Perang Iran vs Israel-AS Bikin Harga Plastik Meroket, Industri Daur Ulang Ketiban Untung

Ilustrasi Plastik
Ilustrasi Plastik

Perang yang melibatkan Iran tidak hanya memengaruhi distribusi minyak dunia, tetapi juga mengganggu pasokan bahan baku resin baru. Kondisi ini membuat banyak produsen mulai beralih ke plastik daur ulang sebagai alternatif yang lebih terjangkau.

Di Malaysia, pelaku industri daur ulang plastik mencatat lonjakan permintaan sejak serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Selain pasokan resin baru yang menipis, harga bahan baku baru juga melonjak tajam.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Managing Director Sannanda Rika, G. Aushal, mengatakan perusahaannya yang berbasis di Kapar, Selangor, kini menerima lebih banyak pesanan dari pelanggan luar negeri. Perusahaan tersebut mengolah limbah plastik dari Uni Eropa dan Jepang menjadi low-density polyethylene (LDPE) untuk kebutuhan kemasan industri, terpal, dan drip tape.

Setiap bulan, perusahaannya memproduksi hingga 500 ton material LDPE. Di pabrik yang berlokasi sekitar 50 kilometer dari Kuala Lumpur itu, limbah plastik seperti popok bekas dihancurkan dan diolah menjadi resin daur ulang.

Menurut Aushal, perang Iran telah berdampak langsung terhadap rantai pasok plastik global. “Perang Iran tidak hanya memengaruhi aliran minyak tetapi juga pasokan plastik,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari The Straits Times, Selasa, 28 April 2027.

Ia mencontohkan, salah satu pelanggan dari Singapura yang sebelumnya hanya memesan satu kali dalam sebulan kini meminta pengiriman hingga tiga kontainer berukuran 40 kaki setiap minggu. Satu kontainer biasanya memuat sekitar 27 hingga 28 ton.

Wakil Presiden Malaysia Plastic Recyclers Association, Will Low, mengatakan permintaan bahan daur ulang meningkat sekitar 20 persen hingga 30 persen sejak konflik memanas.

“Pada saat yang sama, harga beberapa bahan (baku plastik) meningkat lebih dari 50 hingga 60 persen. Karena itu, beberapa produsen mempercepat rencana untuk meningkatkan persentase bahan daur ulang dalam produk mereka,” katanya.

Ia menjelaskan, resin daur ulang kini menjadi pilihan strategis karena harganya umumnya 10 persen hingga 20 persen lebih murah dibanding resin virgin yang diproduksi langsung dari minyak mentah.

“Biasanya, harga akhir resin daur ulang 10 hingga 20 persen lebih rendah dibanding resin virgin yang diproduksi langsung dari minyak mentah. Kami mendorong pemerintah untuk menerapkan Extended Producer Responsibility (EPR) agar permintaan resin daur ulang meningkat,” ujarnya.

EPR merupakan kebijakan yang membuat produsen bertanggung jawab atas produk mereka sepanjang siklus hidupnya, termasuk untuk mengurangi limbah plastik. Pemerintah Malaysia menargetkan peningkatan kandungan bahan daur ulang dalam kemasan dari 10 persen pada 2023 menjadi 15 persen pada 2030.

Namun, resin daur ulang tidak bisa digunakan untuk semua jenis produk. Ketua Malaysian Plastics Manufacturers Association cabang Johor, Mike Tan, mengatakan sektor tertentu masih membutuhkan resin baru.

“Komponen elektronik presisi tinggi dan perangkat medis, termasuk beberapa alat pelindung diri, sering kali membutuhkan resin virgin karena memiliki ketahanan panas yang lebih baik dan sifat isolasi yang lebih kuat,” katanya.

Pelaku industri lainnya, yang hanya ingin dikenal sebagai Mr Chia, mengatakan kualitas resin akan menurun setiap kali melalui proses daur ulang. “Produk rumah tangga bisa menggunakan lebih banyak resin plastik daur ulang karena paling jauh hanya memengaruhi warna dengan risiko pecah yang lebih rendah. Namun, produk otomotif membutuhkan material berkualitas lebih tinggi karena resin daur ulang mungkin tidak memberikan daya tahan jangka panjang,” ujarnya.

Di tengah meningkatnya prospek industri ini, Malaysia juga masih menghadapi persoalan impor limbah plastik. Data United Nations Commodity Trade Statistics Database tahun 2025 menunjukkan Malaysia mengimpor limbah plastik senilai US$162 juta atau setara sekitar Rp2,75 triliun, dengan volume hampir 460.000 ton.

Jumlah tersebut menjadikan Malaysia sebagai importir limbah plastik terbesar ketiga di dunia setelah Belanda dan Amerika Serikat, serta meningkat tiga kali lipat dibanding satu dekade lalu. Namun, peneliti Monash University Malaysia menilai limbah domestik belum cukup berkualitas untuk menopang kebutuhan industri.

“Limbah tersebut tidak menghasilkan bahan baku yang cukup berkualitas dan tidak terkontaminasi untuk industri lokal.”

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Aushal mengatakan 70 hingga 80 persen bahan baku perusahaannya masih berasal dari luar negeri karena pasokannya lebih stabil dan kualitasnya lebih baik dibanding limbah domestik. Dalam jangka panjang, ia optimistis permintaan plastik daur ulang akan terus meningkat.

“Kekurangan resin baru telah mendorong banyak pihak meningkatkan penggunaan bahan daur ulang dalam produk mereka. Akibatnya, permintaan bahan daur ulang ke depan diperkirakan akan terus tumbuh, seiring produsen semakin memahami komposisinya,” ujarnya.