Gejala Angina pada Perempuan Kerap Berbeda, Ini yang Perlu Diwaspadai

gejala angina, gejala angina pada perempuan, angina pektoris, gejala angina pektoris pada perempuan, Gejala Angina pada Perempuan Kerap Berbeda, Ini yang Perlu Diwaspadai, Tidak selalu berupa nyeri dada, Perempuan lebih sering mengalami gejala yang tidak khas, Gejala juga bisa menyerupai sakit maag, Perhatikan perubahan kemampuan tubuh

Angina pektoris atau angina adalah sinyal peringatan dari jantung di mana kondisi otot jantung tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang cukup akibat penyempitan pembuluh darah. Mengenali gejala ini sejak dini dapat membantu mencegah serangan jantung.

Namun, gejala angina pektoris pada setiap orang tidak selalu sama, misalnya saja pada perempuan. Akibatnya, karena tidak terdeteksi sejak dini, tidak sedikit kasus yang baru diperiksakan ke dokter setelah kondisi berkembang menjadi penyakit jantung yang lebih serius.

Untuk menghindari ini, kenali gejala angina pada perempuan sejak dini. Simak penjelasannya berikut ini.

Gejala Angina pada Perempuan Kerap Berbeda, Ini yang Perlu Diwaspadai

Tidak selalu berupa nyeri dada

Secara umum, angina pektoris ditandai dengan rasa nyeri atau tekanan berat di dada yang muncul saat beraktivitas atau mengalami stres emosional. Keluhan biasanya membaik setelah beristirahat selama beberapa menit.

Rasa nyeri tersebut dapat menjalar ke lengan kiri, rahang, punggung, juga ulu hati. Pada sebagian orang, gejala juga disertai sesak napas, keringat dingin, atau mual.

Namun, menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FAsCC, perempuan sering kali tidak mengalami keluhan penyakit jantung tidak selalu muncul dalam bentuk nyeri dada yang khas seperti yang selama ini banyak dikenal masyarakat.

"Jadi, nyeri dada yang khas untuk serangan jantung, seumur hidup saya jadi dokter jantung, yang benar-benar khas itu sangat jarang, mungkin hanya 20-30%. Yang lainnya adalah variannya," ujar dr. Febtusia dalam sesi edukasi media yang digelar Daewoong Pharmaceutical Indonesia dan PERKI di Noble House, Jakarta pada Selasa (09/06).

Perempuan lebih sering mengalami gejala yang tidak khas

dr. Febtusia menjelaskan bahwa perempuan memiliki respons terhadap nyeri yang berbeda dibandingkan laki-laki. Hal tersebut membuat gejala angina pektoris pada perempuan kerap muncul dalam bentuk yang tidak terduga.

Ia mencontohkan pengalaman menangani pasien perempuan yang datang hanya dengan keluhan kesemutan pada jari kelingking. Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa stress test, ditemukan perubahan pada rekam jantung yang mengarah pada gangguan aliran darah ke jantung.

"Pada saat dilakukan stress test, EKG-nya berubah," papar dr. Febtusia.

Gejala juga bisa menyerupai sakit maag

Selain muncul dalam bentuk yang tidak khas, gejala angina pektoris pada perempuan juga dapat menyerupai gangguan pencernaan.

dr. Febtusia menjelaskan bahwa beberapa pembuluh darah jantung berada di area yang berdekatan dengan organ-organ di rongga perut. Karena itu, gangguan aliran darah pada area tertentu di jantung dapat menimbulkan rasa tidak nyaman yang mirip sakit maag.

Ia menceritakan pernah menangani pasien berusia 28 tahun yang awalnya mengira hanya mengalami gangguan lambung. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, ternyata ditemukan sumbatan total pada pembuluh darah jantung.

"Ada pasien umur 28 tahun, bolak-balik ke dokter, dibilang sakit maag. Begitu di-MCU, treatment test, ternyata sumbatan total," jelas dr. Febtusia.

Perhatikan perubahan kemampuan tubuh

Menurut dr. Febtusia, salah satu tanda yang juga perlu diwaspadai adalah perubahan kemampuan tubuh dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Misalnya, seseorang yang sebelumnya mampu menaiki anak tangga tanpa keluhan tiba-tiba menjadi mudah lelah, lebih cepat sesak, atau bahkan tidak lagi mampu melakukan aktivitas yang biasa dilakukan.

"Nah, jadi memang kalau perempuan itu, yang harus diwaspadai adalah perubahan dari fungsional," tutur dr. Febtusia.

Ia mencontohkan perubahan fungsional seperti, "Jadi, misalnya seperti tadi saya bilang, 'tadinya saya main padel kuat, eh sekarang saya naik tangga kok enggak kuat, ya.'"

Kemudian, mual, muntah, mudah kehabisan napas saat berbicara, atau keluhan yang semakin sering muncul juga patut diperhatikan.

Mengapa gejalanya bisa berbeda pada perempuan?

gejala angina, gejala angina pada perempuan, angina pektoris, gejala angina pektoris pada perempuan, Gejala Angina pada Perempuan Kerap Berbeda, Ini yang Perlu Diwaspadai, Tidak selalu berupa nyeri dada, Perempuan lebih sering mengalami gejala yang tidak khas, Gejala juga bisa menyerupai sakit maag, Perhatikan perubahan kemampuan tubuh

Ilustrasi Mengalami Angina Pektoris

Menurut dr. Febtusia, kondisi pembuluh darah jantung pada setiap orang tidak selalu sama. Pada sebagian perempuan, gangguan aliran darah ke jantung dapat melibatkan pembuluh darah yang berukuran lebih kecil, sehingga keluhannya tidak selalu muncul sebagai nyeri dada yang khas.

Temuan ini sejalan dengan penjelasan yang dimuat dalam American Heart Association (AHA)  pada 2025. Pada laki-laki, penyakit jantung lebih sering disebabkan oleh penyumbatan pada arteri koroner utama atau obstructive coronary artery disease (CAD). Sementara pada perempuan, gangguan dapat terjadi pada pembuluh darah kecil yang bercabang dari arteri koroner, kondisi yang dikenal sebagai microvascular disease.

Karena melibatkan pembuluh darah yang lebih kecil, gejala yang muncul sering kali lebih samar dan tidak selalu terlihat pada pemeriksaan awal. 

Variasi anatomi seperti ini menunjukkan bahwa kondisi jantung setiap orang bisa berbeda, sehingga penilaian risiko tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan gejala atau perkiraan semata.

"Jadi memang kita butuh tools. Kita enggak bisa serta-merta (mendiagnosis) hanya berdasarkan penerawangan," kata dr. Febtusia.

Untuk mendeteksi risiko sejak dini, dr. Febtusia menganjurkan masyarakat melakukan medical check-up (MCU) secara berkala, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti kolesterol tinggi, hipertensi, diabetes, obesitas, dan kebiasaan merokok.

"Jadi nanti, jangan lupa di-MCU. Cari treadmill test. Itu untuk screening awal untuk penyakit jantung koroner," pungkas dr. Febtusia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang