Tidur Terlalu Lama Juga Berdampak Buruk pada Kesehatan, Ini Risiko yang Perlu Diwaspadai

tidur berlebihan, Tidur Terlalu Lama Juga Berdampak Buruk pada Kesehatan, Ini Risiko yang Perlu Diwaspadai, Bisa terjadi sesekali atau menjadi kondisi kronis, Terkait gangguan tidur dan kondisi medis tertentu, Mengganggu ritme sirkadian dan energi harian, Berisiko pada penyakit kronis jika terjadi terus-menerus

Kurang tidur kerap dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari sulit konsentrasi hingga menurunnya daya tahan tubuh. Namun, bagaimana dengan kebiasaan tidur terlalu lama?

Bagi sebagian orang, tidur lebih dari delapan jam mungkin terasa seperti kemewahan. 

Akan tetapi, para ahli mengingatkan bahwa tidur berlebihan atau oversleeping juga bisa menimbulkan dampak negatif, terutama jika terjadi secara rutin dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Apa itu tidur berlebihan dan kapan disebut tidak normal?

Pendiri perusahaan pelatihan tidur Insomnia Coach, Martin Reed menjelaskan, kebutuhan tidur setiap orang memang berbeda. Akan tetapi, ada batasan umum yang bisa dijadikan acuan.

“Jika seseorang secara teratur tidur lebih dari sembilan atau 10 jam dan masih merasa lelah di siang hari, mereka mungkin mengalami tidur berlebihan,” jelas Rees, seperti dilansir Real Simple, Kamis (5/3/2026).

Ia menambahkan, durasi tidur yang panjang baru dianggap bermasalah apabila mengganggu kemampuan seseorang untuk menjalani fungsi harian dan menyelesaikan aktivitas seperti biasa.

Menurut National Sleep Foundation, orang dewasa usia 18–64 tahun umumnya membutuhkan tujuh hingga sembilan jam tidur per malam. 

Jika seseorang secara konsisten tidur lebih dari 10 jam setiap hari, kondisi tersebut sering disebut sebagai long sleeping.

Bisa terjadi sesekali atau menjadi kondisi kronis

Tidur berlebihan tidak selalu berarti gangguan serius. Dalam beberapa kasus, kondisi ini terjadi hanya sesekali.

“Tidur berlebihan juga bisa terjadi sebagai efek samping obat tertentu, atau ketika kita sedang tidak sehat atau dalam masa pemulihan,” kata Reed.

Misalnya, setelah minggu kerja yang sangat melelahkan atau setelah mengalami sakit, tubuh bisa membayar utang tidur dengan durasi tidur yang lebih panjang dari biasanya. 

Dalam konteks ini, tidur lebih lama justru menjadi bagian dari proses pemulihan alami.

Namun, jika berlangsung dalam jangka panjang, tidur berlebihan bisa menjadi tanda kondisi kesehatan lain yang mendasari.

Terkait gangguan tidur dan kondisi medis tertentu

Reed menjelaskan, tidur berlebihan kronis dapat menjadi gejala gangguan seperti sleep apnea, sindrom fase tidur tertunda, atau hipersomnia.

Menurut National Institutes of Health, hipersomnia ditandai dengan rasa kantuk berlebihan di siang hari dan kebutuhan tidur yang tidak terkendali dengan tidur siang panjang yang tidak menyegarkan.

Selain itu, kesulitan bangun dari tidur, dalam banyak kasus meskipun sudah tidur malam dalam durasi cukup atau lebih, setidaknya selama tiga bulan juga mendandakan hipersomnia.

Sejumlah kondisi medis lain juga dapat berkaitan dengan kebiasaan tidur terlalu lama, seperti narkolepsi, penyakit Parkinson, sindrom kaki gelisah, nyeri kronis, hingga cedera otak traumatis.

“Orang yang mengalami depresi mungkin juga lebih cenderung menghabiskan waktu lebih lama di tempat tidur,” ujar Reed.

Oleh karenanya, jika seseorang merasa terus-menerus tidur lama tetapi tetap lelah dan sulit berfungsi optimal, konsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi langkah penting untuk mencari penyebab utamanya.

Mengganggu ritme sirkadian dan energi harian

Secara umum, tidur terlalu lama dapat mengacaukan jam biologis tubuh atau ritme sirkadian.

“Oversleeping dapat membuat kamu merasa lebih lelah jika tidak memiliki jadwal tidur yang konsisten, karena variasi besar dalam waktu bangun pagi dapat mengganggu jam tubuh,” jelas Reed.

Ketidakteraturan ini membuat tubuh kesulitan membedakan waktu istirahat dan waktu aktif. 

Akibatnya, seseorang bisa merasa lesu, sulit fokus, hingga mengalami brain fog atau kabut otak sepanjang hari.

Tak hanya itu, perubahan ritme sirkadian juga memengaruhi sinyal lapar dan kenyang. 

Sebagian orang yang tidur terlalu lama melaporkan peningkatan nafsu makan, sementara yang lain justru kehilangan selera makan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi berat badan.

Berisiko pada penyakit kronis jika terjadi terus-menerus

Dampak yang lebih serius muncul jika tidur berlebihan berlangsung kronis. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara durasi tidur yang terlalu panjang dan peningkatan risiko penyakit tertentu.

Tinjauan klinis tahun 2018 yang diterbitkan dalam jurnal Sleep Medicine Reviews, yang melibatkan lebih dari lima juta peserta dari lebih 130 studi kohort prospektif, menemukan bahwa durasi tidur panjang secara signifikan berkaitan dengan diabetes, penyakit jantung, stroke, obesitas, serta peningkatan risiko kematian.

Institusi kesehatan Johns Hopkins Medicine juga mencatat, bahwa tidur berlebihan dapat meningkatkan risiko depresi dan sakit kepala.

Meski hubungan ini tidak selalu bersifat sebab-akibat langsung, para ahli menilai bahwa tidur terlalu lama bisa menjadi indikator adanya masalah kesehatan lain yang belum terdiagnosis.

Kunci tidur sehat bukan hanya soal durasi, tetapi juga kualitas dan konsistensi. 

Jika kamu kerap tidur lebih dari sembilan atau 10 jam namun tetap merasa lelah, ada baiknya memeriksakan diri untuk memastikan tidak ada gangguan kesehatan yang mendasarinya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang