John Herdman Bicara Realistis soal Bulgaria, Timnas Indonesia Diminta Tak Start Lambat

Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan pelatih John Herdman
Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan pelatih John Herdman

Laga final FIFA Series 2026 antara Timnas Indonesia melawan Bulgaria bukan sekadar pertandingan uji coba biasa. Ini adalah ujian sesungguhnya bagi era baru Timnas bersama pelatih asal Kanada, John Herdman. Ia sadar betul, lawan yang dihadapi kali ini jauh berbeda dibanding Saint Kitts and Nevis yang dibantai 4-0 pada laga sebelumnya.

Dengan waktu persiapan yang sangat terbatas, Herdman tak menutup kenyataan bahwa timnya belum sepenuhnya ideal. Namun di tengah segala keterbatasan itu, ia menegaskan satu hal: Indonesia harus menemukan cara untuk menang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kami hanya punya waktu dua hari. Para pemain datang terlambat, berada di siklus tidur yang berbeda, dan kami hanya menjalani dua sesi latihan bersama. Ini langkah kecil, tapi juga langkah besar untuk bisa disiplin menghadapi tim seperti Bulgaria. Kami harus menemukan cara untuk menang,” kata Herdman dikutip Antara.

Ucapan itu bukan tanpa alasan. Bulgaria datang ke final dengan kepercayaan diri tinggi setelah menghancurkan Kepulauan Solomon dengan skor mencolok 10-2. Secara peringkat FIFA pun, Bulgaria masih berada di atas Indonesia, yakni di posisi 87 dunia, sedangkan Indonesia di peringkat 122.

Namun Herdman tidak hanya melihat angka. Ia memetakan kekuatan utama Bulgaria yang menurutnya bisa sangat berbahaya jika Indonesia tidak disiplin sejak awal laga.

“Pemain sayap mereka sangat berbahaya. Mereka membangun permainan dengan kombinasi segitiga di sisi lapangan. Jika mereka menemukan ritme, itu bisa sangat menyulitkan kami. Jadi kami harus menghentikan ritme dan kombinasi mereka di sisi lapangan. Itu sangat penting dalam pertandingan ini,” ujarnya.

Selain itu, Herdman juga menyoroti perbedaan fisik dan organisasi permainan Bulgaria yang dinilai jauh lebih rapi dibanding lawan sebelumnya.

“Mereka lebih besar secara fisik, lebih kuat, sangat terorganisir, dan transisinya jauh lebih rapi serta cepat. Karena itu, kami harus memulai pertandingan dengan lebih baik dibanding laga sebelumnya,” kata dia.

Pelatih yang pernah menangani Timnas Kanada itu menegaskan bahwa 10 hingga 15 menit awal akan menjadi fase paling krusial dalam pertandingan ini.

“Kalau kami memulai dengan lambat seperti saat melawan Saint Kitts, kami bisa dihukum. Melawan tim seperti Bulgaria, kalau mereka unggul lebih dulu, mereka tahu bagaimana menutup pertandingan,” katanya.

Di tengah persiapan menuju laga final, Herdman juga harus kehilangan Mauro Zijlstra yang mengalami cedera otot paha. Sebagai gantinya, ia memanggil pemain muda Jens Raven yang diproyeksikan sebagai bagian masa depan Timnas Indonesia.

“Saya sempat melihat dia bermain langsung dalam laga pramusim di Bali. Saya suka beberapa hal dari dirinya. Dia masih sangat muda dan saya pikir bisa menjadi bagian dari masa depan tim,” kata Herdman.

Di tengah sorotan tajam kepada Ramadhan Sananta yang tidak mencetak gol saat melawan Saint Kitts and Nevis, Herdman justru memberikan pembelaan yang cukup menarik. Ia menyebut peran Sananta mirip dengan Olivier Giroud, striker Prancis yang tetap menjadi pemain penting di Piala Dunia 2018 meski tidak mencetak gol.

“Beberapa komentar di media sosial tidak pantas. Kita harus punya standar yang lebih baik sebagai bangsa. Perannya adalah membuka ruang, menjadi lini pertama dalam pressing,” kata Herdman.

“Jika Anda lihat Olivier Giroud, dia pernah tidak mencetak gol di Piala Dunia (2018), tapi tidak dikritik karena kontribusinya untuk tim,” tambah dia.

Menurut Herdman, kontribusi Sananta tidak selalu terlihat di statistik gol, tetapi sangat terasa dalam permainan tim secara keseluruhan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Pergerakannya membuka ruang bagi Ole Romeny, Ragnar, Beckham, dan lainnya. Jadi saya harap suporter bisa lebih tenang dan menghargai kerja kerasnya. Dia sangat bangga menjadi orang Indonesia, dan sulit melihat kritik berlebihan terhadap pemain seperti dia. Kita harus menjadi lebih baik sebagai bangsa,” ujarnya.

Saat ini, Sananta tercatat sudah mengoleksi empat gol dan dua assist bersama klubnya, DPMM FC, serta mencatatkan enam gol dari 17 penampilan bersama Timnas Indonesia senior.