Banjir Awal Januari Landa Padang, Air Setinggi Lebih dari Satu Meter Genangi Permukiman

Banjir Awal Januari Landa Padang, Air Setinggi Lebih dari Satu Meter Genangi Permukiman, Apa penyebab banjir merendam Dadok Tunggul Hitam?, Bagaimana proses evakuasi dilakukan?, Siapa saja warga yang dievakuasi?, Mengapa sebagian warga memilih bertahan?, Bagaimana kondisi banjir di wilayah lain Kota Padang?, Sungai mana saja yang meluap?

 Ratusan warga di Kelurahan Dadok Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatra Barat, harus dievakuasi akibat banjir yang menggenangi kawasan permukiman pada Jumat (2/1/2026).

Banjir terjadi setelah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur wilayah tersebut sejak pagi hari, menyebabkan air sungai dan drainase meluap ke rumah-rumah warga.

Genangan air dilaporkan mencapai ketinggian lebih dari satu meter, merendam rumah serta jalan lingkungan sehingga aktivitas warga lumpuh. Kondisi ini memaksa petugas gabungan melakukan evakuasi untuk menyelamatkan warga yang terjebak banjir.

Apa penyebab banjir merendam Dadok Tunggul Hitam?

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, Hendri Zulviton, mengatakan banjir dipicu curah hujan tinggi yang terjadi secara terus-menerus sejak Jumat pagi.

Intensitas hujan yang tinggi membuat air cepat menggenangi kawasan rendah, terutama di permukiman padat penduduk seperti Dadok Tunggul Hitam.

"Evakuasi dilakukan terhadap warga yang terjebak oleh banjir, mereka dibawa ke tempat yang aman," kata Hendri Zulviton di Padang.

Ia menjelaskan, air menggenangi rumah-rumah warga dan jalan lingkungan sehingga menyulitkan mobilitas. Hingga sore hari, hujan masih turun dan berpotensi memperpanjang durasi genangan.

Bagaimana proses evakuasi dilakukan?

Proses evakuasi dimulai sejak Jumat siang dan berlangsung hingga malam hari. Tim gabungan yang terlibat terdiri dari personel BPBD, TNI, Komunitas Siaga Bencana (KSB), Ikatan Remaja Masjid Al Hijrah, serta sejumlah relawan lainnya.

Evakuasi dipusatkan di Jalan DPR Gang Babussalam dan kawasan Parak Jambu, Kelurahan Dadok Tunggul Hitam. Petugas mengevakuasi warga dari rumah masing-masing menggunakan perahu karet menuju lokasi aman, seperti masjid atau tempat pengungsian mandiri.

Pembina Ikatan Remaja Masjid Al Hijrah, Hasanudin, mengatakan air mulai naik sejak siang hari dan dengan cepat merendam permukiman warga.

"Air langsung menggenangi jalan serta rumah-rumah warga, sehingga kami membantu evakuasi menggunakan perahu karet agar tidak ada warga terancam keselamatannya," ujar Hasanudin.

Siapa saja warga yang dievakuasi?

Ratusan warga yang dievakuasi terdiri dari kelompok rentan, antara lain anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta perempuan. Petugas memprioritaskan keselamatan warga yang tidak memungkinkan bertahan di rumah akibat tingginya genangan air.

Hasanudin menjelaskan ketinggian air di kawasan Parak Jambu mencapai lebih dari satu meter di dalam rumah warga, sementara di jalan lingkungan ketinggiannya bahkan lebih tinggi.

"Air menggenangi rumah warga dengan ketinggian mencapai satu meter, sedangkan di jalan ketinggiannya lebih dari itu," jelasnya.

Ia menyebutkan sedikitnya empat RT di RW 09 kawasan Parak Jambu terdampak banjir. Dalam proses evakuasi, Ikatan Remaja Masjid Al Hijrah menurunkan sekitar 28 orang relawan yang sebagian besar masih berstatus pelajar.

Mengapa sebagian warga memilih bertahan?

Meski evakuasi terus dilakukan, sejumlah warga memilih tetap bertahan di rumah masing-masing sambil menunggu air surut. Warga yang bertahan umumnya masih merasa aman atau ingin menjaga harta benda mereka.

Hasanudin mengatakan relawan tetap siaga hingga malam hari untuk mengantisipasi apabila ada warga yang membutuhkan pertolongan.

"Kami masih bertahan di lokasi hingga malam ini, jika nanti ada warga yang minta pertolongan untuk dievakuasi maka akan kami bantu," ujarnya.

Bagaimana kondisi banjir di wilayah lain Kota Padang?

Selain Dadok Tunggul Hitam, hujan lebat juga memicu banjir di sejumlah wilayah lain di Kota Padang.

Hingga Jumat malam sekitar pukul 19.40 WIB, hujan masih turun dengan intensitas sedang hingga lebat sehingga warga diminta tetap waspada.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, menegaskan pemerintah daerah telah mengevakuasi seluruh warga di Batu Busuak, Kecamatan Pauh, pascabanjir bandang atau galodo yang terjadi sebelumnya.

"Tidak ada lagi. Sebelumnya warga di sana kan sudah mengungsi dan sudah kita ungsikan juga," kata Hendri.

Ia menjelaskan, akses utama jalan di Batu Busuak sempat terputus akibat meluapnya Sungai Batang Kuranji karena tingginya curah hujan.

Para penyintas banjir bandang tersebut diungsikan ke hunian sementara, rumah susun sederhana sewa, serta ke rumah kerabat.

Untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak, pemerintah daerah menyalurkan bantuan berupa paket sembako serta bantuan uang tunai.

"Warga di sana sudah kita ungsikan ke huntara dan rusunawa termasuk memberikan bantuan berupa uang untuk menyewa rumah senilai Rp600 ribu per bulan," ujar Hendri.

Sungai mana saja yang meluap?

BPBD mencatat curah hujan sejak Jumat pagi menyebabkan beberapa sungai di Kota Padang meluap.

Sungai-sungai tersebut antara lain berada di kawasan Batu Busuak dan Gunung Nago di Kecamatan Pauh, Lubuk Minturun di Kecamatan Koto Tangah, kawasan Guo Lubuk Tempurung di Kecamatan Kuranji, serta Tabiang Banda Gadang di Kecamatan Nanggalo.

Meski terjadi luapan di sejumlah titik, Hendri memastikan banjir kali ini tidak membawa material lumpur, batu, maupun kayu seperti peristiwa banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025.

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini