Kisah Pahit Para Pencari Kerja, Sudah Kirim 50 Lamaran Tapi Tetap Menganggur

Ilustrasi ribuan pelamar kerja di job fair
Ilustrasi ribuan pelamar kerja di job fair

 Fenomena sulitnya mencari pekerjaan, tidak hanya ada di negeri sendiri. Di Kanada, ribuan orang juga mengalami kesulitan yang sama. Mereka bahkan rela antre berjam-jam di job fair untuk mendapat peluang kerja. 

Di Markham, ribuan orang berdiri berderet di Markville Mall. Tidak, mereka bukan antre untuk membeli iPhone terbaru atau konsol video game. Mereka antre untuk mendapatkan pekerjaan, mencari penghasilan untuk hidup sehari-hari dan menutupi kebutuhan rumah tangga.

Job fair seperti itu semakin populer di Kanada sebagai cara bagi perusahaan untuk menemukan calon karyawan dari kerumunan besar. Namun, dengan tingkat pengangguran yang tinggi, jumlah orang yang datang jauh melebihi jumlah lowongan yang tersedia.

Shawn Raj, 25 tahun, adalah salah satu dari mereka. “Selama setahun terakhir, saya sudah mengirim lebih dari 50 lamaran,” kata Raj, yang hampir setahun menganggur, sebagaimana dikutip dari CTV News, Senin, 6 Oktober 2025.

“Ini sangat sulit, tapi melihat sekeliling, saya tidak sendirian dalam situasi ini. Pasar kerja benar-benar gila saat ini,” ungkapnya 

Ilustrasi pengangguran.

Raj sendiri datang dengan berpakaian rapi ala business casual, berharap bisa menarik perhatian perekrut dari perusahaan seperti Chatime, Best Buy, dan Harvey’s. Ia baru lulus sembilan bulan lalu dengan gelar sarjana kriminologi.

“Ada begitu banyak orang di sini dengan gelar,” ujarnya. “Sulit bahkan untuk mendapatkan pekerjaan dengan upah minimum. Orang-orang bilang kami terlalu memenuhi syarat,” katanya.

Situasi yang dialami Raj memang bukan kasus tunggal. Banyak orang dengan pengalaman dan gelar tinggi juga masih berjuang mendapatkan pekerjaan.

Telha Yousaf, misalnya, berhasil mendapatkan posisi di bagian depan antrean. “Saya punya 15 tahun pengalaman di Human Resources, gelar master di manajemen proyek, dan PhD saya hampir selesai di bidang administrasi bisnis,” katanya. “Saya sangat frustrasi tapi tetap berharap.”

Fenomena ini bukan hal baru. Sebuah perekrutan kerja di Hamilton sempat viral karena antrean yang mengelilingi satu blok kota. Bahkan job fair tahunan CNE menarik ribuan pencari kerja untuk pekerjaan paruh waktu sementara.

Kondisi sulit ini diperparah oleh banyaknya toko ritel yang menutup cabang, termasuk Hudson’s Bay, Starbucks, Decathlon, dan Frank and Oak, sehingga jumlah pencari kerja semakin banyak. Menurut analis ritel Bruce Winder, perusahaan saat ini memang sangat mengurangi perekrutan.

“Pasca-pandemi, banyak orang direkrut di sektor teknologi. Sekarang perusahaan-perusahaan itu memecat mereka, sehingga pekerja tingkat menengah mengambil pekerjaan tingkat pemula dari orang yang baru memulai kariernya,” katanya.

Dengan ketidakpastian ekonomi dan perubahan akibat AI, Winder menekankan pentingnya langkah proaktif dari pemerintah. “Kanada punya kesempatan untuk pulih. Kami telah memperlambat jumlah imigrasi. Itu bisa membantu pemulihan, hingga batas tertentu, dalam beberapa tahun ke depan,” ujarnya.

“Tapi jika tidak ada rencana, akan ada pengangguran masif. Akan ada kerusuhan sosial. Pasar konsumsi melemah. Properti akan runtuh. Tidak akan menjadi negara yang menyenangkan untuk tinggal atau bekerja.”

Job fair ini menjadi saksi nyata perjuangan para pencari kerja: dari yang baru lulus hingga profesional berpengalaman. Mereka datang dengan harapan besar, meski persaingan dan tantangan di pasar kerja kini semakin sulit.