Dulu Terkenal Bergaji Tinggi, Kini 6 Profesi Ini Justru Banyak Korban PHK dan Pengangguran

Ilustrasi Kerja
Ilustrasi Kerja

Perubahan teknologi dan kondisi ekonomi global telah mengubah peta dunia kerja dalam beberapa tahun terakhir. Jika dahulu ada sejumlah profesi yang dianggap sebagai jalur cepat menuju gaji besar dan masa depan cerah, kini situasinya tidak lagi sama. 

Beberapa pekerjaan yang pernah menjadi incaran banyak orang justru mulai menghadapi tantangan besar, mulai dari pemutusan hubungan kerja atau PHK hingga semakin ketatnya persaingan untuk mendapatkan pekerjaan baru.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu negara, melainkan dirasakan di berbagai belahan dunia. Banyak perusahaan besar memilih melakukan efisiensi, mengurangi jumlah karyawan, hingga memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mengerjakan tugas yang sebelumnya ditangani manusia. 

Akibatnya, sejumlah profesi bergaji tinggi yang dulu sangat diminati kini menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berikut beberapa profesi yang dulu terkenal memiliki penghasilan besar namun kini banyak terdampak PHK dan menjadi pengangguran, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, Minggu, 31 Mei 2026.

1. Software Engineer

Software engineer atau pengembang perangkat lunak selama bertahun tahun menjadi salah satu profesi dengan gaji paling menggiurkan. Banyak perusahaan teknologi bersedia membayar mahal untuk mendapatkan talenta terbaik di bidang ini.

Namun, kondisi berubah setelah berbagai perusahaan teknologi global melakukan restrukturisasi dan efisiensi. Ribuan pekerja teknologi kehilangan pekerjaan dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, perkembangan AI generatif membuat sebagian tugas pemrograman dasar dapat dilakukan lebih cepat dengan bantuan teknologi.

Meski kebutuhan terhadap software engineer masih tinggi, persaingan menjadi jauh lebih ketat dibandingkan beberapa tahun lalu. Perusahaan kini cenderung mencari kandidat yang memiliki kemampuan lebih luas dan mampu bekerja berdampingan dengan teknologi AI.

2. Programmer dan Developer Pemula

Jika software engineer berpengalaman masih memiliki peluang besar, tantangan justru lebih berat bagi programmer atau developer level pemula. Banyak perusahaan mulai mengurangi perekrutan untuk posisi junior karena tugas dasar seperti membuat kode sederhana, melakukan debugging ringan, hingga dokumentasi dapat dibantu oleh AI. 

Akibatnya, lulusan baru atau pencari kerja tanpa pengalaman sering kali kesulitan mendapatkan pekerjaan pertama mereka. Kondisi ini membuat jalur masuk ke industri teknologi menjadi lebih sulit dibandingkan sebelumnya. Kandidat dituntut memiliki portofolio yang kuat, sertifikasi tambahan, dan pemahaman AI agar lebih kompetitif.

3. Recruiter dan Talent Acquisition

Saat perusahaan sedang berkembang pesat, tim rekrutmen menjadi salah satu divisi yang paling sibuk. Banyak recruiter memperoleh penghasilan tinggi karena tingginya kebutuhan perekrutan karyawan baru. Namun ketika perusahaan mulai menahan ekspansi dan mengurangi jumlah karyawan, kebutuhan terhadap recruiter ikut menurun. 

Banyak perusahaan kini merekrut lebih sedikit pegawai dibandingkan masa sebelum gelombang efisiensi. Selain itu, sejumlah proses seleksi awal juga mulai dibantu oleh perangkat lunak dan AI, sehingga kebutuhan tenaga manusia untuk tahap tertentu menjadi berkurang.

4. Pekerja Perbankan dan Keuangan

Industri keuangan selama ini dikenal sebagai salah satu sektor dengan kompensasi tinggi. Posisi seperti analis, staf operasional, hingga berbagai pekerjaan pendukung di bank sering kali menawarkan gaji dan bonus yang menarik.

Namun digitalisasi dan pemanfaatan AI mulai mengubah lanskap industri ini. Banyak proses administrasi, pengolahan data, hingga analisis dasar kini dapat dilakukan secara otomatis. Beberapa lembaga keuangan besar juga mulai melakukan efisiensi untuk menekan biaya operasional. Akibatnya, sejumlah posisi yang sebelumnya dianggap aman kini menghadapi risiko pengurangan tenaga kerja.

5. Customer Service dan Staf Administrasi

Profesi customer service dan staf administrasi pernah menjadi pilihan karier yang cukup menjanjikan, terutama di perusahaan besar yang menawarkan penghasilan kompetitif dan jenjang karier yang jelas. Kini, chatbot berbasis AI dan sistem otomatisasi mampu menangani banyak pertanyaan pelanggan tanpa campur tangan manusia. Begitu pula dengan berbagai pekerjaan administratif yang semakin mudah dikerjakan menggunakan perangkat lunak modern. Meskipun tenaga manusia masih dibutuhkan untuk menangani kasus yang lebih kompleks, jumlah posisi yang tersedia cenderung berkurang dibandingkan beberapa tahun lalu.

6. Product Manager dan Pekerja Kantoran White Collar

Product manager merupakan salah satu profesi yang sempat menjadi primadona di industri teknologi. Selain bergaji tinggi, posisi ini juga memiliki peran strategis dalam pengembangan produk perusahaan. Namun tren efisiensi membuat banyak perusahaan mengevaluasi kembali struktur organisasinya. Beberapa tugas yang sebelumnya membutuhkan banyak koordinasi kini dapat dibantu oleh teknologi digital dan AI.

Selain product manager, berbagai pekerjaan kantoran atau white collar lainnya juga mulai menghadapi tekanan serupa. Perusahaan menginginkan produktivitas yang lebih tinggi dengan jumlah karyawan yang lebih sedikit.

Mengapa Profesi Bergaji Tinggi Kini Banyak Terdampak?

Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan perubahan ini terjadi. Pertama, perkembangan AI yang semakin cepat memungkinkan perusahaan mengotomatisasi berbagai pekerjaan rutin. Kedua, banyak perusahaan melakukan efisiensi setelah sebelumnya melakukan perekrutan besar besaran saat pandemi.

Ketiga, biaya tenaga kerja yang terus meningkat membuat perusahaan mencari cara untuk menekan pengeluaran. Keempat, kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil membuat banyak perusahaan lebih berhati hati dalam merekrut karyawan baru.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski demikian, bukan berarti profesi profesi tersebut akan hilang sepenuhnya. Justru kebutuhan terhadap tenaga kerja yang mampu memanfaatkan AI dan teknologi terbaru diperkirakan akan terus meningkat.

Karena itu, jika Anda bekerja di salah satu bidang tersebut, meningkatkan keterampilan dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi menjadi langkah penting agar tetap relevan di pasar kerja yang terus berubah. Kemampuan menggunakan AI, mengelola data, berpikir strategis, serta menyelesaikan masalah yang kompleks akan menjadi nilai tambah yang semakin dicari perusahaan di masa depan.