Bukan Hanya Soal Menu, Lansia yang Puasa Perlu Atur Jadwal Makan
Puasa tetap dapat dijalani oleh lansia selama kebutuhan nutrisi dan cairan tubuh terpenuhi dengan baik.
Dokter spesialis gizi klinik RS Pondok Indah, dr. Ida Gunawan, MS, Sp.G.K, Subsp.K.M., FINEM, mengatakan lansia tetap perlu memperhatikan pola makan yang teratur agar kondisi tubuh tetap stabil selama Ramadhan.
“Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi lansia saat puasa tetap harus memperhatikan jumlah kalori, jenis makanan, dan jadwal makan,” ujar dr. Ida saat dihubungi Kompas.com pada Selasa (24/2/2026).
Menurut dia, pengaturan pola makan menjadi penting karena lansia sering mengalami keterbatasan fisik yang dapat memengaruhi nafsu makan dan asupan nutrisi.
Jadwal makan sebaiknya lebih teratur
Ida menyarankan jadwal makan lansia selama puasa dapat dibagi menjadi beberapa waktu.
Sekitar 10 persen kebutuhan kalori dapat dikonsumsi saat berbuka dalam bentuk makanan ringan.
Setelah shalat Maghrib, sekitar 40 persen kalori dapat dipenuhi melalui makanan utama dengan komposisi gizi seimbang.
Kemudian sekitar 10 persen kalori dapat dikonsumsi kembali setelah shalat tarawih sebagai makanan ringan.
Sisa 40 persen kalori lainnya dipenuhi saat sahur sebagai makanan utama sebelum memulai puasa.
Pembagian jadwal ini membantu lansia mendapatkan energi secara bertahap tanpa membebani tubuh dalam satu waktu makan.
Perhatikan jenis makanan
Ilustrasi lansia. Dokter gizi klinik dr. Ida Gunawan menjelaskan cara mengatur jadwal makan, jenis makanan, dan kebutuhan cairan agar lansia tetap sehat saat menjalani puasa.
Menu makanan lansia tetap harus mengikuti prinsip gizi seimbang. Karbohidrat, protein hewani dan nabati, lemak sehat, serta serat dari sayur dan buah perlu tersedia dalam setiap makanan utama.
Ida juga mengingatkan agar lansia tidak mengonsumsi makanan terlalu manis saat berbuka.
Makanan dengan komposisi nutrisi seimbang membantu menjaga energi tubuh tetap stabil sepanjang hari.
Cairan menjadi kebutuhan penting
Selain makanan, kebutuhan cairan juga perlu diperhatikan. Ida menyarankan lansia mengonsumsi sekitar 1,5 hingga 2 liter air putih setiap hari di antara waktu berbuka dan sahur.
Tujuannya untuk mencegah dehidrasi yang lebih mudah terjadi pada usia lanjut.
Ia juga mengingatkan lansia agar tidak melewatkan waktu makan, terutama saat berbuka dan sahur.
Pola makan kecil tapi teratur
Menurut Ida, lansia dapat menerapkan pola makan kecil tetapi lebih sering dalam rentang waktu antara berbuka dan sahur.
Pola ini membantu tubuh tetap mendapatkan energi tanpa membuat sistem pencernaan bekerja terlalu berat.
Dengan pengaturan jumlah kalori, jenis makanan, dan jadwal makan yang tepat, kebutuhan nutrisi lansia tetap dapat terpenuhi selama puasa.
Puasa bagi lansia memerlukan perhatian khusus terhadap pola makan dan kebutuhan cairan.
Pengaturan jadwal makan, pemilihan makanan bergizi seimbang, serta kecukupan cairan membantu menjaga kesehatan lansia selama menjalani ibadah puasa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang