Dua Figur Pembentuk Filosofi Pelatih Timnas Indonesia John Herdman: Eks Tentara hingga Sir Bobby Robson
Pelatih baru Timnas Indonesia, John Herdman, tidak berbicara tentang inspirasi kepemimpinan sebagai konsep abstrak. Ia menyebutnya secara personal dan konkret bermula dari lingkungan keluarga, lalu berlanjut pada satu nama besar dalam sejarah sepak bola Inggris, Sir Bobby Robson.
Dalam wawancara eksklusif yang ditayangkan di kanal YouTube Timnas Indonesia, Herdman menyebut Robson sebagai inspirasi terbesarnya setelah sang kakek, yang merupakan mantan tentara sekaligus petinju profesional. Dua sosok itu, menurut Herdman, membentuk fondasi nilai disiplin dan etos kerja yang ia pegang hingga kini.
“Saya pikir dalam hidup Anda memiliki banyak inspirasi. Kakek saya adalah inspirasi besar. Beliau petinju profesional dan juga eks tentara. Beliau sangat disiplin dan orang yang hebat,” ujar Herdman dikutip VIVA Selasa, 20 Januari 2026.
Pelatih baru Timnas Indonesia, John Herdman
Ia menjelaskan bahwa pengaruh tersebut menjadi titik awal dalam membentuk cara pandangnya terhadap kepemimpinan. Seiring waktu, inspirasi itu berkembang melalui pertemuannya dengan berbagai figur dan pengalaman hidup yang berbeda.
Salah satu yang paling membekas adalah saat ia menyaksikan perjalanan Sir Bobby Robson bersama Newcastle United. Herdman menyoroti latar belakang Robson sebagai sosok dari Inggris Utara, wilayah dengan budaya kelas pekerja yang kuat, namun mampu menembus batas geografis dan budaya dalam dunia sepak bola.
“Sebagai titik awal, Anda melihat keluarga Anda. Lalu dalam hidup, saat Anda tumbuh dan bertemu orang-orang yang berbeda, menonton Sir Bobby Robson di Newcastle United, sesama orang Inggris Utara dari latar belakang kelas pekerja, yang bisa berkelana ke banyak negara berbeda,” kata Herdman.
Robson menangani Newcastle United selama lima tahun dan menutup karier kepelatihannya di klub tersebut. Prestasi terbaik The Magpies di era Robson tercatat pada musim Liga Inggris 2002/2003, saat mereka finis di posisi ketiga dengan 69 poin, di bawah Arsenal dan Manchester United.
Pada musim itu, Newcastle juga mampu unggul dari Chelsea dan Liverpool yang masing-masing berada di peringkat keempat dan kelima. Sepanjang periode kepemimpinannya, Robson memimpin total 255 pertandingan bersama klub berjuluk The Magpies tersebut.
Sebelum kembali ke Inggris, Robson menorehkan karier panjang di sejumlah klub Eropa. Ia pernah melatih Fulham, Ipswich Town, PSV Eindhoven, Sporting CP, FC Porto, hingga Barcelona. Bersama enam klub tersebut, Robson meraih total 13 gelar bergengsi.
Beberapa pencapaian penting Robson antara lain gelar Liga Europa musim 1980/1981 bersama Ipswich Town, dua trofi Liga Belanda bersama PSV Eindhoven, serta gelar Liga Spanyol musim 1996/1997 bersama Barcelona.
Di level internasional, Robson juga dikenal sebagai pelatih legendaris Timnas Inggris. Ia membawa The Three Lions finis di posisi keempat Piala Dunia 1990 di Italia, prestasi terbaik kedua Inggris saat itu setelah gelar juara dunia 1966. Capaian tersebut baru disamai 28 tahun kemudian pada Piala Dunia 2018 di Rusia di bawah Gareth Southgate.
Bagi Herdman, nilai utama yang ia pelajari dari Robson bukan semata deretan trofi, melainkan sikap hidup yang menyertainya. Ia mengagumi bagaimana Robson tetap menjaga akar budaya, selera humor, dan kerendahan hati di tengah pencapaian besar.
“Saya kira dia menjadi inspirasi besar karena selalu menjaga akarnya. Orang Inggris Utara punya selera humor yang baik. Anda boleh tertawa, tapi Anda juga harus bekerja keras dan memiliki kerendahan hati. Kami tidak menerima sesuatu begitu saja,” tutur Herdman.
Ia menegaskan bahwa kerja keras adalah prinsip yang tidak bisa ditawar dalam perjalanan hidup maupun sepak bola. “Anda harus bekerja keras dan bekerja untuk hal-hal dalam hidup. Itu sebabnya saya selalu menganggap dia sebagai inspirasi besar dalam sepak bola,” katanya.