Mitos atau Fakta, Sedot Lemak Bisa Bikin Gemuk Lagi?
Di tengah tren perawatan tubuh dan prosedur estetika, liposuction sering dianggap sebagai cara pintas menuju tubuh ramping. Banyak orang berharap bisa keluar dari ruang operasi dengan lekuk tubuh ideal dan mempertahankannya tanpa usaha berarti.
Namun dalam praktik medis, fenomena yang muncul justru berbeda. Sebab, cukup banyak pasien yang mengalami rebound atau kembali gemuk, bahkan bertambah berat setelah beberapa bulan.
Apa yang salah? Scroll untuk info lebih lengkap yuk!
Menurut dokter spesialis Bedah Plastik Rekonstruktif dan Estetik di RS Pondok Indah (RSPI) dr. Ida Bagoes Insani, akar persoalannya adalah persepsi keliru bahwa liposuction adalah tindakan untuk menurunkan berat badan. Harapan inilah yang membuat pasien sering gagal menjaga hasil.
“Dari awal saya sudah mention bahwa liposuction bukan untuk menurunkan berat badan, bukan untuk menggantikan healthy lifestyle, dan bukan untuk menggantikan olahraga,” ujarnya di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Salah kaprah tersebut makin diperburuk oleh tren melakukan tindakan di luar negeri tanpa edukasi yang memadai setelahnya. dr. Bagoes mengaku banyak menemukan pasien yang mengalami rebound karena tidak tahu cara menjaga hasilnya.
“Saya sering lihat pasien yang operasi di luar negeri, hari ini lipo, pulang ke Indonesia, makan sembarangan, lifestyle nggak dijaga, akhirnya malah tambah gemuk dari sebelum dilipo.”
Bagi dr. Bagoes, masalahnya bukan pada teknis operasi, tetapi absennya pendampingan komprehensif. Untuk mencegah hal itu, RS Pondok Indah menerapkan pendekatan yang berbeda, berbasis data dan edukasi jangka panjang.
Sebelum tindakan, pasien menjalani Dexa Scan untuk mengetahui komposisi lemak tubuh. “Kami memakai Dexa Scan untuk screening dan evaluasi. Sebelum tindakan, dilakukan scan dulu supaya kita tahu komposisi lemak tubuh,” ujar dr. Bagoes.
Beberapa bulan pasca tindakan, pasien discan ulang untuk melihat perubahan angka secara objektif, yang justru menjadi motivasi kuat untuk mempertahankan gaya hidup sehat.
“Dokter hanya bertemu pasien paling lama 30 menit. Setelah itu yang memegang kendali adalah kesadaran pasien sendiri,” ungkapnya.
Ia selalu mengingatkan bahwa olahraga teratur, pola makan tinggi protein dan rendah lemak, serta menjaga berat badan adalah fondasi agar hasil liposuction bertahan lama.
Pada akhirnya, liposuction bukanlah proses ajaib yang membuat berat badan turun permanen. Prosedur ini hanya menghilangkan lemak di area tertentu sekaligus menjadi titik awal menuju gaya hidup yang lebih sehat.
“Lipo itu hanya trigger, titik awal untuk membangun gaya hidup sehat, bukan solusi utama,” pungkasnya.