk memenuhi kebutuhan energi mendesak.

Sementara itu, Saudi Aramco dan perusahaan minyak milik negara Uni Emirat Arab, Adnoc, termasuk di antara perusahaan yang tetap mengirimkan kargo minyak mentah melalui Selat Hormuz meski Iran secara efektif menutup jalur tersebut, menurut laporan Bloomberg.

Sebagian ekspor minyak Saudi lainnya juga dialihkan melalui jalur pipa menuju Laut Merah. Aramco bahkan melaporkan kenaikan laba kuartal pertama sebesar 26 persen pada Minggu, didorong kenaikan harga minyak dan bahan bakar olahan akibat perang serta penggunaan jalur alternatif tersebut.

Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, naik tipis dan ditutup di kisaran 101 dolar AS per barel pada Jumat. Namun secara mingguan, harga masih turun sekitar 6 persen.

Menteri Energi AS Chris Wright pada Minggu memberi sinyal bahwa Amerika Serikat mungkin akan lebih memprioritaskan pembukaan kembali Selat Hormuz dibanding tuntutannya agar Iran menghentikan program nuklirnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saat ditanya soal kemungkinan kesepakatan sementara yang belum sepenuhnya menyelesaikan isu nuklir Iran, Wright menjawab bahwa akan ada kemungkinan terjadi.

“Tentu saja, itu sangat mungkin terjadi,” kata dia.