Diet Karnivora Picu Kolesterol Jahat dan Kekurangan Serat, Waspadai Risikonya

diet, pola makan, diet karnivora, kekurangan nutrisi, Diet Karnivora Picu Kolesterol Jahat dan Kekurangan Serat, Waspadai Risikonya, Penelitian masih sangat terbatas, Manfaat yang dirasakan sebagian orang, Kekurangan nutrisi yang perlu diwaspadai, Kolesterol jahat cenderung meningkat, Belum ada data jangka panjang, Apa artinya?

Diet karnivora yang hanya mengonsumsi produk hewani disebut berisiko menyebabkan kekurangan serat dan beberapa vitamin penting, serta meningkatkan kadar kolesterol jahat.

Dilansir dari Eating Well (11/2/2026), temuan ini berasal dari tinjauan ilmiah terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nutrients.

Peneliti menilai bukti manfaat diet ini masih terbatas dan belum ada penelitian jangka panjang yang memastikan keamanannya.

Penelitian masih sangat terbatas

Peneliti melakukan scoping review, yaitu metode untuk mengumpulkan dan menelaah seluruh penelitian yang tersedia mengenai satu topik.

Metode ini biasanya digunakan ketika jumlah riset masih sedikit dan belum banyak uji klinis besar.

Peneliti hanya memasukkan studi pada manusia yang benar-benar menjalankan pola makan berbasis hewani hampir sepenuhnya.

Studi yang masih mengandung lebih dari 10 persen makanan nabati tidak dimasukkan. Setelah diseleksi, hanya sembilan studi dari tahun 2021 hingga 2025 yang memenuhi kriteria. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa penelitian tentang diet karnivora masih sangat terbatas.

Sebagian besar data juga berasal dari laporan pribadi, survei media sosial, dan studi kasus kecil.

Manfaat yang dirasakan sebagian orang

diet, pola makan, diet karnivora, kekurangan nutrisi, Diet Karnivora Picu Kolesterol Jahat dan Kekurangan Serat, Waspadai Risikonya, Penelitian masih sangat terbatas, Manfaat yang dirasakan sebagian orang, Kekurangan nutrisi yang perlu diwaspadai, Kolesterol jahat cenderung meningkat, Belum ada data jangka panjang, Apa artinya?

Ilustrasi diet karnivora. Studi terbaru menemukan diet karnivora berisiko meningkatkan kolesterol jahat dan menyebabkan kekurangan nutrisi penting.

Banyak pengikut diet karnivora mengaku merasakan perubahan positif. Survei terhadap lebih dari 2.000 orang menunjukkan klaim seperti tubuh terasa lebih bertenaga, rasa kenyang lebih lama, tidur lebih nyenyak, serta fokus yang meningkat.

Beberapa pemeriksaan darah dalam studi tertentu juga menunjukkan penurunan penanda peradangan seperti C-reactive protein (CRP).

Tes fungsi hati pada sebagian peserta juga menunjukkan perbaikan nilai gamma-glutamyltransferase (GGT).

Sebagian peserta dengan gangguan metabolik sebelumnya melaporkan perbaikan kadar gula darah dan trigliserida.

Kekurangan nutrisi yang perlu diwaspadai

Meski ada klaim manfaat, peneliti menemukan kekurangan nutrisi yang konsisten pada pola makan ini.

Asupan serat rata-rata kurang dari 1 gram per hari. Angka tersebut jauh di bawah rekomendasi 25 hingga 30 gram per hari untuk menjaga kesehatan usus dan jantung.

Asupan kalsium juga sering kali kurang dari 800 miligram per hari. Kebutuhan orang dewasa umumnya sekitar 1.000 miligram per hari.

Kekurangan juga ditemukan pada magnesium, vitamin C, vitamin B1, kalium, dan folat. Beberapa model menu bahkan menunjukkan kadar vitamin A yang terlalu tinggi akibat konsumsi hati dalam jumlah besar.

Kondisi tersebut berisiko menyebabkan kelebihan vitamin A atau toksisitas.

Kolesterol jahat cenderung meningkat

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan banyak peserta mengalami peningkatan kadar LDL atau kolesterol jahat. Kenaikan LDL dikenal sebagai faktor risiko penyakit jantung.

Dalam salah satu studi terhadap 24 peserta, jumlah orang dengan kadar lemak darah tidak normal memang sedikit menurun.

Namun kadar kolesterol total dan LDL secara umum justru lebih tinggi selama menjalani diet karnivora. Peserta yang awalnya sehat bahkan mengalami kenaikan beberapa penanda metabolik.

Belum ada data jangka panjang

Seluruh studi yang dianalisis berukuran kecil dan dilakukan dalam waktu singkat. Belum ada penelitian yang mengikuti pengikut diet karnivora selama bertahun-tahun.

Variasi pola makan juga membuat hasilnya sulit digeneralisasi. Sebagian orang hanya mengonsumsi daging merah, garam, dan air.

Sebagian lainnya menambahkan telur, produk susu, ikan, atau sedikit madu. Perbedaan tersebut dapat memengaruhi hasil kesehatan masing-masing individu.

Lauren Manaker, M.S., RDN, LD, CLEC, dalam laporan Eating Well menyatakan bahwa gambaran ilmiah tentang diet karnivora masih belum jelas sepenuhnya.

“Beberapa orang memang melaporkan perbaikan gejala atau penurunan berat badan, tetapi risiko kekurangan nutrisi dan kenaikan kolesterol jahat tetap menjadi perhatian,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa bukti ilmiah saat ini masih mendukung pola makan seimbang yang mencakup berbagai kelompok makanan.

Apa artinya?

Diet karnivora terlihat sederhana karena hanya berfokus pada produk hewani. Kesederhanaan ini membuat sebagian orang merasa lebih mudah menjalaninya.

Namun tubuh membutuhkan berbagai jenis zat gizi dari beragam sumber makanan. Serat, misalnya, berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan dan menurunkan risiko penyakit jantung.

Memenuhi seluruh kebutuhan nutrisi hanya dari produk hewani sangat sulit tanpa suplemen tambahan.

Bukti ilmiah yang ada saat ini masih lebih kuat mendukung pola makan seimbang seperti diet Mediterania yang kaya sayur, buah, biji-bijian utuh, dan protein tanpa lemak.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa tren diet populer tidak selalu berarti aman dalam jangka panjang.

Konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap penting sebelum melakukan perubahan pola makan ekstrem.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang