Badai PHK Hantam Singapura, 7 Industri Rontok hingga Hampir 20.000 Pekerja Jadi Korban
Pasar tenaga kerja Singapura kembali menjadi sorotan setelah data terbaru menunjukkan dinamika yang tidak sepenuhnya positif. Di atas kertas, kondisi ketenagakerjaan negara tersebut masih terlihat stabil.
Tingkat pengangguran secara nasional tetap rendah, yakni 2 persen untuk keseluruhan pekerja dan masih di bawah 3 persen untuk warga lokal. Bahkan, Singapura mencatat penambahan hampir 30.000 lowongan kerja pada kuartal ketiga 2025 dan total hampir 50.000 lowongan kerja baru sepanjang tahun.
Namun situasi yang tampak aman ini menyimpan masalah besar ketika dianalisis lebih dalam berdasarkan sektor.
Laporan Economic Survey of Singapore Q3 2025 yang dirilis oleh Ministry of Trade and Industry (MTI) menegaskan bahwa pengalaman setiap pekerja sangat bergantung pada jenis pekerjaan yang mereka jalani. “Situasi pribadi Anda bergantung pada pekerjaan yang Anda jalani,” tulisnya sebagaimana dikutip dari Vulcanpost, Selasa, 25 November 2025.
Laporan mengungkap, ada tujuh sektor utama yang justru mengalami pemangkasan signifikan sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Totalnya mencapai 19.800 pekerjaan hilang, sebuah angka yang cukup besar mengingat sebagian besar sektor yang terdampak merupakan industri bernilai tinggi.
Sektor real estat menjadi salah satu yang paling terpukul akibat kebijakan penyejuk pasar properti yang diterapkan pemerintah untuk mengendalikan inflasi harga rumah. Sepanjang tahun 2025, sektor ini kehilangan 4.400 pekerja.
Ilustrasi warga di Singapura
Kondisi tidak jauh berbeda terjadi pada sektor teknologi atau Informasi dan Komunikasi yang menyusut sebanyak 4.100 pekerja. Hal ini menjadi ironi tersendiri karena sepanjang beberapa tahun terakhir, industri teknologi Singapura kerap dikabarkan mengalami kenaikan gaji dan permintaan talenta yang meningkat.
“Dalam praktiknya, sektor ini justru mengalami penurunan tenaga kerja yang cukup besar, lebih dari 4.000 orang tahun ini dan total 9.500 jika termasuk 2024, meskipun keluhan tentang kurangnya kandidat terus terdengar,” tulis laporan tersebut.
Sektor jasa profesional turut mengalami penurunan yang sama besar dengan hilangnya 4.100 pekerja. Kemudian perdagangan ritel menyusut 3.800 pekerja, perdagangan grosir berkurang 1.900 pekerja, sektor pendidikan kehilangan 900 orang, sementara layanan makanan dan minuman mengalami penyusutan 600 pekerja.
Mayoritas sektor yang menyusut tersebut merupakan industri bernilai tinggi yang membutuhkan tenaga kerja terampil dan biasanya menjadi pilihan utama warga lokal maupun ekspatriat profesional.
Yang menarik, tren sebaliknya justru terjadi pada sektor-sektor berupah rendah. MTI mencatat bahwa sebagian besar pertumbuhan lapangan kerja justru muncul dari industri seperti konstruksi dan layanan dasar. Tenaga kerja migran berbiaya rendah mendominasi peningkatan di sektor tersebut.
“Sebagian besar sektor yang mencatat pertumbuhan merupakan industri dengan skala upah di level bawah,” tulis MTI.
Dengan kata lain, meski jumlah pekerjaan bertambah secara total, kualitas pekerjaan yang tersedia mengalami penurunan karena pertumbuhan terbesar datang dari sektor non-profesional.
Situasi ini menimbulkan tekanan struktural bagi tenaga kerja lokal, terutama mereka yang terbiasa bekerja di sektor bernilai tinggi seperti IT, jasa profesional, atau perdagangan. Sektor teknologi adalah salah satu yang paling menonjol dalam perubahan ini.
Padahal, laporan sebelumnya sempat menunjukkan bahwa gaji tenaga kerja teknologi meningkat dan kebutuhan talenta digital makin besar, terutama di bidang kecerdasan buatan dan data. Namun MTI juga menyoroti adanya pergeseran besar kebutuhan keterampilan.
Banyak perusahaan yang kini mencari kemampuan tingkat lanjut seperti AI, pembelajaran mesin, hingga spesialis data tingkat tinggi, sementara beberapa fungsi teknis lama mulai ditinggalkan.
Meski demikian, ada sedikit harapan bagi para pekerja teknologi. Laporan tersebut mencatat bahwa banyak perusahaan non-teknologi, mulai dari perbankan, kesehatan, logistik hingga sektor publik, sedang mempercepat transformasi digital dan membutuhkan talenta IT. Perpindahan lintas sektor ini tampaknya menjadi jalur penyelamatan bagi sebagian tenaga kerja yang terdampak pemangkasan.