AI Disebut Berpotensi Jadi Obat Burnout Tapi Juga 'Racun' di Kantor, Kok Bisa?

Ilustrasi stres kerja.
Ilustrasi stres kerja.

Burnout kini menjadi masalah serius di berbagai industri. Kondisi ini ditandai dengan rasa lelah berkepanjangan, hilangnya keterikatan emosional dengan pekerjaan, hingga menurunnya kemampuan menyelesaikan tugas. 

Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan burnout sebagai fenomena kerja (occupational phenomenon) yang berdampak pada kesehatan mental dan performa karyawan. Artinya, ini tidak hanya menjadi masalah pribadi, burnout juga menimbulkan kerugian besar bagi bisnis. 

Menurut studi tahun 2025 dari The American Journal of Preventive Medicine, burnout menelan biaya antara US$4.000 hingga US$21.000 per karyawan setiap tahun, atau setara Rp65,6 juta hingga Rp344,4 juta per orang. Untuk perusahaan rata-rata di AS dengan 1.000 karyawan, kerugiannya bisa mencapai US$5 juta per tahun, atau sekitar Rp82 miliar.

Seiring berkembangnya teknologi, kecerdasan buatan (AI) kini mulai digunakan untuk melawan burnout. Banyak perusahaan memanfaatkan alat seperti ChatGPT atau Copilot untuk mengotomatisasi tugas berulang, meringkas informasi, hingga membantu pembuatan konten dan manajemen proyek.

Ilustrasi manajemen data / Artificial Intelligence (AI).

Ilustrasi manajemen data / Artificial Intelligence (AI).

Caroline Stokes, pakar kepemimpinan dan penulis, menilai potensi AI sangat besar. “ChatGPT bisa menjadi mitra berpikir yang luar biasa. Ini bukan sekadar peningkatan keterampilan, ini adalah reinvensi. Jika orang mau melakukan pekerjaan itu, ini bisa menjadi peluang terbesar di zaman kita,” ujarnya seperti dikutip dari CNBC, Senin, 22 September 2025.

Data global dari University of Melbourne dan KPMG International menunjukkan 58% karyawan di 47 negara sudah menggunakan AI secara sengaja di tempat kerja, dengan sepertiganya memanfaatkannya setiap minggu atau bahkan setiap hari.

Lalu, survei GoTo dan Workplace Intelligence terhadap 2.500 karyawan serta pemimpin IT, menemukan banyak pekerja masih kehilangan waktu 2,6 jam per hari atau sekitar 13 jam per minggu, atau sepertiga dari jam kerja rata-rata, untuk tugas yang sebenarnya bisa ditangani AI.

“AI bisa menjadi asisten yang hebat dalam meringankan beban kognitif dari tugas-tugas yang selama ini terasa berat," ungkap Chief Clinical Officer Headspace, Dr. Jenna Glover.

Menurut survei Februari 2025 terhadap 200 profesional IT, tempat kerja yang menggunakan AI melihat penurunan kelelahan emosional hingga 25%. Sistem AI bahkan mampu mendeteksi 30% partisipan yang berisiko burnout berdasarkan jam kerja dan rendahnya keterlibatan, sehingga strategi intervensi bisa dilakukan lebih awal.

“AI bisa mengurangi stres dengan memberikan dorongan personal, mulai dari menyarankan istirahat singkat hingga menyeimbangkan kembali beban kerja dalam tim,” kata Francis Hellyer, CEO Tickadoo.

Glover menambahkan, AI bisa membantu memantau keseimbangan kerja, memberi peringatan saat beban mulai tidak seimbang, hingga menyediakan survei singkat untuk umpan balik cepat.

Beberapa perusahaan pun sudah mulai memanfaatkan AI untuk kesehatan mental. Headspace, misalnya, meluncurkan asisten AI bernama Ebb ke 2.000 perusahaan, guna membantu menangani stres kerja, pembentukan kebiasaan, dan manajemen kecemasan.

Namun, meski menjanjikan, sejumlah pakar memperingatkan AI juga bisa memperburuk burnout. Survei Quantum Workplace terhadap lebih dari 700.000 orang di 8.000 organisasi menunjukkan, 45% pekerja di AS yang sering menggunakan AI lebih mungkin mengalami burnout tinggi.

Kemudian, 38% dari pengguna yang jarang menggunakan, juga dilaporkan mengalami hal yang sama. Lalu, 35% non-pengguna juga terdampak.

Terkait ini, Stokes mengingatkan, menggunakan AI seharian penuh bisa terasa seperti “menghabiskan sembilan jam di gym”, sehingga tetap membutuhkan waktu istirahat dan pemulihan.

Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini literasi AI masih menjadi tantangan. Sebab, tidak semua karyawan tahu cara menggunakan alat ini secara efektif. Dengan kata lain, AI bisa menjadi pedang bermata dua: mampu mengurangi burnout sekaligus berpotensi memperburuk jika tidak digunakan dengan bijak.