Penjelasan KSAD soal Biaya Sumur Bor di Sumatera Tembus Rp 150 Juta

sumur bor, Prabowo Subianto, Penjelasan KSAD soal Biaya Sumur Bor di Sumatera Tembus Rp 150 Juta

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak memberikan penjelasan terkait anggaran pembangunan sumur bor di wilayah Sumatera yang dilanda bencana mencapai Rp 150 juta.

Biaya sumur bor di Sumatera sempat disorot publik setelah Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat di Aceh Tamiang pada Kamis (1/1/2026). 

Rapat tersebut membahas pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat terdampak bencana.

Dalam forum itu, Maruli bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menyampaikan bahwa biaya pengeboran sumur dengan kedalaman 100 hingga 200 meter berada di kisaran Rp 100 juta hingga Rp 150 juta.

Presiden Prabowo menilai anggaran tersebut masih tergolong wajar mengingat sumur yang dibangun memiliki kedalaman signifikan dan hasil airnya dapat langsung dimanfaatkan oleh korban bencana.

Penjelasan KSAD soal Biaya Sumur Bor Mencapai Rp 150 Juta

Maruli menegaskan, sumur yang dibangun tersebut bukan sumur biasa seperti yang digunakan rumah tangga pada umumnya. 

Infrastruktur air itu dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak bencana dalam skala lebih luas.

Menurutnya, sumur bor tersebut harus menembus lapisan tanah hingga mencapai sumber mata air.

Kedalaman pengeboran bisa mencapai sekitar 100 hingga 200 meter agar pasokan air mencukupi bagi beberapa rumah.

"Kalau kita tidak menemukan mata airnya, air itu pasti akan habis," kata Maruli saat jumpa pers di Dermaga Satuan Angkutan Perairan (Satangair) TNI AD, Tanjung Priok, Jakarta Utara, dikutip dari Antara, Selasa (6/1/2026).

Maruli menjelaskan, kebutuhan dana yang besar tidak bisa disamakan dengan pembuatan sumur untuk satu rumah tangga. 

Sumur bor yang dibangun TNI AD ditujukan untuk kepentingan masyarakat desa secara kolektif.

"Rumah saya di Bandung mungkin enggak sampai Rp10 juta jadi tuh (sumur) air, hanya untuk kepentingan satu keluarga. Ini barang kepentingannya kan satu desa kadang-kadang," jelasnya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang