Media Eropa Ragukan John Herdman Tangani Timnas Indonesia, Singgung Risiko Gagal di Asia
Belum ada pengumuman resmi, namun wacana penunjukan John Herdman sebagai pelatih Timnas Indonesia sudah lebih dulu menuai sorotan tajam dari luar negeri. Kritik bahkan datang dari media Eropa, yang menilai langkah PSSI ini berisiko mengulang kesalahan lama.
Media asal Swiss, The International Window, secara terbuka mempertanyakan kecocokan Herdman dengan karakter sepak bola Asia. Mereka menyebut PSSI berpotensi terjebak pada nama besar semata, tanpa kajian mendalam soal kebutuhan taktik dan tantangan spesifik di zona AFC.
Dalam laporannya, media itu menyebut rencana penunjukan Herdman sebagai potensi “blunder besar” berikutnya. Media tersebut bahkan menarik paralel dengan kegagalan era Patrick Kluivert, yang dinilai tidak berjalan sesuai ekspektasi meski datang dengan reputasi tinggi.
Calon pelatih Timnas Indonesia John Herdman
Menurut mereka, keberhasilan Herdman membawa Kanada lolos ke Piala Dunia 2022 tidak otomatis menjamin kesuksesan di Asia. Mereka menilai PSSI terlihat terlalu terpikat oleh rekam jejak internasional Herdman, tanpa mempertimbangkan secara serius kecocokan pendekatan taktiknya dengan kultur sepak bola Asia yang dikenal kompleks dan pragmatis.
Kritik utama diarahkan pada aspek kedalaman taktik dan kemampuan adaptasi. Herdman disebut lebih menonjol sebagai sosok motivator dibanding pelatih dengan pendekatan teknis mendalam. Adaptasi bahasa dan budaya juga dipandang sebagai tantangan besar saat harus menangani Skuad Garuda yang memiliki karakteristik unik.
“Herdman memang seorang motivator ulung yang mampu membakar semangat pemain. Namun, untuk urusan sentuhan akhir di level tertinggi Asia, kemampuannya masih sangat diragukan,” tulis The International Window, dikutip Rabu, 24 Desember 2025.
Pandangan tersebut memantik perdebatan di kalangan pengamat sepak bola Indonesia. Pertanyaannya mengerucut pada kebutuhan utama Timnas saat ini: apakah Indonesia memerlukan figur pembakar motivasi, atau justru pelatih dengan kapasitas taktik tinggi yang mampu membongkar pertahanan rapat tim-tim Timur Tengah dan Asia Timur.
Peringatan dari media Eropa itu juga dianggap relevan mengingat tantangan di zona AFC sangat berbeda dengan CONCACAF. Sejarah mencatat, perbedaan budaya dan hambatan komunikasi kerap menjadi faktor kegagalan pelatih asing di Indonesia.
Di sisi lain, masalah mentalitas pemain saat menghadapi tekanan besar juga kerap muncul. Dalam konteks ini, kehadiran figur seperti Herdman dinilai sebagian pihak dapat menjadi solusi cepat untuk memperbaiki aspek psikologis tim.
Kini, keputusan sepenuhnya berada di tangan PSSI. Apakah federasi berani melangkah dan membuktikan kritik media Swiss itu keliru, atau justru harus menghadapi konsekuensi dari pilihan yang kembali dipertanyakan sejak awal.