Tak Perlu Panik, Lupa Niat Puasa Ramadhan Masih Bisa Dilanjutkan, Ini Ketentuannya
Puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib bagi umat Islam yang telah memenuhi syarat.
Salah satu rukun yang harus dipenuhi dalam puasa adalah niat. Lalu, bagaimana jika seseorang lupa berniat pada malam hari sebelum terbit fajar?
Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ustadz Alhafiz Kurniawan menyampaikan solusi bagi umat Muslim yang lupa berniat puasa Ramadhan menurut Mazhab Syafi’i.
"Para ulama Mazhab Syafi‘i menganjurkan tiga hal, berniat setiap malam, dianjurkan melafalkan niat, dan di awal Ramadhan berniat untuk melaksanakan puasa selama sebulan penuh, mengikuti pandangan Imam Malik," katanya di Jakarta, Sabtu (21/2/2026) dikutip dari Antara.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Lupa Berniat?
Alhafiz menjelaskan, bagi orang yang lupa berniat di malam hari, ia tidak perlu membatalkan puasanya.
Ia cukup berniat di pagi hari ketika teringat bahwa dirinya belum memasang niat pada malam sebelumnya.
"Dengan demikian ia tetap dapat melanjutkan ibadah puasanya hingga selesai, sampai waktu Maghrib," ucap Alhafiz.
Pandangan ini memberikan kemudahan bagi umat Islam yang secara tidak sengaja lupa memasang niat pada malam hari.
Bagaimana Pandangan Mazhab Hanafi?
Alhafiz juga menyampaikan pandangan Imam Abu Hanifa. Menurutnya, orang yang tidak memalamkan niat sebelum fajar bukan berarti puasanya tidak sah, melainkan puasanya tidak sempurna.
Selain itu, Imam Abu Hanifa juga memberikan solusi bagi orang yang lupa berniat puasa di malam hari Ramadhan, yakni cukup memasang niat di pagi hari.
"Memasang niat di pagi hari atau setelah Subuh berlalu, sementara semalaman belum sempat berniat di dalam hati, maka niat tersebut cukup dilakukan ketika ia ingat di pagi hari atau awal siang," ujar Alhafiz.
Menurut Imam Abu Hanifa, pelafalan niat juga harus dibedakan dari niat itu sendiri. Niat adalah kerja batin atau sikap hati, sedangkan pelafalan niat merupakan pengucapan secara lisan atas niat yang sudah ada di dalam hati.
Dalam praktik masyarakat Indonesia, pelafalan ini lazim dilakukan, namun hukumnya tidak sama dengan niat itu sendiri.
Alhafiz mengingatkan bahwa puasa Ramadhan termasuk ibadah yang dilakukan secara tunai dan hukumnya wajib. Karena itu, niatnya pun menjadi wajib.
"Dalam kajian ibadah Islam, sangat dibedakan antara ibadah yang dilakukan secara tunai dan qadha (membayar utang). Karena puasa Ramadan dilaksanakan secara tunai, maka niat menjadi wajib. Adapun pelafalan niat, hukumnya hanya dianjurkan, bukan wajib," demikian Alhafiz Kurniawan.
Apa Perbedaan Niat Puasa Wajib dan Sunah?
Dikutip dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), niat merupakan salah satu rukun yang wajib dilakukan setiap Muslim yang hendak berpuasa.
Tata cara niat puasa wajib dan puasa sunah memiliki sedikit perbedaan, terutama pada waktunya.
Pada puasa wajib seperti Ramadhan, qadha, dan nazar, seseorang harus berniat di malam hari sebelum terbit fajar.
Hal ini berbeda dengan puasa sunah yang lebih longgar, di mana seseorang boleh berniat pada siang hari selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa.
Dalam Mazhab Syafi’i, niat puasa wajib dilakukan setiap malam selama Ramadhan. Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam karyanya Hasyiyatul Iqna’ menjelaskan:
ويشترط لفرض الصوم من رمضان أو غيره كقضاء أو نذر التبييت وهو إيقاع النية ليلا لقوله صلى الله عليه وسلم: من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له. ولا بد من التبييت لكل يوم لظاهر الخبر
Artinya: "Disyaratkan berniat di malam hari bagi puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa qadha, atau puasa nadzar. Ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW, ‘Siapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.’ Karenanya, harus niat puasa di setiap hari (bulan Ramadan) jika melihat redaksi zahir hadits." (Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Iqna’, juz 2).
Bagaimana Pandangan Mazhab Maliki?
Berbeda dengan Mazhab Syafi’i, Mazhab Maliki berpandangan bahwa niat puasa Ramadhan cukup dilakukan sekali pada malam pertama untuk sebulan penuh. Alasannya, puasa Ramadhan dipandang sebagai satu kesatuan ibadah.
Pendapat ini sebagaimana dijelaskan Yusuf Al-Qaradlawi dalam Fiqh al-Shiyam.
Berikut bacaan niat puasa Ramadhan untuk sebulan penuh:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma jami’i syahri ramadhani hadzihis sanati fardhan lillahi ta’ala.
Artinya: "Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini dengan mengikuti pendapat Imam Malik, wajib karena Allah Ta’ala."
Sementara bagi penganut Mazhab Syafi’i, niat puasa diucapkan setiap malam:
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi ramadhana lillahi ta’ala.
Artinya: "Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan karena Allah Ta’ala."
Dengan memahami perbedaan pandangan mazhab ini, umat Islam diharapkan tidak panik ketika lupa berniat pada malam hari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang