Plus dan Minus Jersey Baru Timnas Indonesia dan Kelme di Mata Kolektor
Founder komunitas Kolektor Jersey Timnas Indonesia (KJTI), Budi Frastio, berbicara tentang plus dan minus jersey baru Timnas Indonesia besutan Kelme.
Kelme secara resmi memperkenalkan jersey baru Timnas Indonesia dalam acara launching bertemakan "Leave Your Mark Fest" di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Kamis (12/3/2026).
Jersey anyar skuad Garuda ini akan dipakai pertama kali oleh anak asuh John Herdman saat Timnas Indonesia bermain di ajang FIFA Series pada 27 dan 30 Maret nanti.
Jersey yang diperkenalkan adalah versi Home merah-merah-merah dan Away putih-putih-putih dengan melibatkan para pemaint Timnas Indonesia putra dan putri serta Timnas Futsal indonesia.
Reaksi setelah sesi perkenalan jersey pun sangat beragam dengan ada yang memuji jersey tersebut dan mereka yang punya anggapan bertentangan, selayaknya setiap jersey baru Timnas Indonesia dirilis kepada umum.
Tak Mungkin Ada Keseragaman Pendapat
Bagi Budi Frastio, tak bakal mungkin ada keseragaman pendapat mengenai suatu jersey.
"Tidak semua orang bisa menyepakati desain jersey itu bagus atau tidak," tuturnya kepada Kompas.com pada Jumat (13/3/2026) pagi WIB.
"Jadi memang ada yang suka, ada yang tidak suka. Jadi tidak masalah di posisi itu. Cuma nanti kalau kita punya prestasi bagus, orang juga akan beli dan akan suka."
Ketum PSSI Erick Thohir (tengah), CEO Kelme Indonesia Kevin Wijaya (kanan) dan Pelatih Timnas Indonesia John Herdman (kiri) memegang jersi terbaru Timnas Indonesia saat peluncurannya di Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (12/3/2026). PSSI bersama jenama olahraga asal Spanyol, Kelme resmi meluncurkan jersi terbaru untuk Timnas sepak bola dan Futsal Indonesia sekaligus menjadikan Kelme sebagai penyedia apparel resmi Timnas Indonesia yang dikontrak hingga 2030. ANTARA FOTO/Fauzan/wsj.
Budi juga menyinggung soal inspirasi jersey dari seragam SEA Games 1997 dan SEA Games 1999 yang memiliki garis frontal melintang.
"Jadi karena mungkin penggambaran garis frontal seperti SEA Games 1999 itu bisa dibilang tidak mungkin dilakukan, akhirnya memakai treatment garis-garisnya diperkecil atau dipertipis, cuma kesan ke arah sana."
Menurutnya, hal tersebut masih bisa diterima kalau memang inspirasinya berasal dari sana.
Budi pun mengutarakan beberapa kelebihan dari jersey Kelme ini terutama dari segi distribusi.
"Kelebihannya lebih cepat bisa didapat karena pas launching langsung bisa rilis dan bisa dibeli, baik di marketplace atau di tempat launching," ujarnya.
"Yang kedua, quality control-nya sebagai apparel besar, apalagi apparel internasional, harusnya punya quality control lebih baik."
"Istilahnya sudah melakukan riset yang lebih baik dibanding apparel lokal. Jadi, harusnya secara produksi, baik itu distribusinya, terus kualitas produknya.
"Harusnya lebih baik, apalagi after sales-nya harusnya lebih baik."
Budi Frastio, founder KJTI (Kolektor Jersey Timnas Indonesia) turut mengomentari jersey baru Timnas Indonesia keluaran Kelme yang diluncurkan pada Kamis (12/3/2026).
Catatan Mengenai Motif Batik Parang
Namun, Budi juga punya catatan mengenai pemilihan motif di kain yang menampilkan batik parang.
"Jersey away sebenarnya sudah bagus secara desain memang orientasinya kan lebih ke batik Pulau Jawa ya," ujarnya.
"Jadi, itu agak sedikit sensitif. Makanya, kemarin beberapa desainer jersey tidak mengambil unsur batik itu bukan karena apa-apa, tapi karena Indonesia ini kan punya kekayaan batik banyak banget, enggak cuma Jawa, tapi ada batik Sumatera, batik Kalimantan, bahkan Papua ada batiknya."
"Pengambilan batik benar bisa dibilang sisi positifnya mengangkat budaya Indonesia atau ciri khas Indonesia, cuma di sisi lain bisa menimbulkan kecemburuan juga karena di posisi lain kan ada batik-batik lain yang mungkin tidak mempresentasikan, tidak dipresentasikan di jersey itu."
Namun, Budi tetap mengatakan jersey away sudah bagus dengan desain batik tersebut.
"Specs juga pernah mengangkat batik kalau nggak salah batik Nusa Tenggara. Jadi mungkin untuk sebuah variasi, oke sih," ujarnya.
Terkait Logo Garuda
Terakhir, Budi juga menyinggung mengenai siluet Garuda di nameset dan di belakang leher yang tak ada pitanya.
Siluet Garuda di belakang leher jersey Kelme Timnas Indonesia yang tak ada pitanya. Menurut Budi Frastio founder KJTI, hal ini dari segi aturan dan regulasi masih aman.
Menurutnya, Undang Undang menyebut bahwa gambar Garuda yang wajib dengan menyertakan pita adalah ketika gambar Garudanya full.
"Gambar Garuda full atau ketika Garuda itu memang merepresentasikan Garuda Pancasila secara utuh, tapi kalau sudah dibikin siluet mungkin akan lebih fleksibel ya," tuturnya mengatakan.
"Jadi ketika Garuda siluet tanpa pita, itu mungkin jadi perdebatan, tapi kalau dari segi aturan dan regulasi kayaknya masih aman."
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang