Protes Terkait Kebijakan yang Buat Timnas Indonesia Absen di Asian Games 2026
Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari, buka suara terkait aturan baru yang diterapkan Olympic Council of Asia (OCA) pada cabang olahraga sepak bola putra di Asian Games.
Dia memprotes kebijakan baru yang melakukan proses grading peserta tanpa melalui mekanisme kualifikasi yang tidak lazim seperti yang biasanya dilakukan pada multievent terbesar di Asia tersebut.
Jumlah negara peserta cabang sepak bola putra Asian Games 2026 berkurang drastis dibandingkan edisi 2022 lalu yang masih mengikutsertakan 24 negara.
Kali ini, hanya akan ada 16 tim yang akan berpartisipasi cabor sepak bola putra di Asian Games.
Pengurangan peserta terjadi lantaran Federasi Sepak Bola Asia (AFC) dan OCA tidak lagi membebaskan kepada setiap negara untuk ambil bagian di sepak bola Asian Games seperti edisi-edisi sebelumnya.
Mulai Asian Games 2026 Aichi-Nagoya, pesertanya diambil dari negara-negara yang lolos ke putaran final Piala Asia U23 2026.
Imbasnya, Timnas U23 Indonesia gagal mentas di Asian Games 2026 dikarenakan tidak lolos ke Piala Asia U23 2026.
Diungkapkan Oktohari, keputusan tersebut tidaklah adil.
NOC Indonesia pun telah melaporkan kepada Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Republik Indonesia, Erick Thohir, untuk menyikapi langkah yang diambil oleh OCA itu.
"Jadi, kita juga secara informal saya laporkan sama Menpora bahwa kami, NOC, sudah menyikapi apa yang dilakukan oleh OCA (Olympic Council of Asia)," ujar Okto di Kantor Kemenpora, Jakarta, Jumat (20/2/2026).
"Bahwa kalau sepak bola ternyata dilakukan proses grading tanpa kualifikasi, ini kan tidak biasa. Biasanya di Asian Games itu kan semuanya ikut."
"Nah, apakah ini diambil karena ketidakmampuan Nagoya sebagai tuan rumah, itu hal yang lain. Tetapi, sosialisasinya itu harus sampai sama kita dan itu harus fair," ungkap dia.
Minta Transparansi
Oktohari mempertanyakan alasan di balik kebijakan tersebut dan meminta adanya transparansi.
Sebab, kejadian ini baru pertama kali terjadi dalam sejarah penyelenggaraan Asian Games di mana cabang olahraga sepak bola selalu dipertandingkan tanpa adanya sistem grading seperti yang diterapkan pada Asian Games 2026.
Dan jika memang terdapat kendala di tuan rumah, seharusnya bisa disosialisasikan kepada seluruh calon negara peserta agar tidak ada yang merasa dirugikan.
"Kami terus melakukan komunikasi. Kami terima kasih Pak Menpora kemarin dukungannya, sehingga komunikasi yang kita lakukan kepada pihak OCA secara langsung melalui Presidennya, itu mudah-mudahan akan memiliki dampak terhadap kebijakan yang akan nanti diambil," ucap Oktohari.
Lebih lanjut, Oktohari menekankan bahwa sepak bola merupakan olahraga dengan basis penggemar terbesar di Asian Games.
Sehingga setiap kebijakan yang diambil dan menyangkut partisipasi negara peserta seharusnya mempertimbangkan dampaknya secara luas.
"Karena yang paling utama, kami ingatkan juga kepada mereka bahwa fanbase sepak bola itu paling besar dari semua cabang olahraga di Asian Games," tutur dia.
"Tuan rumah itu tidak boleh semena-mena. Jadi banyak pertimbangan-pertimbangan yang harus dilihat dan kami akan terus menyuarakan. Bukan hanya dengan PSSI, tetapi juga dengan federasi sepak bola lainnya di Asia," jelas Okto.
Komunikasi Lintas Negara
Oktohari juga mengatakan bahwa pihaknya telah membuka komunikasi dengan Ketua Federasi Sepak Bola Qatar, Jassim Al-Buenain, yang memiliki pandangan serupa terkait kebijakan tersebut.
"Dua hari lalu sama Ketua Sepak Bola Qatar, itu Jassim Al-Buenain. Saya sudah komunikasi langsung dan dia juga merasa ini sesuatu yang harus diupayakan," kata Oktohari.
"Pasti (protes) dong, gitu. Kan dengan dibikinnya grading yang tanpa kualifikasi, jadinya hanya 16 kan yang ikut kan? Berarti kan sisanya kan enggak ikut dari 45 negara."
"Nah, yang sisanya itu kan merasa dirugikan. Padahal fanbase-nya kalau untuk Asian Games pasti banyak dari sepak bola, gitu. Nah ini suaranya sama dengan negara-negara yang lain," jelas dia.