Strategi Jaga Berat Badan agar Tak Naik selama Ramadhan

Ilustrasi berat badan.
Ilustrasi berat badan.

Chief Marketing Officer Light Group, Anna Yesito Wibowo, mengaku banyak pasien yang datang ke Lighthouse Clinic dengan berbagai macam masalah yang dihadapi.

Seiring dengan berjalannya waktu, tantangan para pejuang diet makin variatif jadi tidak hanya faktor internal.

Akan tetapi, faktor eksternal juga tidak kalah penting, dan faktor-faktor di luar kendali kita misalnya dari lingkungan di sekitar dan seberapa dalam pengetahuan dan pemahaman terhadap nutrisi yang bisa di akses di media sosial.

"Kami paham dengan segala tantangan tersebut. Untuk itu kami selalu siap memberikan pendampingan pada pasien dalam melakukan perjalanan penurunan berat badannya, dengan tujuan agar pasien mampu membentuk pola pikir baru dan kebiasaan sehat jangka panjang," ungkapnya.

Perjalanan 22 peserta LWC sejak Oktober 2025, kini telah rampung. Tiga peserta telah keluar sebagai pemenang dari kompetisi ini dengan persentase penurunan berat badan antara 18-23 persen dari berat badan (BB) awal selama 12 minggu.

Dengan berakhirnya program LWC 2025 menjelang Ramadhan, para peserta kini memasuki fase penting dalam mempertahankan hasil penurunan berat badan. Perubahan pola makan selama puasa sering menjadi tantangan, terutama saat memasuki momen berbuka puasa dan Lebaran.

"Berat badan turun bukan karena puasa satu hari, tetapi defisit kalori yang konsisten. Ramadhan adalah momen membangun pola makan lebih terkontrol," jelas dia. Karena itu, Lighthouse Clinic turut membagikan panduan sederhana agar pola makan terkontrol dan tetap sehat, sebagai berikut:

1. Saat Sahur, konsumsi makanan tinggi protein dan berkuah.

2. Saat Berbuka, hindari gorengan dan makanan berlemak.

3. Penderita GERD, hindari makanan pedas, asam, alkohol, serta makanan yang dapat menghasilkan gas.