Intermittent Fasting Lagi Tren, Dokter Peringatkan Risiko yang Tak Banyak Disadari

Berat badan.
Berat badan.

Intermittent fasting kini menjadi salah satu metode diet yang semakin populer di berbagai negara. Pola makan ini dikenal karena fokusnya bukan pada jenis makanan yang dikonsumsi, melainkan kapan seseorang makan.

Banyak orang memilih metode ini karena dianggap efektif menurunkan berat badan, membantu metabolisme tubuh, hingga berpotensi memberikan manfaat kesehatan lainnya. Namun, para dokter mengingatkan bahwa intermittent fasting tidak selalu cocok untuk semua orang. Scroll untuk info lebih lanjut...

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Secara sederhana, intermittent fasting mengatur jam makan dalam periode tertentu. Ada yang hanya makan dalam rentang beberapa jam setiap hari, ada pula yang berpuasa penuh selama satu atau beberapa hari.

Ahli gizi terdaftar Tara Collingwood mengatakan, lebih dari 13 persen warga Amerika Serikat pernah mencoba intermittent fasting. Banyak dari mereka melakukannya secara sengaja sebagai program diet, sementara sebagian lainnya bahkan tanpa sadar sudah menerapkannya.

Salah satu bentuk intermittent fasting yang paling umum adalah time-restricted eating (TRE), yaitu membatasi waktu makan dalam jangka tertentu, misalnya hanya delapan jam per hari.

Metode ini memang dapat membantu seseorang mengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi. Namun, penelitian terbaru dari Jerman menemukan bahwa pola ini tidak meningkatkan kesehatan metabolik jika tidak disertai pengurangan kalori.

Menurut Collingwood, waktu makan juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh. “Jika seseorang makan lebih larut di siang atau malam hari, itu cenderung sedikit lebih buruk untuk metabolisme dan risiko penyakit,” jelasnya, sebagaimana dikutip dari ABC, Selasa, 21 April 2026.

Bahkan, studi dari American Heart Association menyimpulkan bahwa pola makan terbatas delapan jam per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular hingga 91 persen.

Sementara itu, beberapa penelitian menyebut puasa dalam durasi lebih panjang, seperti tidak makan selama empat hari atau lebih, mungkin dapat meningkatkan fungsi kognitif. Namun, puasa singkat dinilai kurang efektif, terutama bagi mereka yang sudah mengalami penurunan fungsi kognitif. 

Isu lain yang masih menjadi perhatian adalah efektivitas penurunan berat badan dalam jangka panjang. Collingwood menegaskan bahwa hingga kini dampak jangka panjang intermittent fasting masih belum sepenuhnya diketahui.

Ia juga menekankan bahwa penurunan berat badan sebenarnya lebih dipengaruhi oleh total kalori yang dikurangi, bukan sekadar mempersempit waktu makan. “Pengurangan kalori itulah yang menyebabkan penurunan berat badan, bukan semata-mata makan dalam waktu yang lebih singkat,” ujarnya.

Penelitian mengenai hubungan puasa dan kanker juga mulai berkembang. Sebuah studi kecil tahun 2025 yang dimuat dalam British Journal of Cancer menunjukkan bahwa pola makan normal selama lima hari dan pembatasan makan selama dua hari mungkin dapat sedikit memperlambat perkembangan kanker payudara metastatik.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Daniel Tamae, profesor kimia yang juga meneliti bidang tersebut, mengatakan ada dasar ilmiah yang cukup kuat untuk menghubungkan puasa dengan pertumbuhan tumor. “Beberapa tumor dipicu oleh metabolisme glukosa. Jadi memang ada alasan ilmiah di balik itu,” jelasnya.

Selain itu, beberapa studi lain pada pasien kanker menemukan bahwa intermittent fasting berpotensi membantu mengurangi beberapa efek samping kemoterapi. Meski begitu, para dokter menegaskan bahwa tidak semua orang aman menjalani metode ini. Penderita diabetes, lansia, atau mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mencoba intermittent fasting.