Harga Emas Dunia Menggila, Produsen Perhiasan Lirik Bahan Logam Mulia Alternatif
Lonjakan harga emas dunia yang kian tak terbendung mulai mengubah strategi pelaku industri perhiasan. Di tengah tekanan margin dan daya beli konsumen, sejumlah brand ternama kini beralih ke logam mulia alternatif untuk menjaga daya tarik sekaligus harga tetap kompetitif.
Rumah mode mewah asal Italia, Bvlgari, menjadi salah satu yang agresif melakukan inovasi. Perusahaan menghadirkan koleksi terbaru yang memadukan emas dengan baja, yakni material non-precious dalam lini perhiasan ikonik mereka.
CEO Bvlgari Group, Jean-Christophe Babin, mengatakan strategi ini tidak hanya mengacu pada sejarah brand tetapi juga menyesuaikan dengan kondisi pasar saat ini. Dengan begitu, generasi muda bisa tetap memiliki perhiasaan tanpa mengkhawatirkan inflasi menyebabkan kenaikan harga emas.
“Cincin ini adalah alternatif yang indah dari versi emas penuh, tetapi hadir dengan harga yang lebih menarik karena kandungan emasnya lebih sedikit. Ini membuka kembali pasar perhiasan bagi generasi muda yang tidak bisa mengikuti inflasi harga emas,” tutur Babin dikutip dari Financial Times pada Kamis, 16 April 2026.
Ilustrasi Emas
Menurut Babin, kenaikan harga emas dalam setahun terakhir bahkan memaksa perusahaan untuk menyesuaikan harga produk demi menjaga margin. Salah satu cincin terbaru mereka dijual sekitar £1.580, jauh lebih rendah dibandingkan versi emas penuh yang mencapai £2.590.
Fenomena ini terjadi di tengah tren global, di mana harga emas, platinum, dan perak kompak menyentuh rekor tertinggi. Kondisi tersebut mendorong banyak brand untuk bereksperimen dengan material alternatif seperti baja, aluminium, hingga niobium.
Brand asal Amerika Serikat (AS), Eden Presley, juga mengombinasikan emas 14 karat dengan baja berlapis karbon dalam koleksi terbarunya. Pendiri Eden Presley, Gwen Myers, menyebut lonjakan harga emas sudah di luar batas wajar.
“Nama koleksi ini ‘In the Black’ mencerminkan kondisi agar tetap menguntungkan, karena harga emas saat ini sangat mahal,” katanya.
Di Inggris, desainer Alice Fry juga menghadirkan cincin pernikahan dari niobium sebagai alternatif lebih terjangkau dibanding emas atau platinum. Material ini dikenal hipoalergenik dan memiliki tampilan futuristik.
Namun, faktor harga bukan satu-satunya pendorong. Perubahan selera konsumen juga berperan besar. Banyak pembeli kini mencari perhiasan yang unik, memiliki nilai artistik tinggi, dan membawa cerita berbeda.
Desainer perhiasan Skotlandia, Ebba Goring, menilai pasar perhiasan saat ini semakin jenuh sehingga inovasi material menjadi kunci pembeda. “Pasar perhiasan sangat jenuh, sehingga orang mencari cara untuk tampil beda. Selain itu, konsumen kini lebih terbuka terhadap material baru selama memiliki cerita dan keunikan,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan kurator senior di Victoria and Albert Museum, Helen Molesworth. Ia menilai penggunaan material non-precious dalam perhiasan sejatinya sudah berlangsung sejak lama.
“Mungkin yang terjadi adalah kita mendefinisikan ulang konsep ‘berharga’. Ini berkaitan dengan kelangkaan, teknologi, dan apa yang bisa dimanfaatkan,” beber Molesworth.
Dengan kombinasi tekanan harga dan perubahan preferensi konsumen, tren penggunaan logam alternatif diperkirakan akan terus berkembang. Bagi pelaku industri, ini bukan sekadar strategi bertahan, tetapi juga peluang untuk membuka pasar baru di tengah mahalnya harga emas global.