Top 8+ Perusahaan Raksasa Ini Pangkas Ribuan Karyawan karena AI, Pekerja Manusia Digantikan Robot
Transformasi kecerdasan buatan (AI) kini bukan lagi sekadar eksperimen teknologi. Di tahun 2026, AI telah menjadi strategi utama perusahaan-perusahaan besar dunia dalam memangkas biaya dan meningkatkan efisiensi.
Dampaknya, ribuan karyawan kehilangan pekerjaan, terutama pada posisi entry-level dan pekerjaan kantoran (white-collar).
Perubahan ini bahkan disebut sebagai awal dari 'kematian' pekerjaan entry-level. Sejumlah pemimpin perusahaan teknologi terang-terangan menyebut bahwa banyak peran manusia akan digantikan oleh sistem otomatis dan agen AI dalam waktu dekat.
CEO OpenAI, Sam Altman, pada 2025 menyatakan dirinya yakin bahwa AI akan menggantikan sejumlah besar peran layanan pelanggan yang saat ini ditangani manusia, baik melalui telepon maupun online.
Sementara itu, CEO Anthropic, Dario Amodei, bahkan memperingatkan bahwa AI dapat menghapus 50 persen dari seluruh pekerjaan white-collar tingkat pemula dalam lima tahun ke depan. Peringatan ini diperkuat oleh laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum, yang menyebut teller bank, asisten administrasi, staf layanan pelanggan, dan pramuniaga sebagai profesi yang paling rentan tergantikan AI.
Melansir dari Gulf News, Senin, 23 Februari 2026, berikut delapan perusahaan besar yang sudah melakukan pemangkasan tenaga kerja seiring adopsi AI.
1. Klarna
Perusahaan buy-now-pay-later ini menjadi contoh nyata restrukturisasi berbasis AI. Pada 2022, Klarna memiliki sekitar 7.000 karyawan. Kini jumlahnya sekitar 3.000 orang.
CEO Sebastian Siemiatkowski secara terbuka mengatakan jumlah tersebut diperkirakan turun di bawah 2.000 pada 2030. Pada 2024, Klarna meluncurkan asisten AI yang kini menangani beban kerja setara 700 karyawan penuh waktu, mulai dari pertanyaan pelanggan hingga pemrosesan pengembalian dana.
2. UPS
Pada awal 2025, UPS mengumumkan rencana pemangkasan 20.000 pekerjaan, salah satu pengurangan tenaga kerja terbesar dalam 116 tahun sejarah perusahaan. CEO Carol Tomé secara langsung menunjuk teknologi baru, termasuk pembelajaran mesin (machine learning), sebagai faktor yang memungkinkan efisiensi tersebut. Tugas seperti pembuatan proposal untuk tim penjualan yang sebelumnya membutuhkan tim ahli penetapan harga kini ditangani secara otomatis.
3. Duolingo
Aplikasi pembelajaran bahasa ini menyatakan diri sebagai perusahaan “AI-first” pada 2025. CEO Luis von Ahn dalam email internalnya menjelaskan bahwa AI akan menangani pembuatan konten, evaluasi kinerja, dan keputusan perekrutan.
Tak lama setelah itu, Duolingo mengakhiri kontrak 10 persen tenaga kontraktornya, dengan pengakuan bahwa AI kini mampu menangani tugas penerjemahan di lebih dari 100 bahasa yang tersedia di platform tersebut.
4. HP Inc.
HP mengonfirmasi akan memangkas antara 4.000 hingga 6.000 pekerjaan secara global hingga 2028. Mantan CEO Enrique Lores menyatakan pemangkasan tersebut akan berdampak pada tim pengembangan produk, operasional internal, dan layanan pelanggan, area yang kini semakin dioptimalkan dengan AI.
5. IBM
CEO Arvind Krishna mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa perusahaan telah menggantikan ratusan karyawan HR dengan AI sebagai bagian dari penyeimbangan ulang yang memangkas sekitar 8.000 posisi, terutama di divisi sumber daya manusia.
Pada 2023, ia juga mengatakan kepada Bloomberg bahwa sekitar 7.800 pekerjaan back-office akan digantikan oleh otomatisasi.
6. Amazon
Pada 2026, Amazon melakukan PHK terhadap 16.000 karyawan, menjadi gelombang besar kedua dalam tiga bulan. Sebelumnya, pada Oktober 2025, perusahaan telah mengumumkan pemangkasan 14.000 posisi korporat.
CEO Andy Jassy dalam memo 2025 menyatakan bahwa seiring peluncuran lebih banyak AI generatif dan agen otonom, perusahaan akan membutuhkan lebih sedikit orang dalam peran tertentu dan total jumlah karyawan diperkirakan menyusut seiring peningkatan efisiensi.
7. Salesforce
CEO Marc Benioff secara blak-blakan menyatakan dalam podcast 2024 terkait isu ini. “Saya mampu menyeimbangkan kembali jumlah karyawan di divisi dukungan saya,” katanya. “Saya menguranginya dari 9.000 orang menjadi sekitar 5.000 karena saya membutuhkan lebih sedikit orang."
Artinya, sekitar 4.000 posisi hilang karena agen AI kini menangani tugas layanan pelanggan dan prospek penjualan.
8. Dropbox
Pada 2024, Dropbox memangkas 20 persen tenaga kerja globalnya atau sekitar 528 karyawan. CEO Drew Houston menyatakan perusahaan memangkas peran yang dianggap berlebihan atau tidak memberikan hasil optimal sebagai bagian dari upaya membangun tim yang lebih ramping dengan fokus besar pada AI.
Restrukturisasi besar-besaran ini menunjukkan bahwa AI bukan sekadar alat bantu, melainkan mesin utama efisiensi perusahaan. Ke depan, keterampilan berbasis teknologi, pemahaman AI, serta kemampuan analitis dan kreatif akan menjadi nilai tambah utama.