Viral Diet Karnivora untuk Turunkan Berat Badan, Benarkah Bikin Auto Langsing?

Tips diet menurunkan berat badan
Tips diet menurunkan berat badan

 Diet ekstrem kembali mencuri perhatian. Kali ini lewat diet karnivora yang mengandalkan konsumsi makanan berbasis hewani saja. 

Pola makan ini semakin populer di media sosial dan forum kebugaran, terutama karena klaimnya yang menjanjikan penurunan berat badan dengan cepat tanpa perlu menghitung kalori atau menghindari lemak. 

Namun, di balik tren tersebut, muncul pertanyaan besar, apakah diet karnivora benar-benar efektif dan aman untuk jangka panjang? Scroll untuk info lebih lanjut yuk! 

Di tengah meningkatnya kasus obesitas dan kesadaran akan gaya hidup sehat, banyak orang rela mencoba metode diet yang terdengar tidak biasa. Diet karnivora bahkan dianggap sebagai versi ekstrem dari diet rendah karbohidrat. 

Meski sebagian pelaku mengaku merasakan manfaat, dunia medis menilai pendekatan ini perlu dikaji lebih dalam sebelum dijadikan solusi penurunan berat badan.

Apa Itu Diet Karnivora?

Ilustrasi Daging

Melansir dari Medical News Today, diet karnivora adalah pola makan yang hanya mengandalkan produk hewani, seperti daging merah, unggas, ikan, makanan laut, telur, serta produk susu. Diet ini secara ketat mengecualikan buah, sayuran, biji-bijian, dan sumber karbohidrat nabati lainnya.

Pendekatan ini mirip dengan diet rendah karbohidrat ekstrem. Sebuah artikel tahun 2018 mencatat bahwa diet rendah karbohidrat, termasuk diet karnivora, secara teori dapat membantu menurunkan berat badan dengan cara menurunkan kadar gula darah dan membawa tubuh ke kondisi ketosis, yakni keadaan saat tubuh membakar lemak sebagai sumber energi utama.

Apakah Diet Karnivora Efektif untuk Menurunkan Berat Badan?

Hingga saat ini, belum ada penelitian konklusif yang membuktikan bahwa diet karnivora aman dan efektif sebagai metode penurunan berat badan. Studi yang tersedia masih memiliki banyak keterbatasan, baik dari sisi desain maupun validitas data.

Salah satu data yang sering dikutip berasal dari survei tahun 2021 terhadap 2.029 orang yang menjalani diet karnivora selama enam bulan. Dari jumlah tersebut, 928 peserta melaporkan kondisi kelebihan berat badan atau obesitas, dan hampir 90 persen mengaku berat badannya membaik atau obesitasnya berkurang.

Namun, survei ini memiliki kelemahan besar. Seluruh data didasarkan pada penilaian mandiri peserta, tanpa pemeriksaan medis atau pengukuran objektif seperti berat badan terverifikasi, kadar kolesterol, atau parameter kesehatan lainnya. Artinya, hasil tersebut belum bisa dijadikan bukti ilmiah yang kuat.

Risiko Kekurangan Nutrisi dan Efek Samping

Meski sebagian orang mengalami penurunan berat badan, diet karnivora tergolong sangat restriktif dan berisiko menimbulkan berbagai defisiensi nutrisi penting, seperti:

- Tiamin

- Vitamin C

- Kalsium

- Magnesium

- Kalium

Selain itu, diet ini juga dikaitkan dengan sejumlah efek samping, antara lain:

- Diare atau sembelit

- Kram otot

- Rambut rontok atau menipis

- Insomnia

- Gatal-gatal dan kulit kering

- Gangguan siklus menstruasi

- Kuku rapuh

- Perubahan denyut jantung

Efek tersebut menunjukkan bahwa meski berat badan bisa turun, tubuh mungkin membayar harga yang cukup mahal dari sisi kesehatan.

Tips Jika Tetap Ingin Mencoba Diet Karnivora

Bagi orang yang tetap ingin mencoba diet karnivora untuk menurunkan berat badan, disarankan untuk memilih sumber protein berkualitas tinggi, seperti:

- Daging tanpa lemak

- Unggas

- Ikan

- Telur

Meski tidak lazim dalam diet karnivora murni, sebagian ahli menyarankan memasukkan makanan nabati tinggi lemak, seperti alpukat, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Langkah ini bertujuan membantu memenuhi kebutuhan serat dan vitamin penting yang tidak didapat dari produk hewani saja.

Sebagai alternatif, seseorang juga dapat mempertimbangkan diet rendah karbohidrat dan tinggi protein yang lebih seimbang, dengan cakupan makanan bernutrisi lebih luas.

Selain itu, siapa pun yang mempertimbangkan diet karnivora sangat dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga medis terlebih dahulu agar dokter dapat membantu menilai apakah pola makan ini aman, sekaligus memberi saran untuk mencegah kekurangan nutrisi selama melakukan diet.