Harga Emas Dunia Turun 11 Persen dari Rekor, Investor Ramai Ambil Untung Usai Reli Panjang

Ilustrasi emas
Ilustrasi emas

Reli logam mulia yang terlihat selama dua hari terhenti. Harga emas dan perak mengalami penurunan drastis pada perdagangan hari ini, Selasa, 10 Februari 2026. 

Koreksi imbas aksi ambil untung (profit taking) para investor setelah reli panjang yang membawa logam mulia ke level tertinggi sepanjang masa. Pergerakan pasar yang masih volatil membuat pelaku pasar memilih mengamankan keuntungan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dikutip dari Mint, harga emas dunia anjlok 0,70 persen ke level US$5.040 sekitar Rp 84,69 per ons troy (estimasi kurs Rp 16.800 per dolar AS). Sementara itu, harga perak spot terkoreksi lebih dalam, yakni turun 1,94 persen menjadi US$80,33 sekitar Rp 1,34 juta per ons troy. 

Secara akumulatif, harga emas membukukan penurunan lebih dari 11,27 persen dari rekor tertingginya di harga US$5.608,25 yang dicapai pada 29 Januari 2026. Adapun harga perak telah terpangkas sekitar 50 persen dari level tertinggi sepanjang masa di area US$121,64.

Tekanan pada harga emas dan perak dinilai  dipicu oleh faktor teknikal, bukan perubahan fundamental. Lonjakan harga sebelumnya yang didorong aktivitas spekulatif membuat pasar berada di area jenuh beli sehingga rentan terhadap aksi profit taking.

"Koreksi ini sebagian besar didorong oleh aksi ambil untung dan perubahan ekspektasi makro, termasuk anggapan bahwa siklus pelonggaran The Fed mulai tertahan," ujar Chief Investment Officer Choice AMC Limited, Rochan Pattnayak.

Ilustrasi Emas

Pattnayak menilai koreksi harga emas saat ini bersifat sementara. Penurunan harga emas di bawah 1 persen ini tidak mengubah prospek jangka panjangnya.

"Koreksi ini tidak merusak relevansi strategis emas dalam jangka panjang,” imbuh Pattnayak.

Ia menambahkan, lingkungan makro global masih mendukung pergerakan emas dengan pertumbuhan pasokan yang terbatas. Ketidakpastian geopolitik yang berlanjut dan  permintaan bank sentral terhadap emas juga diperkirakan tetap kuat.

Faktor-faktor utama lain yang menopang tren jangka panjang emas dinilai masih solid. Pergeseran minat investor dari obligasi dan mata uang menuju aset lindung nilai masih menjadi pendorong utama.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sejumlah bank dan manajer aset global, termasuk Deutsche Bank AG dan Goldman Sachs Group Inc., memperkirakan harga emas berpeluang kembali rebound seiring kuatnya permintaan struktural. Bank sentral Tiongkok memperpanjang aksi beli emas untuk bulan ke-15 berturut-turut pada Januari lalu.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter Federal Reserve AS (The Fed) dan inflasi. Laporan ketenagakerjaan AS pada bulan Januari 2026 yang dijadwalkan segera rilis  diperkirakan menunjukkan pasar tenaga kerja yang mulai stabil.