Mengenal Cucurak, Tradisi Warga Bogor Jelang Datangnya Bulan Suci Ramadhan
Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi tersendiri dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Tradisi tersebut tumbuh dari nilai budaya lokal dan diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk syukur, persiapan batin, serta upaya mempererat hubungan sosial.
Di Bogor, Jawa Barat, salah satu tradisi yang paling dikenal dan masih lestari hingga kini adalah cucurak.
Tradisi cucurak atau curak-curak berasal dari bahasa Sunda dialek Bogor yang berarti bersenang-senang.
Dalam praktiknya, cucurak diwujudkan melalui kegiatan makan bersama yang dilakukan menjelang Ramadhan.
Kegiatan ini kerap disebut juga dengan istilah botram atau munggahan, yakni berkumpul dan makan bersama keluarga besar, kerabat, maupun rekan kerja sebagai tanda menyambut bulan puasa.
Apa makna tradisi cucurak bagi masyarakat Bogor?
Bagi masyarakat Bogor, cucurak bukan sekadar acara makan bersama. Tradisi ini sarat dengan makna sosial dan spiritual.
Cucurak menjadi simbol kebersamaan, kekeluargaan, dan kerukunan. Momentum ini dimanfaatkan untuk mempererat tali silaturahmi yang mungkin renggang akibat kesibukan sehari-hari.
Selain itu, cucurak juga dimaknai sebagai sarana saling bermaafan. Menjelang Ramadhan, masyarakat Bogor memandang penting untuk membersihkan hati dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
Dengan berkumpul, bercengkerama, dan berbagi hidangan, suasana menjadi lebih hangat dan penuh keakraban, sehingga pesan moral cucurak dapat tersampaikan secara alami.
Kapan dan di mana cucurak biasanya dilakukan?
Cucurak umumnya dilaksanakan beberapa hari atau satu hingga dua pekan sebelum memasuki bulan Ramadhan.
Waktunya tidak ditentukan secara baku, melainkan disesuaikan dengan kesepakatan keluarga atau kelompok yang mengadakan.
Lokasi pelaksanaan cucurak pun sangat beragam. Kegiatan ini bisa dilakukan di rumah, lingkungan kantor, restoran, hingga tempat wisata alam di sekitar Bogor.
Banyak masyarakat memilih lokasi terbuka seperti saung atau area pegunungan untuk menikmati udara sejuk dan pemandangan alam, sehingga suasana kebersamaan terasa semakin kuat.
Warga di Bogor, Jawa Barat, menggelar tradisi cucurak dengan kumpul bersama keluarga dan makan bareng di Kebun Raya Bogor, Sabtu (10/4/2021).
Apa saja hidangan khas dalam tradisi cucurak?
Hidangan menjadi elemen penting dalam tradisi cucurak. Makanan yang disajikan umumnya berupa masakan rumahan yang akrab dengan lidah masyarakat Sunda, khususnya Bogor. Beberapa hidangan yang hampir selalu hadir dalam acara cucurak antara lain:
- Nasi liwet, yaitu nasi yang dimasak dengan santan, serai, dan daun salam sehingga menghasilkan cita rasa gurih.
- Sambal goreng kentang, sering dipadukan dengan hati ayam atau hati sapi yang dimasak pedas.
- Ayam goreng, sebagai lauk favorit yang disukai berbagai kalangan usia.
- Sate ayam atau sate kambing dengan bumbu kacang atau kecap.
- Urap sayur, berupa aneka sayuran dengan parutan kelapa berbumbu.
- Sayur asem, yang seolah menjadi menu wajib karena rasanya yang segar dan khas.
- Kerupuk, sebagai pelengkap yang menambah kenikmatan hidangan.
- Kue tradisional seperti kue lapis, risol, dan klepon sebagai makanan penutup.
- Es buah, yang kerap disajikan untuk menyegarkan suasana kebersamaan.
Dengan segala kehangatan yang dihadirkan, cucurak menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih hidup dan terus dijaga.
Tradisi ini menegaskan bahwa menyambut Ramadhan tidak hanya dilakukan secara ritual, tetapi juga melalui penguatan nilai-nilai sosial yang mempererat persaudaraan di tengah masyarakat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang