Terungkap! Ternyata Ini yang Bikin PSSI Susah Dapatkan Pelatih Baru Timnas Indonesia

Ketua Umum PSSI Erick Thohir
Ketua Umum PSSI Erick Thohir

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan bahwa proses pencarian pelatih baru Timnas Indonesia tidak boleh dilakukan secara tergesa. Ia menilai, situasi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir membuat federasi harus lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan.

Erick menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah memulihkan kembali kepercayaan dunia sepak bola terhadap Indonesia. Dua insiden yang sempat mencoreng reputasi sepak bola nasional membuat proses pencarian pelatih harus dilakukan dengan penuh pertimbangan.

“Yang pasti, tidak mudah dan tidak bisa buru-buru mencari pelatih karena kondisi ini. Saya harus sosialisasi ke sepak bola internasional tentang apa yang sebenarnya terjadi," tegas Erick Thohir pada Oktober lalu, dikutip dari laman resmi PSSI.

Patrick Kluivert, eks pelatih Timnas Indonesia

Ia juga menambahkan pentingnya mengembalikan kepercayaan komunitas sepak bola global. "dan berusaha meraih kembali kepercayaan komunitas sepak bola dunia terhadap kita,” tandasnya.

Insiden pertama, kata Erick, berkaitan dengan berakhirnya kerja sama lebih cepat antara PSSI dan Patrick Kluivert beserta tim pelatihnya. Keputusan tersebut memicu kritik luas di media sosial, terutama setelah kegagalan Timnas Indonesia di babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.

Insiden kedua muncul akibat maraknya pemberitaan hoaks di sejumlah media mengenai keluarnya Jepang, Korea, dan Irak dari AFC. Meski kabar tersebut tidak benar, penyebarannya cukup luas hingga menjadi sorotan pejabat AFC.

Erick menjelaskan bahwa isu tersebut bahkan dibahas dalam pertemuan delegasi Indonesia yang dipimpin Sekjen PSSI, Yunus Nusi, saat menghadiri AFC Awards di Riyadh, Arab Saudi, beberapa waktu lalu.

Yunus mengungkapkan bahwa delegasi Indonesia dicecar banyak pertanyaan dari anggota AFC terkait kevalidan berita tersebut.

“Teman-teman media ingat, AFC media sangat memantau pemberitaan di tanah air. Kami di Riyadh dicecar oleh anggota AFC dan media mereka soal kevalidan berita itu," jelas Yunus.

"Mereka heran dan mempertanyakan sumbernya, karena dinilai media di Indonesia menyebarkan berita tidak benar,” ungkapnya.

Erick menilai dua kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa reputasi sepak bola tidak hanya ditentukan oleh prestasi di lapangan, melainkan juga oleh integritas dan komunikasi yang bertanggung jawab di luar lapangan.

“Ini pelajaran buat kita semua. Kita harus hati-hati. Kepercayaan internasional tidak datang begitu saja. Harus dijaga dan dibangun," tegas Erick.

“Karena itu, saya tidak mau asal cepat menunjuk pelatih. Kita harus bangun dulu kembali kepercayaan itu secara bertahap untuk bisa dapatkan pelatih Timnas,” sambungnya.