Eks Dirut ASDP Ira Puspadewi: Allah Tidak Pernah Meninggalkan Saya

Mantan Dirut ASDP Ira Puspadewi menghirup udara bebas
Mantan Dirut ASDP Ira Puspadewi menghirup udara bebas

 Mantan Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry periode 2017–2024, Ira Puspadewi, mengungkap perjalanan batinnya selama menjalani penahanan dalam kasus dugaan korupsi yang kini telah ia dapatkan rehabilitasi dari Presiden Prabowo Subianto.

Dalam kesaksiannya, Ira menggambarkan bagaimana kesunyian di sel isolasi membawanya pada titik balik spiritual yang ia sebut sebagai campur tangan Allah.

Ira mengisahkan hari-hari awal di Rutan KPK yang harus ia lewati dalam ruang pengasingan berukuran sekitar 3x3 meter. Tanpa jendela, tanpa teman, dan dalam kegelapan, ia mengaku tidak memiliki tempat lain untuk bersandar selain kepada Tuhan.

"Selalu ya kalau seperti ini kita mau lari ke mana? Kalau dalam kamar isolasi gelap, enggak ada jendela, kurang lebih ukurannya 3x3 meter, sendirian selama tiga hari, tidak ada teman, mau ke mana lagi? Cuma ngobrolnya sama Tuhan," ujarnya.

Tiga terdakwa kasus dugaan korupsi dalam proses kerja sama usaha dan akuisisi PT Jembatan Nusantara oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) pada tahun 2019–2022.

Dalam momen itu, ia membaca sebuah buku karya Helwa — yang menurutnya memberikan pemahaman baru tentang rasa sakit yang sedang ia jalani.

"Dia sampaikan bahwa satu, saya merasa saya kena fitnah. Ternyata dalam bahasa Arab, kata fitnah itu root word-nya adalah Fatana. Fatana itu kurang lebih intinya karena bukunya berbahasa Inggris) itu to burn gold to purify, sehingga dikeluarkan dari elemen-elemen yang bukan emas,"  tuturnya.

"Jadi saya memahami, Oh, iya. Allah mungkin sedang membakar saya dengan pain (rasa sakit) ini, saya mudah-mudahan menjadi emas yang lebih murni. Itu satu yang menghibur saya,"

Namun pelajaran spiritual terbesarnya datang ketika ia membuka Al-Qur’an dan membaca Surat Ad-Duha. "Teman-teman nanti lihat lagi, tapi kurang lebih artinya: 'Aku tidak melupakanmu dan Aku tidak membencimu. Bukankah kamu dulu yatim dan Aku beri kamu rumah?'"ungkap Ira.

Ayat itu menggetarkan dirinya karena sangat dekat dengan perjalanan hidup yang ia lalui sejak kecil.

"Saya kebetulan yatim, ayah saya meninggal saat saya umur 7 tahun dan kami betul-betul tidak punya rumah sampai saya dewasa. Ibu punya rumah setelah kami bisa membelikan Ibu saya rumah," lanjutnya.

Surat itu membuatnya tersadar bahwa dirinya tidak pernah benar-benar ditinggalkan.

"Kata Tuhan, 'Saya tidak meninggalkan kamu. Kamu dulu yatim, Aku berikan tempat bernaung. You were poor, I gave you wealth. You were lost, I gave you direction.’ Di surat itu kurang lebih seperti itu. Baru dari situ saya ada turning point."

Menurut Ira, pergulatan antara harapan dan keputusasaan justru merupakan ujian tertinggi bagi manusia. Ia mengaku belajar bahwa manusia tidak bisa memaksakan rencana kepada Tuhan — bahkan dalam situasi yang tampak mustahil.

"Tapi kemudian dengan kejadian ini, saya diajarkan luar biasa, jangan pernah mendikte Allah apa jalan yang terbaik. Karena kita pikir jalannya harusnya seperti ini, Tuhan. Tapi ternyata Tuhan mengasih melalui Presiden, rehabilitasi," pungkasnya.