Selain Hari Pahlawan, 10 November Juga Diperingati sebagai Hari Apa? Simak Sejarahnya

Hari Ganefo, hari pahlawan 10 november, 10 November memperingati hari apa, hari ganefo, hari ganefo itu apa, Selain Hari Pahlawan, 10 November Juga Diperingati sebagai Hari Apa? Simak Sejarahnya

 Setiap tanggal 10 November, masyarakat Indonesia memperingati dua momentum penting: Hari Pahlawan dan Hari Ganefo.

Keduanya memiliki makna sejarah yang mendalam, tidak hanya bagi bangsa Indonesia tetapi juga bagi dunia internasional, khususnya negara-negara berkembang.

Hari Pahlawan merupakan peringatan nasional untuk mengenang jasa para pejuang yang gugur dalam pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.

Pertempuran ini menjadi simbol perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari kekuatan kolonial yang ingin kembali menguasai Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Pertempuran Surabaya melibatkan pasukan Indonesia melawan tentara sekutu yang didukung oleh Belanda melalui Nederlands Indie Civil Administration (NICA).

Selama tiga minggu, pertempuran berlangsung sengit dan menewaskan sekitar 20.000 rakyat Surabaya, sebagian besar merupakan warga sipil. Sekitar 150.000 penduduk lainnya terpaksa mengungsi meninggalkan kota.

Untuk menghormati pengorbanan luar biasa tersebut, Presiden Soekarno menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959.

Tahun 2025 ini, tema yang diangkat adalah "Pahlawanku Teladanku", sebagai ajakan untuk meneladani semangat juang para pahlawan dalam kehidupan sehari-hari.

Apa Itu Hari Ganefo?

Hari Ganefo, hari pahlawan 10 november, 10 November memperingati hari apa, hari ganefo, hari ganefo itu apa, Selain Hari Pahlawan, 10 November Juga Diperingati sebagai Hari Apa? Simak Sejarahnya

Potret obor GANEFO dibawa pada GANEFO I di Jakarta pada 1963 di Stadion GBK

Menariknya, tanggal 10 November juga diperingati sebagai Hari Ganefo. Ganefo merupakan singkatan dari Games of the New Emerging Forces, sebuah pesta olahraga internasional yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno pada akhir tahun 1962.

Ganefo dianggap sebagai bentuk perlawanan politik terhadap dominasi Barat dalam dunia olahraga.

Gagasan ini lahir setelah Indonesia mendapat sanksi dari Komite Olimpiade Internasional (IOC) karena tidak mengundang Israel dan Taiwan pada Asian Games IV tahun 1962 di Jakarta.

Langkah tersebut diambil pemerintah Indonesia untuk menghormati Republik Rakyat Tiongkok dan negara-negara Arab yang saat itu menentang keberadaan dua negara tersebut.

Akibat keputusan itu, IOC menangguhkan keanggotaan Indonesia dan melarangnya ikut serta dalam Olimpiade Musim Panas 1964 di Tokyo.

Menanggapi hal ini, Presiden Soekarno menyatakan bahwa Federasi Asian Games sudah tidak lagi mencerminkan semangat anti-imperialisme. Dari situlah, ide Ganefo lahir.

Bagaimana sejarah penyelenggaraan Ganefo pertama?

Ganefo pertama kali digelar pada 10 November 1963 di Jakarta dan berlangsung hingga 22 November 1963.

Acara ini diikuti sekitar 2.700 atlet dari 51 negara berkembang yang berasal dari Asia, Afrika, Amerika Latin, serta Eropa Timur.

Dalam sambutannya, Presiden Soekarno menegaskan bahwa Ganefo bukan sekadar ajang olahraga, tetapi juga simbol persatuan dan solidaritas negara-negara baru yang sedang berjuang membangun diri di tengah tekanan politik global.

Ia menilai Ganefo sebagai wadah untuk melawan imperialisme Barat di bidang olahraga dan menegakkan kedaulatan bangsa-bangsa berkembang.

Pesta olahraga ini menjadi tonggak sejarah penting bagi politik luar negeri Indonesia di era Soekarno, yang berupaya memposisikan Indonesia sebagai pemimpin negara-negara baru merdeka.

Melalui Ganefo, Soekarno ingin menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi sarana perjuangan ideologis, bukan hanya kompetisi prestasi.

Meski Ganefo tidak lagi digelar setelah perubahan politik di Indonesia pada akhir 1960-an, semangat di baliknya tetap relevan hingga kini.

Ganefo mengajarkan pentingnya kemandirian dan solidaritas antarnegara berkembang dalam melawan ketimpangan global.

Bagi bangsa Indonesia, memperingati Hari Ganefo bersamaan dengan Hari Pahlawan menjadi momen reflektif.

Keduanya mengandung semangat perjuangan, keberanian, dan nasionalisme yang sama: satu di medan perang, satu lagi di gelanggang olahraga dunia.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "".

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.