Disebut Versi Terburuk yang Pernah Ada, Begini Cara Membantu Anak Berkembang di Era AI
Di tengah derasnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan alias AI kini hadir hampir di setiap aktivitas anak—mulai dari fitur pencarian suara, chatbot, hingga rekomendasi konten di gawai mereka.
Kondisi ini membuat para orang tua dihadapkan pada dilema baru: bagaimana mendampingi anak agar tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi mampu berpikir kritis dan tetap berpegang pada nilai kemanusiaan. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Ken Shelton, ahli teknologi pendidikan dari Amerika Serikat yang telah berpengalaman lebih dari dua dekade, turut mengingatkan para orang tua bahwa generasi saat ini tumbuh di era ketika AI menjadi hal biasa dan keberadaannya akan terus berkembang.
“Versi AI saat ini adalah versi terburuk yang akan pernah ada,” ujar Ken Shelton di acara Parent Workshop bertajuk “Membesarkan Pemikir Digital: Membantu Anak Berkembang di Era AI” yang digelar Redea Institute dan HighScope Indonesia Institute, mengutip keterangannya, Sabtu 22 November 2025.

Menurut Shelton, AI justru dapat menjadi sarana pendamping belajar.
“AI tidak seharusnya menjadi penghalang belajar, justru hadir sebagai sarana yang menuntun siswa merumuskan pertanyaan yang tepat dan menggali pengetahuan lebih dalam,” katanya dalam sesi diskusi.
Kolaborasi antara sekolah dan keluarga dalam membangun pemahaman anak mengenai teknologi, juga dirasa penting. Literasi AI merupakan elemen penting untuk membentuk generasi yang mampu mengatur diri, berpikir jauh ke depan, dan memahami dampak sosial dari penggunaan teknologi.
Orang tua juga diajak melihat langsung bagaimana model bahasa besar dapat memunculkan bias dalam jawaban yang diberikan.
“AI bukan otoritas kebenaran. Kitalah yang memegang otoritas itu. Tugas kita adalah bertanya, memverifikasi, dan mengajarkan anak melakukan hal yang sama,” tegas Shelton.
Antarina S.F. Amir, Pendiri dan CEO Redea Institute, menyampaikan bahwa kesiapan mental dan kecakapan digital anak tak dapat dibebankan pada satu pihak saja—melainkan harus dibangun bersama.
“Kini saatnya kita memikirkan kembali peran kecerdasan buatan dalam pendidikan—dan bagaimana kita dapat mempersiapkan anak-anak sebagai pemikir digital yang siap menghadapi tantangan masa depan,” tuturnya.