Top 6+ Penyebab Gangguan Ginjal pada Anak yang Perlu Diwaspadai

gangguan ginjal pada anak, 6 Penyebab Gangguan Ginjal pada Anak yang Perlu Diwaspadai, 1. Kelainan anatomi saluran kemih, 2. Gangguan metabolisme kalsium, 3. Faktor genetik, 4. Malnutrisi dan dehidrasi, 5. Konsumsi tinggi natrium, 6. Risiko diabetes sejak dini

Gangguan ginjal pada anak kini makin sering ditemukan, bahkan pada usia yang sangat dini. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat berkembang hingga memerlukan tindakan serius seperti cuci darah.

Dokter Spesialis Urologi Dr. dr. Widi Atmoko, Sp.U (K), FECSM, FACS, menjelaskan bahwa gangguan ginjal pada anak dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kelainan bawaan hingga pola makan.

“Biasanya ada kemungkinan beberapa faktor. Bisa gangguan anatomi, gangguan metabolisme, atau faktor genetik,” ujar dr. Widi dalam acara Grand Launching SURE, Summit Robotic & Endourology Institute, di Eka Hospital MT Haryono, Rabu (18/2/2026).

Berikut sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal pada anak.

Penyebab Gangguan Ginjal pada Anak

1. Kelainan anatomi saluran kemih

Salah satu penyebab yang cukup sering ditemukan adalah kelainan struktur pada saluran kemih sejak lahir. Kelainan ini bisa berupa penyempitan pada saluran yang seharusnya normal.

Kondisi tersebut membuat aliran urine tidak lancar dan dapat menyebabkan penumpukan urine di ginjal. Jika berlangsung lama dan tidak ditangani, hal ini berisiko merusak fungsi ginjal secara perlahan.

“Misalnya salurannya harusnya enggak sempit, tapi pada anak tersebut bisa sempit,” jelasnya.

2. Gangguan metabolisme kalsium

Beberapa anak memiliki kadar kalsium dalam urine yang tinggi akibat gangguan metabolisme tertentu. 

Kondisi ini bisa dipengaruhi faktor genetik atau kelainan pada proses pengolahan mineral dalam tubuh.

“Metabolisme kalsiumnya itu kandungan kalsium di urinenya cukup tinggi sehingga dia sangat berpotensi,” kata dr. Widi.

Kadar kalsium yang berlebihan dalam urine dapat memicu pembentukan kristal yang lama-kelamaan berkembang menjadi batu ginjal. 

Adapun dr. Widi mengatakan, risiko ini tetap ada meski asupan cairan sudah diatur sehingga perlu evaluasi lebih lanjut melalui pemeriksaan urine dan darah jika anak dicurigai memiliki gangguan metabolik.

3. Faktor genetik

Riwayat keluarga dengan gangguan metabolik atau batu ginjal juga dapat meningkatkan risiko pada anak.

Menurut dr. Widi, kondisi ini biasanya terdeteksi melalui analisis metabolik dari urine dan darah untuk melihat apakah terdapat gangguan hormon atau kadar kalsium yang tidak normal.

4. Malnutrisi dan dehidrasi

Selain faktor bawaan dan metabolik, kondisi gizi dan kecukupan cairan anak juga berperan penting terhadap kesehatan ginjal.

Anak yang sering mengalami diare, kurang gizi, atau dehidrasi berulang berisiko lebih tinggi mengalami gangguan ginjal. Kondisi ini membuat keseimbangan cairan dan mineral dalam tubuh terganggu.

“Pasien yang malnutrisi, sering diare, sering dehidrasi, itu juga bisa bikin gampang terbentuk batu,” tutur dr. Widi.

Ketika tubuh kekurangan cairan, urine menjadi lebih pekat sehingga memudahkan terbentuknya kristal. Jika berlangsung terus-menerus, kristal tersebut dapat berkembang menjadi batu ginjal dan memicu gangguan fungsi ginjal.

5. Konsumsi tinggi natrium

Pola makan sehari-hari juga memiliki peran besar terhadap kesehatan ginjal anak. Kebiasaan mengonsumsi makanan asin dan tinggi sodium, seperti camilan kemasan, makanan instan, atau jajanan olahan, dapat meningkatkan risiko pembentukan batu ginjal.

“Kalau tinggi natrium, itu memang salah satu faktor risiko terbentuknya batu ginjal. Makin sering makan asin, makin risiko,” terang dr. Widi.

Asupan natrium yang berlebihan dapat meningkatkan kadar kalsium dalam urine, sehingga mempermudah terbentuknya kristal. 

Maka dari itu, pembatasan makanan tinggi garam sejak dini menjadi langkah pencegahan yang penting.

6. Risiko diabetes sejak dini

Meski lebih sering terjadi pada orang dewasa, kasus diabetes pada anak kini mulai meningkat seiring perubahan pola makan dan gaya hidup.

Kadar gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah kecil, termasuk yang terdapat di ginjal. 

Kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal dan pembentukan batu.

“Ketika pasien mengalami diabetes, maka faktor risiko terbentuknya batu ginjal juga naik,” tutur dr. Widi.

Oleh sebab itu, menjaga pola makan seimbang dan membatasi konsumsi gula berlebihan juga menjadi bagian penting dalam melindungi kesehatan ginjal anak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang