Kehadiran BYD di Indonesia, Bangkitkan Pasar EV dan Ekosistem RI
BYD membawa berbagai inovasi ke Indonesia. Hal tersebut membuat masyarakat semakin mengenal teknologi New Energy Vehicle (NEV).
Hal tersebut terlihat dari tingginya minat masyarakat terhadap BYD Atto1, Dolphin, Seal sampai Sealion 7 beberapa waktu belakang
Oleh sebab itu BYD terus memperkuat kehadirannya di Indonesia melalui pengembangan jaringan.
Hingga saat ini, BYD telah hadir di berbagai lokasi strategis dan secara bertahap memperluas jangkauan dari wilayah barat ke timur Indonesia.

Hal itu sejalan dengan upaya mendekatkan teknologi dan layanan BYD kepada konsumen di berbagai daerah.
Demi mendukung pertumbuhan tersebut, mereka mengebut penambahan jaringan diler. Lalu menargetkan ekspansi ke beberapa lokasi strategis
“Pencapaian BYD di Indonesia mencerminkan meningkatnya kepercayaan konsumen terhadap teknologi kendaraan listrik yang matang dan siap digunakan dalam aktivitas sehari,” ungkap Luther Panjaitan, Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia.
Lebih jauh Luther menjelaskan, BYD ingin memastikan para konsumen di dalam negeri bisa terlayani dengan maksimal.
Lalu mendorong era elektrifikasi di masa mendatang. Sehingga semakin banyak masyarakat yang menggunakan lini mobil listrik BYD.
Sehingga bisa memberi dampak nyata bagi negara. Mulai dari mengurangi polusi udara, menurunkan subsidi BBM hingga efek bagi perekonomian.
“Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya BYD untuk menumbuhkan ekosistem kendaraan listrik yang relevan, inklusif dan tumbuh bersama masyarakat Indonesia,” tegas Luther.
Memang dengan masifnya BYD membangun jaringan diler, dapat memudahkan masyarakat dalam mengakses mobil listrik mereka.
Apalagi saat ini kendaraan roda empat elektrik cukup digandrungi. Menjadi peluang bagi BYD buat menawarkan berbagai inovasi mereka.
Di sisi lain, demi memberikan dampak nyata bagi negara, BYD terus berupaya melakukan produksi mobil listrik mereka di dalam negeri.
Bahkan pabrik BYD di Subang, Jawa Barat diklaim akan segera beroperasi dan membuat berbagai NEV.
“Kita sudah berhasil mendapatkan empat sertifikat sebenarnya saat ini,” kata Luther.
Lebih lanjut Luther menjelaskan, sertifikat pertama adalah Certificate of Standard. Kemudian World Manufacturer Identifier (WMI) sebagai persyaratan mendapatkan NIK.
Tidak ketinggalan sertifikat implementasi IKD (Incompletely Knock Down) dan sertifikat IKD khusus kendaraan elektrik.

Deretan sertifikat itu, menurut Luther menjadi salah satu bentuk wujud kesiapan fasilitas perakitan BYD di Subang, Jawa Barat.
“Fasilitas yang kita miliki ini sudah sangat siap, ter-recognize, lengkap secara peralatan untuk memproduksi sebuah kendaraan dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) diharapkan oleh pemerintah,” pungkas dia.
Ia mengungkapkan sekarang BYD berfokus untuk memastikan setiap model dirakit di Indonesia dalam kondisi sempurna tanpa kesalahan dari sisi produksi.
Keberadaan pabrik BYD di Tanah Air memang sangat penting. Mengingat penjualan mereka di pasar nasional rata-rata 10 ribu per bulan.
Otomatis kehadiran fasilitas produksi satu ini, dipercaya bisa memenuhi semua permintaan para konsumen.
Selain itu bisa menyerap banyak tenaga kerja di Subang serta sekitarnya. Sehingga dapat menurunkan angka pengangguran.