Inilah Alasan Makanan Sisa Jangan Dibungkus Pakai Aluminium Foil, Waspadai Risikonya
Aluminium foil sering digunakan untuk menyimpan atau membungkus makanan karena dianggap praktis, aman, dan mampu menjaga bentuk maupun kesegaran hidangan dalam waktu tertentu.
Bahan ini juga populer karena mudah dibentuk mengikuti kontur makanan sehingga membuat proses penyimpanan lebih rapi dan efisien, baik di rumah maupun di restoran.
Namun, penggunaan aluminium foil untuk membungkus makanan sisa sebenarnya tidak disarankan.
Beberapa ahli gizi dan pakar keamanan pangan menjelaskan alasan kenapa aluminium foil sebaiknya dihindari sebagai bahan pembungkus makanan.
Alasan Makanan Sisa Tidak Dibungkus Pakai Aluminium Foil
Ada beberapa alasan mengapa makanan sisa sebaiknya tidak dibungkus menggunakan aluminium foil.
Berikut penjelasannya:
1. Memicu Pertumbuhan Bakteri
Angel Luk, RD, ahli gizi terdaftar di Vancouver, AS menjelaskan bahwa sebagian besar bahan yang digunakan untuk memproduksi aluminium foil adalah aluminium.
Kandungan aluminium pada bahan tersebut mencapai 98,5 persen.
Selain itu, aluminium foil juga terbuat dari campuran besi dan silikon untuk mencegah kebocoran.
Bahan-bahan tersebut kemudian ditekan selama proses produksi agar menghasilkan lapisan yang tipis.
Luk mengatakan, aluminium foil sebenarnya tidak mempercepat pertumbuhan bakteri ketika digunakan untuk membungkus makanan sisa.
Namun, cara membungkus makanan dengan aluminium foil biasanya masih menyisakan ruang yang memungkinkan udara tetap masuk.
“Tidak adanya lapisan kedap udara membuat bakteri tertentu lebih mudah tumbuh lebih cepat,” ujar Luk dikutip dari Reader’s Digest, Jumat (7/11/2025).
Ia menambahkan, bakteri Staphylococcus dan Bacillus cereus dapat tumbuh dan berkembang biak ketika mendapat asupan udara.
Kedua bakteri tersebut tidak akan mati walaupun makanan dipanaskan ulang pada suhu yang tinggi.
Selain itu, Luk juga menyebutkan, aluminium foil memerangkap lebih banyak panas ketimbang bahan lain.
Hal tersebut membuat sisa makanan menjadi lebih cepat rusak.
“Jika menggunakan foil untuk menyimpan sisa makanan, saya sarankan untuk makanan yang sudah benar-benar dingin atau sudah dingin sejak awal,” jelas Luk.
2. Keracunan Makanan
Sementara itu, profesor College of Public Health University of South Florida, Tampa, AS, Jill Roberts, menjelaskan bahwa penggunaan aluminium foil ketika menyimpan kentang panggang berpotensi memicu keracunan makanan akibat botulisme.
Adapun bakteriClostridium botulinum dapat melepaskan toksin yang dapat membahayakan sistem saraf pusat dan bisa berakibat fatal.
“Kentang dengan kulitnya tidak boleh disimpan dalam bungkus aluminium foil karena dapat menyebabkan keracunan botulisme,” katanya.
Roberts menjelaskan, keracunan dapat terjadi karena Clostridium botulinum berkembang biak dalam kondisi oksigen rendah.
Saat kentang dibungkus menggunakan aluminium foil, pasokan oksigen menjadi terbatas dan memungkinkan bakteri tersebut untuk berkembang biak.
Selain itu, menyimpan makanan menggunakan aluminium foil juga berpotensi memicu reaksi kimia dan kontaminasi.
3. Aluminium Foil Dapat Bereaksi dengan Makanan
Zachary Cartwright, anggota Divisi Manajemen Keamanan dan Mutu Pangan di Institute of Food Technologists (IFT), mengatakan bahwa aluminium foil dapat bereaksi dengan makanan asam, seperti misalnya saus tomat.
Jika aluminium foil larut ke dalam makanan, hal ini dapat mengubah rasa makanan dan meningkatkan asupan aluminium yang terkait dengan masalah kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah besar dan jangka panjang.
Agar terhindar dari risiko kesehatan, batasi penggunaan aluminium foil untuk menyimpan makanan.
Bahan ini sebaiknya digunakan untuk membungkus makanan hanya untuk waktu yang singkat (tidak lebih dari dua hari).
Selain itu, hindari membungkus makanan panas atau hangat langsung dengan kertas aluminium.
Sebaliknya, biarkan makanan mendingin hingga suhu ruangan atau masukkan ke dalam lemari es dengan cepat.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang