Top 20.000+ Karyawan Meta dan Microsoft Kena PHK, AI Jadi Biang Kerok

Kepala Eksekutif Meta Mark Zuckerberg.
Kepala Eksekutif Meta Mark Zuckerberg.

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali mengguncang industri teknologi global. Dua raksasa teknologi, Meta Platforms dan Microsoft, dilaporkan memangkas lebih dari 20.000 pekerjaan di tengah percepatan investasi besar-besaran pada kecerdasan buatan (AI).

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa dampak AI terhadap tenaga kerja bukan lagi ancaman masa depan, melainkan sudah terjadi saat ini. Hal ini lantaran perusahaan-perusahaan besar justru melakukan efisiensi tenaga kerja di saat yang sama ketika mereka meningkatkan belanja untuk infrastruktur AI.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meta disebut memangkas sekitar 10 persen tenaga kerjanya, sementara Microsoft membuka program pengunduran diri sukarela untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan. Kebijakan ini menandai perubahan besar dalam strategi tenaga kerja di sektor teknologi global.

Menurut analis, perubahan yang terjadi bukan sekadar penyesuaian bisnis jangka pendek, melainkan pergeseran struktural. “Ini merupakan pergeseran struktural yang fundamental, bukan koreksi pasar sementara,” kata Anthony Tuggle, executive coach dan pakar kepemimpinan, sebagaimana dikutip dari CNBC, Senin, 27 April 2026.

Ia menilai industri sedang memasuki fase baru di mana AI mulai mengubah cara kerja secara mendasar, bukan hanya membantu pekerjaan manusia tetapi juga menggantikan sebagian peran yang ada.

Tekanan di pasar tenaga kerja teknologi juga semakin nyata. Pada pekan ini, lebih dari 92.000 pekerja teknologi telah terkena PHK sepanjang 2026, menurut Layoffs.fyi, sehingga totalnya mendekati 900.000 sejak 2020.

Lonjakan PHK ini terjadi di tengah percepatan adopsi AI di berbagai perusahaan besar. Teknologi ini digunakan untuk meningkatkan efisiensi, mengotomatisasi proses kerja, dan mengurangi kebutuhan tenaga manusia di beberapa sektor.

Dampaknya tidak hanya dirasakan di perusahaan teknologi murni. Perusahaan global lain seperti Nike juga melakukan pengurangan tenaga kerja, terutama di divisi berbasis teknologi dan operasional digital.

Kondisi ini membuat kekhawatiran di pasar tenaga kerja semakin meningkat. Banyak pekerja memilih bertahan di posisi mereka karena takut sulit mendapatkan pekerjaan baru di tengah ketidakpastian industri.

“Karena pengunduran diri alami tidak terjadi sebanyak sebelumnya, perusahaan menjadi lebih agresif mendorong orang keluar,” ujar Daniel Zhao, ekonom utama Glassdoor.

Artinya, perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan rotasi alami tenaga kerja, tetapi mulai lebih aktif melakukan efisiensi melalui PHK maupun restrukturisasi internal.

Di sisi lain, investasi di sektor AI tetap terus melonjak. Perusahaan teknologi besar dunia tetap menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk membangun pusat data, model AI, dan infrastruktur pendukung lainnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kondisi ini menciptakan paradoks di industri teknologi global. Di satu sisi, AI menjadi motor pertumbuhan baru yang mendorong efisiensi dan inovasi. Namun di sisi lain, teknologi yang sama juga mempercepat hilangnya jutaan pekerjaan tradisional.

Melihat tren ini, banyak analis menilai dunia kerja sedang memasuki fase transisi besar, di mana stabilitas pekerjaan menjadi semakin sulit diprediksi, sementara kemampuan beradaptasi terhadap teknologi menjadi faktor utama bertahan di pasar tenaga kerja.