BYD Kena Cap Terkait Militer China, Apa Dampaknya?

Kapal Roro BYD
Kapal Roro BYD

Masuknya dua merek tersebut ke dalam daftar terbaru Pentagon langsung memicu respons. Baik BYD maupun Nio kompak membantah tuduhan tersebut dan menyatakan siap mengambil langkah untuk membersihkan nama perusahaan.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dilansir VIVA dari Carnewschina, Kamis 11 Juni 2026, BYD dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa perusahaan tidak memiliki hubungan dengan militer China maupun program integrasi sipil-militer yang selama ini menjadi perhatian pemerintah Amerika Serikat.

Pabrikan yang kini menjadi salah satu produsen mobil listrik terbesar di dunia itu menilai tidak ada dasar yang kuat untuk memasukkan namanya ke dalam daftar tersebut. BYD juga menegaskan bahwa status itu bukan merupakan bentuk sanksi sehingga tidak akan memengaruhi kegiatan bisnis, hubungan dengan mitra usaha, maupun perdagangan saham perusahaan.

Meski begitu, BYD membuka kemungkinan untuk mengajukan keberatan resmi atau menempuh jalur hukum guna meminta namanya dicoret dari daftar Pentagon.

Langkah serupa juga disiapkan oleh Nio. Produsen mobil listrik premium asal China tersebut menyatakan tidak memiliki hubungan dengan industri pertahanan China maupun program military-civil fusion yang menjadi dasar penyusunan daftar tersebut.

Nio menyebut akan berkomunikasi secara aktif dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat untuk mengoreksi status tersebut. Jika upaya itu tidak membuahkan hasil, perusahaan mempertimbangkan langkah hukum untuk melindungi kepentingan para pemegang saham.

Masuknya BYD dan Nio merupakan bagian dari perluasan daftar perusahaan China yang diawasi Pentagon. Dalam pembaruan terbaru, daftar itu mencakup puluhan perusahaan induk dan ratusan entitas yang bergerak di berbagai sektor strategis.

Tak hanya industri otomotif, sejumlah perusahaan baterai, kecerdasan buatan, semikonduktor, komputasi awan, hingga robotika juga ikut masuk dalam daftar tersebut. Beberapa nama besar yang disebut antara lain Alibaba, Baidu, Calb, Eve Energy, RoboSense, dan Unitree.

Meski sering disebut sebagai daftar hitam Pentagon, status tersebut berbeda dengan sanksi ekonomi yang selama ini diterapkan pemerintah Amerika Serikat kepada sejumlah perusahaan asing.

Perusahaan yang masuk daftar itu tidak otomatis dikenai pembekuan aset, larangan transaksi bisnis, ataupun pembatasan perdagangan saham. Dampak paling langsung berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang menjadi lebih terbatas.

Namun, masuknya sebuah perusahaan ke dalam daftar tersebut dapat meningkatkan pengawasan regulator dan menambah tekanan terhadap aktivitas bisnis mereka di pasar internasional.

Situasi ini muncul ketika kendaraan listrik buatan China semakin agresif memperluas pasar global. Dalam beberapa tahun terakhir, merek-merek seperti BYD berhasil meningkatkan penjualan secara signifikan dan mulai menjadi pesaing serius bagi produsen otomotif tradisional di berbagai negara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menariknya, BYD sebenarnya telah memiliki fasilitas produksi bus listrik di Lancaster, California, selama lebih dari satu dekade. Sementara Nio juga masih menjalankan pusat riset dan pengembangan di San Jose, California.

Kini kedua perusahaan menghadapi tantangan baru. Selain terus membangun bisnis kendaraan listrik di pasar global, mereka juga harus berupaya membatalkan status yang diberikan Pentagon agar tidak menjadi hambatan dalam ekspansi internasional di masa depan.