Sering Dianggap Sepele, Awas! Kebiasaan Ini Bisa Menghambat Rezekimu
Rezeki dalam pandangan Islam tidak hanya dipahami sebagai hasil dari kerja keras semata. Ada dimensi spiritual yang diyakini memiliki pengaruh besar terhadap kelapangan atau kesempitan rezeki seseorang.
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Anwar Manshur, mengingatkan bahwa berbagai kebiasaan yang sering dianggap sepele justru dapat menjadi penghambat datangnya rezeki. Scroll lebih lanjut yuk!
Dalam sebuah pengajian Ramadhan yang membahas kitab Ta’limul Muta’allim dan disiarkan melalui kanal YouTube Lirboyo, Kiai Anwar menjelaskan bahwa hubungan spiritual antara manusia dan Tuhan turut menentukan keberkahan hidup. Menurutnya, rezeki bukan semata-mata hasil perhitungan rasional atau usaha duniawi, tetapi juga berkaitan erat dengan kondisi batin seseorang.
“Seseorang dapat terhalang rezekinya karena dosa yang ia lakukan,” ujar Kiai Anwar, dikutip Kamis 5 Maret 2026.
Salah satu perilaku yang menurutnya memiliki dampak besar terhadap keberkahan hidup adalah kebohongan. Ia menilai bahwa dusta tidak hanya menjadi persoalan moral, tetapi juga membawa konsekuensi spiritual yang panjang bagi pelakunya.
“Kebohongan itu mewariskan kefakiran,” ucapnya.
Kiai Anwar menilai bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kebohongan sering kali dianggap hal kecil dan bahkan dinormalisasi dalam berbagai situasi, baik dalam urusan pribadi maupun sosial. Padahal, kebiasaan tersebut dapat merusak integritas batin seseorang dan pada akhirnya berdampak pada keberkahan rezeki yang diterima.
Selain persoalan dosa, Pengasuh Pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur itu juga menyoroti kebiasaan lain yang sering dilakukan tanpa disadari, yakni tidur setelah waktu subuh. Menurutnya, waktu pagi memiliki nilai spiritual yang besar dalam Islam karena diyakini sebagai saat turunnya keberkahan.
“Waktu pagi adalah saat di mana keberkahan didistribusikan. Tidur di waktu pagi itu menghalangi rezeki,” tutur Pengasuh Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur itu.
Ia pun mengajak umat Islam untuk memanfaatkan waktu setelah subuh dengan aktivitas yang bermanfaat, baik berupa ibadah maupun kegiatan yang produktif. Aktivitas sederhana seperti berdzikir, membersihkan rumah, hingga menjaga kebersihan peralatan makan dinilai dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk mendatangkan keberkahan.
"Menyapu halaman rumah dan menjaga kebersihan wadah makanan adalah bagian dari upaya menarik kekayaan,” ungkapnya.
Lebih jauh, Kiai Anwar juga menekankan pentingnya kualitas ibadah, terutama shalat. Ia mengingatkan bahwa shalat tidak cukup hanya dilakukan sekadar untuk memenuhi kewajiban. Unsur tuma’ninah atau ketenangan dalam shalat menjadi hal penting yang menentukan nilai spiritual dari ibadah tersebut.
Menurutnya, fenomena shalat yang dilakukan dengan terburu-buru tanpa penghayatan dapat mengurangi makna ibadah itu sendiri. Dalam perspektif tasawuf, kedalaman hubungan seorang hamba dengan Allah diyakini memiliki hubungan erat dengan keberkahan hidup yang ia rasakan.
“Rutinitas shalat Dhuha dan pembacaan Surah Al-Waqi’ah juga dapat sebagai amalan memperlancar rezeki yang paling ampuh,” tuturnya.
Pada akhirnya, Kiai Anwar menegaskan bahwa persoalan rezeki tidak hanya berkaitan dengan strategi ekonomi atau usaha duniawi semata. Perbaikan moral dan spiritual juga memiliki peran penting dalam membuka pintu keberkahan hidup.
“Menjaga diri itu wajib supaya pintu-pintu rezeki dan keberkahan datang,” ujar Kiai Anwar.