Hegseth Dicecar soal Biaya Perang AS-Iran yang Membengkak hingga Rp507 Triliun
Biaya perang melawan Iran yang dikeluarkan Amerika Serikat melonjak hingga hampir 29 miliar dolar AS atau setara dengan Rp507,5 triliun. Hal ini diungkap Pentagon dalam siding anggaran di Capitol Hill, Selasa waktu setempat.
Angka tersebut diketahui meningkaat sekitar 4 miliar dolar AS atau setara Rp 70 triliun lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya yang disampaikan departemen pertahanan AS dua pekan lalu.
Melansir laman NDTV, Rabu 13 Mei 2026, pernyataan tersebut langsung membuat Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine, dan kepala keuangan Pentagon Jules Hurst III dicecar pertanyaan oleh anggota kongres saat memberikan pernyataan mereka terkait permintaan anggaran pertahanan 2027 senilai 1,5 triliun dolar AS atau setara Rp26,25 kuadriliun.
"Pada saat kesaksian sebelumnya... nilainya 25 miliar dolar (Rp 437,5 T). Namun tim staf gabungan dan tim pengawas keuangan terus meninjau estimasi itu, dan sekarang kami memperkirakan angkanya mendekati 29 miliar dolar,” kata Hurst, merujuk pada estimasi yang disampaikan Hegseth pada 29 April lalu.
Dia juga menyebut adanya pembaruan biaya perbaikan dan penggantian peralatan serta biaya operasional yang lebih luas.
Partai Demokrat dan para pengkritik perang lainnya mempertanyakan perhitungan Pentagon. Mereka menilai biaya sebenarnya, termasuk kerusakan akibat serangan Iran, bisa jauh lebih besar.
Saat didesak kapan Kongres akan menerima rincian yang lebih lengkap, Hegseth mengatakan pemerintah akan meminta apa pun yang dirasa perlu secara terpisah dari anggaran Pentagon, tanpa memberikan jadwal pasti.
Kesaksian itu muncul di tengah gencatan senjata AS-Iran yang dinilai semakin rapuh. Trump pada Senin memperingatkan bahwa gencatan senjata berada dalam kondisi 'hidup segan mati tak mau' setelah menolak proposal perdamaian terbaru dari Teheran.
Partai Demokrat memanfaatkan sidang tersebut untuk menyerang pemerintah terkait membengkaknya biaya perang dan apa yang mereka sebut sebagai kurangnya transparansi mengenai tujuan AS dalam konflik itu.
"Pertanyaan yang harus dijawab pada akhirnya adalah apa yang sudah kita capai dan berapa biaya yang harus dibayar?" kata anggota Demokrat senior di Komite Anggaran DPR AS,Rosa DeLauro.
Persediaan Senjata Menipis
Sidang itu menjadi penampilan pertama Hegseth di Capitol Hill sejak Gedung Putih secara resmi memberi tahu Kongres bahwa permusuhan yang dimulai AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari telah berakhir.
Partai Demokrat menuduh Trump melancarkan perang tanpa persetujuan Kongres dan berulang kali mengajukan upaya untuk membatasi kewenangan perang presiden, meski selalu digagalkan Partai Republik.
Senator Demokrat Mark Kelly akhir pekan lalu memperingatkan bahwa stok rudal Tomahawk, pencegat Patriot, dan senjata canggih lainnya telah terkuras parah dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan.
Namun, Hegseth menepis kekhawatiran itu dan menyebutnya dibesar-besarkan secara bodoh dan tidak membantu.
Hegseth dan Caine juga menghadapi sesi pertanyaan kedua di hadapan panel Senat setelah sidang di DPR. Aksi protes anti-perang turut terjadi dalam kedua sidang tersebut.
Di Senat, Senator Demokrat Patty Murray mengatakan estimasi biaya dari pemerintah terlihat mencurigakan terlalu rendah karena tidak memasukkan kerusakan pada fasilitas AS. Ia merujuk laporan yang menyebut Iran menyerang sedikitnya 228 bangunan atau peralatan di lokasi militer AS.
Analis kebijakan pertahanan senior dari Project On Government Oversight, Virginia Burger, menilai pemerintah kemungkinan meremehkan biaya sebenarnya hingga puluhan miliar dolar.
"Satu-satunya cara mengetahui selisih dan biaya sebenarnya yang ditanggung pembayar pajak dari perang ini adalah jika Pentagon memberikan rincian biaya secara detail kepada Kongres. Tanpa melihat angkanya, kita hanya bisa bertanya-tanya apakah Pentagon memainkan trik matematika dan memilih-milih data agar estimasi resmi terlihat serendah mungkin," ujarnya.
Hegseth menolak memberikan estimasi kerusakan, tetapi kembali berargumen seperti yang sering ia sampaikan sejak perang dimulai, bahwa biaya yang harus dibayar jika Iran memiliki senjata nuklir akan jauh lebih besar.
Trump sendiri berulang kali mengklaim serangan udara AS telah menghancurkan total program nuklir Iran tahun lalu, meski penilaian intelijen menunjukkan Teheran masih sekitar satu dekade lagi untuk bisa mengembangkan rudal yang mampu mengancam wilayah Amerika Serikat.