Kisah Nasrudin, Warga Tuban yang Daftar Haji Pakai Uang Receh Rp 1.000 Hasil Tabungan 11 Tahun

Kisah Nasrudin, Warga Tuban yang Daftar Haji Pakai Uang Receh Rp 1.000 Hasil Tabungan 11 Tahun, Menabung Selama 11 Tahun, Angkut Uang Koin Pakai Mobil Pikap, Bermula dari Temukan Rp 1.000 di Jalan, Pihak Bank Turunkan 10 Pegawai untuk Menghitung

Pemandangan tidak biasa terlihat di Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Tuban pada Rabu (4/2/2026) pagi. Seorang pria bernama Moh Nasrudin (45) bersama istrinya mendatangi bank tersebut untuk mendaftarkan diri naik haji.

Yang menarik perhatian publik, pasangan suami istri asal Desa Sumberagung, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur ini membawa uang koin dalam jumlah besar. Tidak tanggung-tanggung, mereka membawa 13 kaleng biskuit yang penuh berisi uang koin pecahan Rp 1.000.

Menabung Selama 11 Tahun

Nasrudin mengaku, tumpukan uang receh tersebut merupakan hasil jerih payahnya menabung sedikit demi sedikit selama lebih dari satu dekade.

"Nabungnya kurang lebih 11 tahun 35 hari. Prosesnya memang panjang," ujar Nasrudin saat ditemui di lokasi, Rabu.

Total tabungan dari uang koin Rp 1.000 (Keyword) tersebut diperkirakan mencapai hampir Rp 55 juta, bahkan diprediksi mendekati angka Rp 60 juta. Jumlah tersebut sudah lebih dari cukup untuk menutupi biaya pendaftaran haji bagi dirinya dan sang istri.

Angkut Uang Koin Pakai Mobil Pikap

Lantaran bobotnya yang berat, Nasrudin harus menggunakan mobil pikap untuk mengangkut 13 kaleng biskuit tersebut ke bank. Ia tiba di BSI KCP Tuban sekitar pukul 08.00 WIB dan tercatat sebagai nasabah pertama yang mengambil antrean hari itu.

Sesampainya di bank, petugas keamanan (security) langsung sigap membantu menurunkan kaleng-kaleng berisi koin tersebut dari bak pikap. Kejadian ini sempat membuat para nasabah lain dan karyawan bank terkesima.

"Hari ini kami punya niat dan ikhtiar untuk bisa mendaftar haji dari hasil uang koin yang kami kumpulkan sedikit demi sedikit. Semoga ini bisa menjadi inspirasi bagi warga yang lain," tuturnya.

Bermula dari Temukan Rp 1.000 di Jalan

Nasrudin menceritakan, motifnya mengumpulkan uang receh bermula dari kejadian sederhana 11 tahun silam. Saat itu, ia menemukan uang koin Rp 1.000 di jalan. Dari sanalah muncul keyakinan bahwa jika dikumpulkan dengan konsisten, uang receh pun bisa menjadi besar.

Sehari-hari, Nasrudin bekerja di pasar. Di tengah kesibukannya, ia tak pernah absen menyisihkan uang receh hasil usahanya.

"Dengan menabung dari penghasilan sehari-hari, sedikit demi sedikit, insyaallah bisa tercapai," tambah Nasrudin.

Pihak Bank Turunkan 10 Pegawai untuk Menghitung

Branch Manager BSI KCP Tuban, Riyanto, mengakui bahwa kedatangan Nasrudin dan istrinya sangat di luar dugaan. Untuk memproses tabungan haji tersebut, pihak bank harus mengerahkan sekitar 10 orang karyawan untuk membantu menghitung uang koin secara manual dan memastikan jumlahnya akurat.

Proses penghitungan tersebut diketahui memakan waktu hingga berjam-jam.

"Setelah disampaikan ke security, ternyata nasabah ingin mendaftar haji dengan membawa uang koin. Akhirnya dengan sigap, teman-teman security dan karyawan membantu," kata Riyanto.

Riyanto menegaskan bahwa pihaknya memberikan pelayanan maksimal tanpa membedakan kondisi fisik uang yang dibawa nasabah.

"Terkait bentuk uangnya, kami tidak membeda-bedakan. Prinsip kami adalah memberikan pelayanan maksimal kepada siapa pun," jelasnya.

Bagi Riyanto, ini adalah pengalaman unik selama kariernya di dunia perbankan. Ia mengaku baru kali ini menemui nasabah yang mendaftar haji menggunakan uang koin dalam jumlah sebanyak itu.

"Ini pengalaman pertama saya dari Papua sampai sekarang di Tuban. Ini sangat amazing. Dengan kegigihan mengumpulkan koin demi koin, akhirnya bisa mendaftar haji, bahkan suami istri," pungkasnya. 

Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Daftar Haji, Nasrudin Warga Tuban Bawa 13 Kaleng Uang Koin Hasil Nabung 11 Tahun, Bank: Amazing

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang