Jembatan Tak Kunjung Ada, Nasib Siswa Lampung Timur Tetap Bergantung pada Perahu Klotok

jembatan Way Bungur, Lampung Timur, Jembatan Tak Kunjung Ada, Nasib Siswa Lampung Timur Tetap Bergantung pada Perahu Klotok, Tak ada perubahan setahun kemudian, Wakil Kepala SMAN 1 Way Bungur, Ahmad Saiful, juga mengklarifikasi kondisi tersebut., Cerita dari Praja, Respons bupati Lampung Timur

 Sudah setahun berlalu sejak video para pelajar membawa sepeda motor menaiki perahu klotok di Lampung Timur viral, namun hingga kini kondisinya tak juga berubah.

Dalam video yang beredar terlihat para pelajar yang mayoritas mengenakan seragam pramuka itu berdesakan di dalam sebuah perahu.

Ada empat sepeda motor yang berjajar di bagian perahu paling depan. Dan belasan pelajar berdiri di belakangnya.

Diketahui, para pelajar harus menyeberangi sungai menaiki perahu klotok lantaran jembatan Way Bungur dalam kondisi mangkrak.

Berdasarkan arsip pemberitaan Kompas.com, sungai tersebut membelah Desa Kali Pasir dengan Desa Tanjung Tirto di Kecamatan Way Bungur.

Tak ada perubahan setahun kemudian

Dilansir dari , Senin (2/2/2026), pemandangan itu ternyata tak berubah hingga setahun kemudian.

Camat Way Bungur, Lusi Aprina, mengonfirmasi bahwa kondisi tersebut sudah berlangsung sejak lama, setidaknya selama tiga tahun terakhir sejak dirinya menjabat.

Bagi warga Lampung Timur, pemandangan pelajar menyeberangi sungai menggunakan perahu klotok sudah menjadi "santapan" sehari-hari.

Untungnya, menurut Lusi, pengelola perahu klotok menggratiskan ongkos bagi anak sekolah yang ingin menyeberang.

Sedangkan untuk masyarakat umum, dikenakan tarif sebesar Rp 5.000 untuk sekali menyeberang.

"Itu untuk anak sekolah gratis. Umum kendaraan motor bisa naik di perahu, cuma tetap ada batasannya, tidak bisa lebih," kata Lusi saat dihubungi, Senin (2/2/2026).

Wakil Kepala SMAN 1 Way Bungur, Ahmad Saiful, juga mengklarifikasi kondisi tersebut.

Menurut Ahmad, lantaran perjalanan menuju sekolah harus menaiki perahu, para pelajar dari Desa Tanjung Tirto itu hampir setiap hari terlambat masuk sekolah di Desa Kali Pasir yang ada di seberangnya.

Dilansir dari , Rabu, pihak sekolah akhirnya memaklumi alasan keterlambatan para siswa dan mengambil kebijakan sendiri.

"Ya kami berikan dispensasi. Jadi, jam berapa pun mereka sampai tetap diizinkan masuk kelas," katanya.

Saat musim ujian tiba, pihak sekolah mengimbau agar para siswa menginap di rumah kerabat atau teman di daerah Desa Kali Pasir.

Hal itu pun ditaati para siswa.

Menurut Ahmad Saiful, pada ujian beberapa waktu lalu, hampir seluruh pelajar yang berasal dari Desa Tanjung Tirto menginap di Desa Kali Pasir agar tidak terlambat masuk ujian.

"Anak-anak banyak yang menginap di rumah temannya supaya tidak terlambat ujian," kata dia. 

Cerita dari Praja

Praja, salah satu pelajar asal Desa Tanjung Tirto, membenarkan bahwa hampir tiap hari ia selalu terlambat masuk sekolah akibat harus bergantian naik perahu menuju sekolah.

"Ya hampir setiap hari. Untungnya sekolah tidak apa-apa, tetap boleh masuk," kata dia.

Perjalanan panjang dan melelahkan menuju sekolah dilakoni Praja setiap hari. Praja pun bersiap akan kemungkinan terburuk dengan selalu membawa baju ganti.

Sehingga jika ia kembali terjatuh dari perahu seperti dulu, ia sudah ada baju ganti dan tetap bisa melanjutkan ke sekolah.

"Pokoknya pakaian selalu basah. Sepatu saya pakai di sekolah karena pasti kena air pas naik perahu," kata Praja menceritakan perjalanannya setiap hari.

Respons bupati Lampung Timur

Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah menjelaskan, bahwa bentang jembatan yang mencapai 100 meter membuat pemkab tidak sanggup membiayai proyek tersebut sendirian.

"Jembatan di lokasi itu panjangnya kurang lebih 100 meter. Kalau dikerjakan sendiri oleh pemerintah kabupaten, kami belum mampu karena keterbatasan anggaran," kata Ela dalam keterangan tertulis, Senin (2/2/2026).

Menurut Ela, anggaran untuk membangun jembatan permanen mencapai Rp 80 miliar. Sementara Pemkab Lampung Timur saat ini baru mampu mengalokasikan dana sekitar Rp 18,99 miliar.

Karena hal inilah, Ella sangat mengharap hadirnya dukungan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum.

Akhirnya, sebagai solusi jangka pendek, agar para pelajar tidak lagi menyeberang menggunakan perahu yang minim pengaman, pemkab mengusulkan pembangunan jembatan gantung.

"Sebagai bentuk afirmasi dan solusi sementara, sambil menunggu jembatan permanen, kami mengusulkan pembangunan jembatan gantung yang diberi nama Jembatan Merah Putih," kata Ela.

Ia mengklaim sudah ada titik terang untuk merealisasikan pembangunan tersebut pada triwulan pertama atau kedua tahun 2026 ini.

Selain jembatan, perbaikan tanggul sungai juga menjadi prioritas karena selama ini menjadi pemicu banjir di Kecamatan Purbolinggo dan Way Bungur.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang