Nama Dicatut Penipu, Bupati Sidoarjo Ingatkan Warga: Bantuan Pemerintah Pakai Proposal Resmi

Aksi penipuan dengan modus mencatut nama pejabat publik kembali marak di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo, Jawa Timur. Kali ini, nama Bupati Sidoarjo Subandi disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk memeras warga.
Pelaku diketahui menggunakan aplikasi pesan singkat WhatsApp untuk meminta sejumlah uang dengan nilai fantastis, yakni mencapai Rp 50 juta. Salah satu tokoh yang nyaris menjadi korban adalah Ketua Lazisnu PCNU Sidoarjo, Dodi Dhiyauddin.
Kronologi Kejadian
Peristiwa ini bermula pada Selasa (3/3/2026), ketika Dodi menerima pesan dari nomor asing yang mengaku sebagai asisten bupati. Berikut adalah urutan kejadiannya:
- Pesan dari "Asisten": Dodi awalnya dihubungi oleh seseorang bernama Diky yang mengaku sebagai asisten pribadi Bupati Sidoarjo.
- Telepon Langsung: Tak lama berselang, Dodi menerima sambungan telepon dari seorang pria yang mengklaim dirinya adalah Bupati Subandi.
- Instruksi Mencurigakan: Pelaku meminta Dodi untuk menjauh dari keramaian sebelum melancarkan aksinya.
- Permintaan Dana: Di tengah percakapan, pelaku meminta bantuan uang sebesar Rp 50 juta dengan dalih ada keperluan pribadi yang sangat mendesak.
- Verifikasi Gagal: Dodi merasa curiga karena suara dan logat bicara penelepon tidak mirip dengan Bupati Subandi yang aslinya.
- Nomor Rekening Pribadi: Kecurigaan semakin kuat saat pelaku mengirimkan nomor rekening atas nama pribadi, bukan instansi resmi.
- Video Call Gelap: Saat Dodi mencoba melakukan video call, pelaku tidak berani menunjukkan wajahnya di kamera.
"Alhamdulillah saya selamat dan tidak sempat mentransfer uang tersebut. Saat pelaku mencoba meyakinkan melalui video call, ia juga tidak berani menunjukkan wajahnya di kamera," ujar Dodi, Selasa (3/3/2026).
Penegasan Bupati Sidoarjo
Menanggapi maraknya penipuan mencatut nama pejabat, Bupati Sidoarjo Subandi mengeluarkan imbauan keras kepada seluruh lapisan masyarakat. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menghubungi warga secara pribadi untuk urusan transaksional atau meminta uang.
"Jangan mudah percaya. Apalagi sampai meminta transfer uang dengan alasan biaya administrasi bantuan atau lainnya," tegas Subandi.
Subandi menjelaskan bahwa modus yang digunakan pelaku biasanya adalah menjanjikan bantuan pemerintah sebagai iming-iming. Namun, ia memastikan bahwa penyaluran bantuan dari Pemkab Sidoarjo selalu melalui jalur formal.
"Kalau ada bantuan pemerintah, itu pasti menggunakan mekanisme proposal resmi. Pemerintah tidak pernah memberikan bantuan tanpa prosedur yang jelas, apalagi sampai meminta uang kepada masyarakat," tambahnya.
Menjelang Hari Raya Idul Fitri, kasus kriminalitas siber dan penipuan digital cenderung meningkat. Bupati Subandi meminta warga untuk selalu melakukan verifikasi melalui saluran komunikasi resmi pemerintah jika menerima pesan mencurigakan.
Masyarakat diminta untuk melaporkan nomor-nomor mencurigakan yang mengatasnamakan pejabat publik agar tidak ada korban materiil di kemudian hari.
Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang