BERITA FOTO: Tradisi Ruwat Desa Jelang Ramadhan di Sidoarjo, Warga Rebutan Tumpeng Tempe Setinggi 9 Meter
Warga Desa Sedengan Mijen, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, kembali menggelar tradisi ruwat desa melalui Festival Sedekah Tumpeng Tempe pada 2026.
Tradisi yang telah menjadi agenda tahunan ini dilaksanakan menjelang bulan suci Ramadhan dan menjadi simbol rasa syukur sekaligus ajang sedekah para perajin tempe kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Puncak acara ruwat desa tersebut ditandai dengan kehadiran tumpeng raksasa yang terbuat dari tempe.
Tumpeng unik ini menjadi daya tarik utama karena ukurannya yang menjulang hingga sekitar 9 meter yang menjadi rebutan warga yang hadir di lokasi acara.
Apa Makna Ruwat Desa bagi Warga Sedengan Mijen?
Ruwat desa merupakan tradisi turun-temurun yang masih dijaga oleh masyarakat Desa Sedengan Mijen.
Tradisi ini diyakini sebagai bentuk permohonan keselamatan, keberkahan, dan kelancaran rezeki bagi seluruh warga desa.
Bagi masyarakat Sedengan Mijen, ruwat desa tidak sekadar ritual adat, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan antarwarga.
Tradisi ini menjadi momentum untuk berbagi rezeki, terutama bagi warga yang mayoritas berprofesi sebagai perajin tempe.
Foto udara suasana ruwat desa dengan tumpeng tempe setinggi 9 meter di Lapangan Desa Sedenganmijen, Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (1/2/2026). Tradisi yang diselenggarakan setiap tahun menjelang bulan suci Ramadhan tersebut menjadi ajang sedekah dan sebagai bentuk rasa syukur para perajin tempe kepada Tuhan YME atas limpahan rezeki serta promosi wisata di daerah itu. ANTARA FOTO/Umarul Faruq/foc.
Mengapa Tumpeng Raksasa Dibuat dari Tempe?
Pemilihan tempe sebagai bahan utama tumpeng raksasa bukan tanpa alasan. Desa Sedengan Mijen dikenal sebagai sentra perajin tempe.
Sebagian besar warganya menggantungkan hidup dari produksi tempe yang telah menjadi identitas ekonomi desa tersebut.
Pembuatan tumpeng raksasa dari tempe ini terinspirasi dari tradisi tumpeng raksasa berbahan durian yang pernah ada di daerah lain.
Melihat potensi lokal yang dimiliki, warga kemudian sepakat menghadirkan tumpeng raksasa dari tempe sebagai ciri khas ruwat desa mereka.
Panitia membagikan tempe saat ruwat desa di Lapangan Desa Sedenganmijen, Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (1/2/2026). Tradisi ruwat desa dengan membuat tumpeng tempe setinggi 9 meter yang diselenggarakan setiap tahun menjelang bulan suci Ramadhan tersebut menjadi ajang sedekah dan sebagai bentuk rasa syukur para perajin tempe kepada Tuhan YME atas limpahan rezeki serta promosi wisata di daerah itu. ANTARA FOTO/Umarul Faruq/foc.
Berapa Banyak Bahan yang Digunakan untuk Tumpeng Raksasa?
Untuk membuat tumpeng raksasa setinggi sekitar 9 meter, warga membutuhkan kedelai hingga puluhan kwintal.
Seluruh tempe yang digunakan merupakan hasil produksi murni para perajin tempe Desa Sedengan Mijen.
Proses pembuatannya dilakukan secara gotong royong oleh warga. Tempe-tempe tersebut disusun sedemikian rupa hingga membentuk tumpeng raksasa yang kokoh dan menjulang tinggi.
Bagi para perajin, sedekah tempe ini juga dimaknai sebagai persembahan kepada leluhur dengan harapan memperoleh keberkahan dan rezeki yang melimpah.
Warga melihat tumpeng tempe saat ruwat desa di Lapangan Desa Sedenganmijen, Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (1/2/2026). Tradisi ruwat desa dengan membuat tumpeng tempe setinggi 9 meter yang diselenggarakan setiap tahun menjelang bulan suci Ramadhan tersebut menjadi ajang sedekah dan sebagai bentuk rasa syukur para perajin tempe kepada Tuhan YME atas limpahan rezeki serta promosi wisata di daerah itu. ANTARA FOTO/Umarul Faruq/foc.
Ruwat Desa Sedengan Mijen 2026 digelar selama beberapa hari dan dipusatkan di Lapangan Sepak Bola Sedengan Mijen.
Berdasarkan informasi Prokopimda Sidoarjo melalui laman resmi Instagramnya @ prokomimsidoarjo, rangkaian kegiatan dimulai pada 29 Januari 2026 dengan istigosah dan pengajian umum yang dimulai pukul 19.00 WIB.
Pada 30 Januari 2026, masyarakat kembali mengikuti doa bersama sejak pukul 06.00 WIB. Kegiatan dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit pada malam harinya yang dimulai pukul 19.00 WIB.
Puncak acara berlangsung pada hari ini1 Februari 2026 dengan prosesi Sedekah Tumpeng Tempe. Prosesi ini dimulai sejak pukul 06.00 WIB dan terbuka untuk masyarakat umum.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang