Pascabanjir, Warga Bener Meriah Jalan Kaki Berjam-jam Pikul Sembako dan Bawa Tabung Gas

Bener Meriah, Aceh, Pascabanjir, Warga Bener Meriah Jalan Kaki Berjam-jam Pikul Sembako dan Bawa Tabung Gas

Tiga pekan setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda Kabupaten Bener Meriah, Aceh, kondisi akses jalan utama hingga kini belum sepenuhnya pulih.

Akibatnya, ribuan warga dari Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah terpaksa berjalan kaki puluhan kilometer melewati jalan lintasan KKA (Bener Meriah–Aceh Utara) demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Perjalanan panjang itu bukan tentang petualangan, melainkan perjuangan untuk menghidupkan dapur keluarga di tengah keterbatasan akses pascabencana hidrometeorologi.

Pantauan di lapangan, Selasa (17/12/2025), menunjukkan jalan lintas KKA kini menjadi satu-satunya jalur harapan bagi ribuan warga di dataran tinggi Gayo.

Kampung Seni Antara (Kamp) mendadak menjelma sebagai pusat aktivitas ekonomi sekaligus jantung kehidupan masyarakat terdampak banjir bandang dan longsor.

Di lokasi tersebut, puluhan pedagang asal Lhokseumawe dan Aceh Utara menjajakan berbagai kebutuhan pokok masyarakat Gayo, mulai dari beras, gas elpiji, bahan bakar minyak (BBM), hingga ikan segar.

Namun, untuk mencapai tempat itu, warga harus berjalan kaki melewati puluhan kilometer jalan rusak yang dipenuhi lumpur dan bekas longsoran.

Saat melintas di jalan KKA, pemandangan pilu terlihat jelas.

Tak ada perbedaan status sosial. Pegawai kantoran, petani kopi, relawan, hingga ibu-ibu rumah tangga berjalan beriringan, berbagi jejak lumpur tanpa kendaraan, tanpa jabatan, dan tanpa jarak sosial.

Masing-masing sibuk dengan beban yang dipikul. Ada yang mengangkut beras, BBM, telur, hingga menggendong tabung gas elpiji di punggung.

Meski hujan gerimis dan jalan berlumpur membasahi tubuh, ketegaran tampak di wajah-wajah mereka.

Dari arah Bener Meriah, warga umumnya memikul hasil bumi untuk dijual ke wilayah Pase. Sementara dari Aceh Utara, warga Gayo membawa pulang beras, gas elpiji, dan ikan segar ke kampung halaman.

“Beli apa aja ini, Bu?” tanya seorang warga di perjalanan.

“Beli beras sama telur, Nak. Di kampung sudah habis, makanya kami jalan ke sini,” ujar Hamidah saat ditemui di tengah perjalanan.

Warga lain, Herman, mengaku harus menelan kekecewaan setelah bersusah payah memikul tabung gas.

“Sial kami hari ini. Capek-capek bawa tabung gas, ternyata di sana juga habis. Terpaksa beli sembako saja, tabungnya kami bawa pulang lagi. Takut hilang kalau dititip,” kata Herman.

Selain kebutuhan pokok, ratusan warga juga terlihat memikul hasil panen cabai untuk dijual. Setiap petani mengangkut beban seberat 23 hingga 35 kilogram.

Jarak jauh tetap ditempuh karena harga cabai di Lhokseumawe dan Aceh Utara jauh lebih tinggi dibandingkan di kampung halaman mereka.

Di tengah keterbatasan akses jalan akibat banjir bandang dan longsor di Bener Meriah, memikul hasil panen menjadi satu-satunya cara untuk memperoleh penghasilan dan memenuhi kebutuhan pokok keluarga.

Perbaikan jalan lintas KKA memang terus dilakukan, namun bagi warga, menunggu alat berat menyelesaikan pekerjaan bukanlah pilihan. Hasil panen terancam membusuk jika tidak segera dibawa ke pasar.

“Kalau kami tunggu jalan siap dibersihkan, cabai kami keburu busuk. Satu-satunya cara ya dipikul sampai ke Kampung Seni Antara. Di sana sudah ada mobil yang menunggu,” ujar Rian, salah satu pemuda sambil memikul karung cabai.

Warga berharap akses jalan segera normal agar distribusi hasil pertanian dan roda perekonomian masyarakat Bener Meriah kembali berjalan.

Perbaikan Jalan Belum Sempurna

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kabupaten Bener Meriah, Alfahmi, mengatakan bahwa perbaikan jalan lintas KKA mulai berangsur dilakukan.

“Beberapa titik longsor dan badan jalan yang putus memang sudah tersambung. Namun, masih ada beberapa titik yang belum sempurna dan membutuhkan material tambahan,” kata Alfahmi.

Ia menjelaskan, saat ini pemberlakuan buka tutup kendaraan masih diterapkan di jalan lintas KKA karena proses pengerjaan belum selesai.

“Untuk hari ini, di jalan KKA masih dilakukan buka tutup. Kami mohon masyarakat bersabar agar perbaikan jalan ini dapat kita sempurnakan,” ujarnya.

Bantuan Udara dan Evakuasi Warga

Di tengah keterisolasian wilayah, upaya penanganan bencana terus dilakukan. Pesawat Hercules C-130 A-1328 milik TNI Angkatan Udara (TNI AU) kembali melanjutkan operasi misi kemanusiaan di Provinsi Aceh, Rabu (17/12/2025).

Pesawat tersebut melakukan loading bantuan di Pos Pendamping Nasional Bencana Hidrometeorologi Provinsi Aceh, Shelter Galaxy, Mako Lanud Sultan Iskandar Muda (SIM).

Dalam misi ini, Hercules A-1328 menempuh rute SIM–Rembele–Malikulsaleh–Rembele–SIM dengan membawa 11,873 ton bantuan kemanusiaan.

Bantuan terdiri atas beras, obat-obatan, serta bantuan sosial dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) untuk warga terdampak bencana di wilayah pedalaman Aceh.

Selain menyalurkan bantuan, pesawat juga melakukan pengangkutan perlengkapan kerja PLN di Lanud Malikulsaleh. Peralatan tersebut digunakan untuk memperbaiki jaringan listrik di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah yang terdampak bencana hidrometeorologi.

Setibanya di Bandara Rembele, Hercules A-1328 juga mengevakuasi warga yang membutuhkan penanganan medis serta mengangkut hasil pertanian masyarakat Bener Meriah.

Hasil pertanian itu kemudian diserahkan kepada Dinas Pangan Provinsi Aceh untuk didistribusikan.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya pemerintah bersama TNI AU dalam menjaga stabilitas inflasi serta ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat Aceh pascabencana.

Anggaran HUT Dialihkan untuk Penanganan Bencana

Sementara itu, suasana menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-22 Kabupaten Bener Meriah tahun 2025 tampak sepi. Masyarakat masih diliputi duka akibat bencana, bahkan sejumlah wilayah hingga kini masih terisolasi.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bener Meriah memutuskan mengalihkan anggaran sebesar Rp 945 juta yang semula dialokasikan untuk peringatan HUT ke-22 menjadi dana penanganan kedaruratan bencana hidrometeorologi.

Keputusan tersebut disampaikan Bupati Bener Meriah, Ir. Tagore Abubakar, saat rapat bersama jajaran SKPK dan para reje di Pendopo Bupati, Selasa (16/12/2025).

Menurut Tagore, peringatan HUT yang semula dijadwalkan pada 18 Desember 2025 tetap dilaksanakan, namun secara sederhana dalam bentuk doa bersama dengan masyarakat dan jajaran Pemkab.

“Anggaran Rp 945 juta yang sebelumnya disiapkan untuk upacara, pacuan kuda, aneka perlombaan, resepsi, dan kegiatan lainnya, kami alihkan sepenuhnya untuk penanganan kedaruratan,” ujar Tagore.

Ia menegaskan, masa tanggap darurat bencana di Kabupaten Bener Meriah masih berlangsung hingga 23 Desember 2025.

“Dalam kondisi seperti saat ini, kita harus lebih banyak berdoa agar cobaan ini segera berlalu dan semuanya bisa kembali pulih dan normal. Kami berjanji akan berupaya semaksimal mungkin dan memprioritaskan kepentingan masyarakat di atas segalanya,” pungkas Tagore.

Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul Pilunya Warga Bener Meriah Jalan Kaki Berjam-jam Pangkul Tabung Gas dan Sekarung Beras

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini