Gawat! Analis Veteran Prediksi Harga Emas Dunia Turun hingga 20 Persen

Harga emas dunia memulai kuartal II-2026 dengan performa positif setelah sempat mencatat penurunan bulanan terbesar sejak awal 1980-an. Di balik penguatan tersebut, sinyal bahaya justru mulai muncul bahkan memperkirakan harga logam mulia ini anjlok sekitar 20 persen. 

Analis Teknikal veteran sekaligus pendiri ElliottWaveTrader, Avi Gilburt, memperingatkan koreksi besar pada emas belum berakhir. Gilburt mengungkapkan bahwa ada dua skenario teknikal yang bisa mendorong harga emas jatuh hingga di bawah US$4.000 hingga US$3.800 atau sekitar Rp 67,9 juta sampai Rp 64, juta (estimasi kurs Rp 16.980 per dolar AS) per ons.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Skenario pertama menunjukkan harga emas berpotensi tertahan di area resistance saat ini, sebelum akhirnya bergerak turun. Skenario kedua dinilai jauh lebih berbahaya, kata Gilburt, jika harga emas berhasil menembus level US$4.800 maka reli bisa berlanjut hingga US$5.200 sebelum akhirnya berbalik arah dan mengalami penurunan tajam.

“Jalur ini lebih ‘jahat’ atau menipu, karena kenaikan harga akan membuat semua orang yakin bahwa koreksi telah berakhir, padahal sebenarnya baru saja dimulai,” ungkap Gilburt mengutip dari KITCO News pada Jumat, 3 April 2026.

Ilustrasi Emas.

Saat ini, harga emas di pasar spot tercatat berada di kisaran US$4.775,10 atau sekitar Rp 81 juta per ons. Harga ini menunjukkan penguatan lebih dari 2 persen dalam sehari. 

Tidak hanya emas, Gilburt juga melihat pola serupa pada perak. Selama harga masih berada di bawah puncak Maret, ia memperkirakan tekanan turun masih akan berlanjut hingga ke level US$53,50.

Meski demikian, ia menegaskan adanya perbedaan strategi antara trader dan investor. Jika harga berhasil bertahan di level support yang diproyeksikan, maka kondisi tersebut bisa menjadi peluang beli.

Untuk jangka panjang, Gilburt justru melihat perak sebagai aset yang menarik. Ia menilai harga di bawah US$60 merupakan kesempatan emas bagi investor.

“Untuk perak dalam jangka panjang—10 tahun ke depan—harga di bawah US$60 akan menjadi peluang beli yang sangat bagus,” lanjut Gilburt.

Di sisi lain, ia juga menyoroti peluang di saham perusahaan tambang. Menurutnya, sejumlah saham tambang berpotensi mengungguli kinerja emas dan perak pada fase reli berikutnya.

“Ada sejumlah saham tambang yang berpotensi mengungguli baik perak maupun emas,” tambahnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, Gilburt turut memberikan pandangan terhadap komoditas lain seperti minyak. Ia memperkirakan harga minyak masih bisa naik dalam jangka pendek, namun berpotensi anjlok tajam hingga di bawah US$50 per barel pada akhir tahun.

Secara keseluruhan, Gilburt menegaskan bahwa proyeksinya didasarkan pada struktur teknikal pasar, bukan semata-mata faktor makroekonomi. Ia menilai, titik-titik krusial di pasar emas, perak, saham, dan komoditas akan segera terbentuk dalam beberapa bulan ke depan.