Jepang Akan Jual Unagi Hasil Penangkaran, Harganya Rp 900.000
Belut hasil penangkaran untuk pertama kalinya dijual di Jepang mulai akhir Mei 2026 mendatang. Langkah ini bertujuan mengurangi penangkapan belut liar yang populasinya terus menurun.
Populasi belut dunia menurun akibat pencemaran air, kerusakan lahan basah, pembangunan bendungan, serta penangkapan ikan berlebihan, dilansir dari VNExpress, jumat (22/5/2026).
Pertama kalinya, Jepang siap jual belut hasil penangkaran
Belut jepang sulit berkembang biak
Belut atau unagi hasil penangkaran akan dijual di Jepang sebagai upaya mengurangi tekanan pada populasi belut liar. Berapa harganya?
Belut telah menjadi makanan populer di Jepang dan sejumlah negara Asia lainnya.
Di Jepang, belut dikenal sebagai “unagi” dan biasanya disajikan dalam bentuk kabayaki atau belut panggang dengan saus manis.
Namun, membudidayakan belut bukan hal mudah karena ikan ini sulit berkembang biak tanpa campur tangan manusia.
Peneliti Jepang baru berhasil mengembangbiakkan belut Jepang dari telur di laboratorium pada 2010. Saat itu, biaya produksinya sangat mahal.
Pejabat Badan Perikanan Jepang bidang promosi akuakultur, Yasutaka Okamoto mengatakan, biaya produksi saat ini berhasil ditekan berkat perkembangan teknologi.
"Berkat berbagai terobosan teknologi kecil, biaya produksi kini mencapai sekitar 1.800 yen (sekitar Rp 200.000) per ekor benih belut, turun dari lebih dari satu juta yen (sekitar Rp 111,35 juta) pada tahap awal, dan turun dari sekitar 40.000 yen (sekitar Rp 4,4 juta) pada tahun 2016," tutur Okamoto, dikutip dari AFP.
Meski begitu, harga benih belut hasil penangkaran masih tiga hingga empat kali lebih mahal dibandingkan benih belut liar.
“Kami pikir ini saat yang tepat untuk menguji respons pasar,” ujarnya.
Langkah besar menuju komersialisasi belut budidaya
Belut atau unagi hasil penangkaran akan dijual di Jepang sebagai upaya mengurangi tekanan pada populasi belut liar. Berapa harganya?
Proyek pengembangan belut budidaya ini melibatkan peneliti pemerintah, universitas, dan perusahaan swasta di Jepang.
Belut kabayaki hasil budidaya penuh akan mulai dijual pada Jumat (29/5/2026) di sebuah department store di Tokyo serta beberapa toko lain, termasuk toko daring.
Perusahaan budidaya belut, Yamada Suisan menyebut penjualan ini sebagai yang pertama di dunia sekaligus langkah besar menuju komersialisasi penuh belut hasil budidaya.
Dua ekor belut kabayaki akan dijual dengan harga sekitar 9.000 yen atau sekitar Rp 900.000, setara produk premium di Jepang.
Di sisi lain, isu konservasi belut masih menjadi perhatian dunia. Pada tahun 2025, forum internasional perdagangan satwa liar menolak proposal Uni Eropa untuk memperluas perlindungan terhadap lebih banyak spesies belut.
Usulan itu ditolak negara-negara konsumen utama belut, termasuk Jepang.
Menurut Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), belut Jepang dan belut Amerika Serikat masuk kategori terancam punah, sedangkan belut Eropa berstatus sangat terancam punah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang